TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Sebuah bangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Tapanuli Tengah yang sedang dalam proses pembangunan mengalami pondasi roboh.
Kopdes Merah Putih yang roboh di Tapanuli Tengah ini tepatnya di Desa Simpang Labingke, Kecamatan Sirandorung. Anggaran pembangunannya senilai Rp 1,6 miliar.
Dari amatan di lokasi, proses pembangunan Kopdes Merah Putih Desa Simpang Labingke masih pada tahap awal. Pondasi setinggi lebih satu meter terlihat roboh.
Ketua Kopdes Merah Putih Simpang Labingke, Soaloan Tumanggor akhirnya buka suara atas kejadian bangunan roboh tersebut.
“Kalau pembangunan anggaran sekitar Rp1,6 miliar. Kami sebagai pengurus sama sekali tidak dilibatkan,” ujar Soaloan, Jumat (28/8/2026).
Dari penjelasan Saoloan, pihaknya sempat mempertanyakan bangunan Kopdes yang kini sudah roboh hingga para pihak ketiga dari PT Agrinas Pangan Nusantara.
"Sudah pernah konfirmasi. Mereka bilang ada pihak ketiga dengan pengawasan anggota pihak TNI dan pemborong,” katanya.
Sepengetahun Saoloan, Kopdes Merah Putih di Desa Simpang Labingke dimulai sejak April 2026 dan bisa disebut sudah terlambat sesuai rencana pembangunan.
Menurutnya, robohnya banguan Kopdes tersebut dipengaruhi cuaca hujan yang begitu tinggi, sehingga tanah untuk menopang pondasi tak kuat lagi menahan.
"Namun, tidak luput juga dari masalah struktur bangunan yang kurang sesuai SOP. Itu menurut pandangan saya. Mungkin karena itu pembangunan ini sementara tidak dilanjutkan,” jelasnya.
Soaloan menegaskan, keterlibatan pengurus Kopdes selama proses pembangunan sangat terbatas. Pihaknya hanya diminta menyiapkan sejumlah dokumen administrasi.
“Kami hanya menyediakan tempat berkas seperti MoU, IMB dan sebagainya yang kami siapkan. Pernah kami sampaikan supaya kami dilibatkan sebagai pengurus, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Bangunan Kopdes ini tiba-tiba sudah dibangun seperti itu,” katanya dengan nada kecewa.
Ia menambahkan, setelah pihaknya menunjukkan lahan dan menyelesaikan sejumlah dokumen, komunikasi dengan pengurus koperasi praktis tidak berlanjut.
“Setelah kami menunjukkan lahan dan melakukan berkas, kami tidak ada lagi berhubungan atau dilibatkan. Kami sudah pernah menyampaikan agar kami dilibatkan sebagai pengurus, tetapi tidak ada jawaban sama sekali,” ujarnya.
Amiruddin Hasugian, warga Lorong Enam, mengaku keberatan dan kecewa melihat kondisi bangunan Kopdes Merah Putih yang mengalami kerusakan.
“Kami sangat kecewa melihat pembangunan Kopdes kami di Desa Simpang Labingke ini ambruk. Kami keberatan,” ujar Amiruddin.
Menurut Amiruddin, masyarakat setempat juga tidak mengetahui secara jelas proses awal pembangunan, termasuk kegiatan peletakan batu pertama.
Ia juga mempertanyakan keterlibatan masyarakat lokal dalam proses pengerjaan proyek tersebut.
“Mereka saya lihat semena-mena saja bekerja. Kami masyarakat tidak dilibatkan. Kami lihat juga yang bekerja hanya aparat,” ungkapnya.
Padahal, kata Amiruddin, banyak warga setempat yang membutuhkan pekerjaan dan berharap dapat dilibatkan dalam proses pembangunan.
“Kami dari masyarakat banyak yang membutuhkan pekerjaan. Banyak masyarakat berharap dilibatkan bekerja dalam progres pengerjaan Gedung Kopdes itu. Kami juga sangat keberatan karena apa yang kami lihat kondisinya sudah ambruk dan tidak sesuai dengan yang kami harapkan,” tegasnya.
Persoalan pembangunan Kopdes Merah Putih tersebut kini menjadi perhatian pengurus koperasi dan masyarakat setempat. Mereka berharap pihak terkait memberikan penjelasan secara terbuka mengenai besaran anggaran, RAB, pihak pelaksana, pengawasan, progres pekerjaan, serta penyebab kerusakan bangunan.
(*/Tribun-medan.com)