TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang, Muharlion, merespons keluhan warga terkait pelayanan air minum PDAM yang hingga kini masih mengalami gangguan pascabencana awal Agustus 2026.
Muharlion mengatakan, keluhan masyarakat mengenai pelayanan air PDAM tersebut sudah banyak disampaikan kepada DPRD Kota Padang.
Ia meminta PDAM mempercepat proses perbaikan agar masyarakat tidak terlalu lama mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
"Berkaitan dengan keluhan masyarakat terhadap pelayanan air minum, memang kita sudah banyak yang menyampaikan kepada kita," kata Muharlion kepada TribunPadang.com usai menjadi penceramah di RW X, Kelurahan Lubuk Buaya, Kota Padang, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, DPRD memahami bahwa PDAM saat ini masih melakukan perbaikan dan rehabilitasi terhadap jaringan yang terdampak bencana.
Baca juga: Kasus Internet Starlink Yogi Masuk Pengadilan, Bupati Mentawai Gandeng Komdigi Bantu Urus Izin
Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat kebutuhan dasar masyarakat terabaikan dalam waktu yang terlalu lama.
"Tentu satu sisi PDAM kan menyampaikan dalam proses perbaikan, ini dalam proses rehabilitasi pascabencana dan juga dalam hal lain. Tentu harapan kita yang pertama adalah proses ini dilakukan percepatan," ujarnya.
Selain mempercepat perbaikan, Muharlion meminta PDAM menyampaikan perkembangan kondisi pelayanan air secara terbuka kepada masyarakat.
Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui penyebab gangguan, progres perbaikan, hingga perkiraan kapan pelayanan air dapat kembali normal.
"Yang kedua sampaikan secara transparan kepada masyarakat," katanya.
Muharlion menilai keterbukaan informasi penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa sedang terjadi perbaikan, tetapi juga memahami langkah yang sedang dilakukan PDAM untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Terlebih, gangguan pasokan air disebut telah berlangsung selama beberapa pekan di sejumlah kawasan.
Baca juga: Bupati Mentawai Diklaim Siap Jamin Yogi, PH Minta Kasus Starlink Selesai Lewat Jalur Administratif
Muharlion juga membuka kemungkinan adanya kompensasi bagi masyarakat yang terdampak gangguan pelayanan air PDAM.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu dibahas oleh PDAM dan pemerintah daerah karena masyarakat tetap harus mendapatkan pelayanan yang menjadi kebutuhan dasar.
"Yang ketiga mungkin kalau ada kompensasi terhadap masyarakat ya kita berikan," ujarnya.
Ia mengatakan, DPRD tidak ingin persoalan pelayanan publik semata-mata dilihat dari sisi keuntungan perusahaan daerah.
Menurut Muharlion, jika diperlukan, pemerintah harus mengutamakan pelayanan kepada masyarakat meskipun terdapat konsekuensi terhadap penerimaan perusahaan.
Baca juga: Hujan Lebat Mengintai Sejumlah Wilayah Sumbar, BMKG Ingatkan Petir dan Angin Kencang
"Karena bagi kita di DPRD hari ini kita meyakini bahwa tentu pemerintah tidak mengharapkan mungkin kalau memang dividen kita berkurang. Tentu kita berikan yang penting adalah pelayanan buat masyarakat, adanya perusahaan air minum kan untuk itu," katanya.
Ia menegaskan, persoalan kompensasi tersebut perlu menjadi perhatian PDAM.
"Kompensasi atau seperti apa, ini harus dilakukan oleh PDAM," ujarnya.
Muharlion menjelaskan, tindak lanjut persoalan tersebut nantinya juga berkaitan dengan Kuasa Pemilik Modal (KPM), yakni Wali Kota Padang.
Jika persoalan kompensasi maupun kebijakan lain membutuhkan pembahasan bersama DPRD, pihaknya menyatakan siap membahasnya.
Baca juga: Pabrik Beli Rp 3.942 per Kg, Cek Harga TBS Sawit Pasaman Barat Terbaru
"Kemudian nanti muaranya kepada KPM (Kuasa Pemilik Modal) yaitu Wali Kota Padang. Nanti kalau memang perlu dibahas di DPRD, kita sama-sama bahas," jelasnya.
Saat ditanya apakah DPRD akan mendorong adanya kompensasi bagi warga terdampak, Muharlion memberikan jawaban tegas.
"Ya, karena memang itu sudah menjadi aspirasi masyarakat," katanya.
Hal ini disampaikan oleh Humas PDAM Padang, Adhie Zein saat dikonfirmasi TribunPadang.com, Sabtu (29/8/2026).
Baca juga: Air PDAM Terganggu di Lima Daerah Padang, Pipa IPA Palukahan Bocor
Kata dia, sejumlah daerah di pusat Kota Padang memang masih kesulitan mengakses air PDAM lantaran masih mati pascabencana awal Agustus 2026.
Mulai dari Sawahan, Pasopati dan sekitarnya, air PDAM masih belum lancar seperti semula.
"Untuk itu, kami selalu berupaya untuk mengalirkan air secara bergiliran di Sawahan, Pasopati dan Sekitarnya," ucapnya.
Adhie meminta masyarakat dapat menampung air ke dalam wadah sebanyak mungkin, saat kran air diaktifkan.
Namun apabila masyarakat tidak memiliki pasokan air sama sekali, pihak PDAM bakal mendistribusikan mobil tangki air untuk diberikan kepada warga.
"Kalau tidak ada air sama sekali, kita akan distribusikan mobil tangki air secara gratis kepada warga dengan menghubungi WA Center: 0811669123," jelasnya.
Baca juga: Agenda Wawako Padang Hari Ini, Mulai Ceramah Subuh, Gebyar Pajak hingga Maulid Nabi
Saat ini perbaikan tengah dilakukan, pihaknya meminta masyarakat tetap bersabar hingga pengerjaan selesai.
Ia menargetkan perbaikan pipa pengaliran air dapat dirampungkan dalam minggu keempat Agustus 2026.
Dengan begitu, masyarakat yang terdampak bisa mendapatkan akses air bersih seperti sediakala.
"Kita targetkan minggu ini bisa rampung. Karena selain kualitas air baku yg menurun pascabencana, kami juga sedang melakukan perbaikan terhadap pengolahan air," tambahnya.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) membenarkan terkait air yang mati dan sempat keruh pasca sejumlah warga Sawahan Dalam IV, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang mengeluhkan kondisi tersebut.
Melalui Humas PDAM Padang, Adhie Zein, air PDAM memang masih hidup-mati di Sawahan Dalam IV, Kelurahan Sawahan sampai saat ini.
Baca juga: Warga Sawahan Padang Minta Tagihan PDAM Agustus Digratiskan, Imbas Air Tak Mengalir 3 Pekan
Menurut dia, hal itu disebabkan lantaran masih dilakukan perbaikan di beberapa titik pengaliran air PDAM.
"Air memang masih hidup-mati di Sawahan Dalam IV, itu terjadi karena kami masih melakukan perbaikan pascabencana 03 Agustus 2026 lalu," ucapnya," Sabtu (29/8/2026).
Sementara untuk air PDAM yang sempat keruh, Adhie Zein juga membenarkan. Kata dia, pemicu air keruh akibat PAM PDAM terdampak banjir bandang awal Agustus 2026 lalu.
Sehingga banyak kerusakan yang terjadi hingga bahan baku air juga dipenuhi lumpur banjir bandang.
Akan tetapi untuk saat ini, pihak PDAM memastikan kualitas air mulai membaik dan tidak lagi keruh.
"Benar, karena bencana awal Agustus 2026, PAM PDAM terdampak. Tapi saat ini, kualitas air mulai berangsur membaik," tegasnya.
Baca juga: 40 Tahun Jualan Nasi di Depan RSUP M Djamil, Lapak Muklis Dibongkar: Berharap Solusi Pemko Padang
Ia meminta masyarakat tetap bersabar, lantaran pihaknya masih melakukan perbaikan di sejumlah titik.
Apabila perbaikan telah selesai dilakukan, air PDAN akan mengalir secara lancar di Sawahan Dalam IV dan sekitarnya yang masih hidup-mati.
"Untuk saat ini kepada masyarakat harap bersabar, perbaikan masih kita lakukan dibeberapa titik, makanya air masih hidup-mati," tambahnya.
Sejumlah warga di Sawahan Dalam IV, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, mengaku air PDAM mulai hidup-mati sejak terjadi bencana pada 03 Agustus 2026.
Pascabencana terjadi, kondisi air PDAM tidak lagi stabil. Hingga akhir Agustus 2026, warga terus mengeluh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu warga yang ditemui TribunPadang.com bernama Yan Marta, menyebut bahwa pasca bencana awal Agustus 2026 lalu, air di rumahnya mulai susah digunakan.
Kata dia, air PDAM sempat keruh dan bahkan tak bisa digunakan untuk memasak hingga untuk kebutuhan mandi.
"Sejak bencana 03 Agustus 2026, air PDAM ini mulai keruh dan tidak bisa untuk memasak. Tapi kini, selalu hidup-mati, kami sangat kesusahan," ucapnya, Sabtu (29/8/2026).
Baca juga: Awalnya Cuma FOMO dan Demi Konten Medsos, Ujung-ujungnya Ketagihan Jogging Sore di Pantai Padang
Ia menjelaskan, air PDAM hanya dapat digunakan saat pukul 22.00 WIB hingga 01.00 WIB dini hari.
Saat waktu tersebut, kran air di rumahnya mulai aktif atau berfungsi. Sehingga ia dapat menampung air ke dalam ember dan baskom.
"Tapi mulai pukul 04.00 WIB, kran air kembali mati hingga malam harinya lagi. Jadi air yang bisa digunakan, hanya yang berhasil ditampung ketika kran hidup," jelasnya.
Namun hampir selama tiga minggu terakhir, pasokan air yang ditampung tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Solusi yang ia gunakan selama ini, yakni dengan membeli air galon dalam jumlah banyak, hingga memanfaatkan air dari masjid terdekat di Sawahan Dalam IV.
"Saya harus membeli galon dalam jumlah banyak, biasanya untuk minum cukup satu galon air, tapi sejak air PDAM hidup-mati, bisa habis hingga empat galon. Kadang menanak nasi pakai galon, hingga buar air kecil," tambahnya.
Baca juga: UNP Tingkatkan Kesiapan Kerja Siswa SMKN 1 Kinali Lewat Trainer Teknologi Otomotif
Warga Sawahan Dalam IV, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, mengeluhkan fasilitas air PDAM, Sabtu 29/8/2026).
Sejumlah warga mengaku air PDAM selalu tidak keluar dari kran pada siang hari dan membuat mereka kesusahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu warga, Habil, mengatakan kondisi air PDAM yang selalu mati sudah terjadi sejak tiga minggu pada Bulan Agustus 2026.
Akibatnya, ia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan. Mulai dari memasak, mencuci, hingga buang air besar dan kecil.
"Sudah tiga minggu ini air selalu mati, dari pagi hingga malam tidak hidup-hidup. Biasanya mulai hidup pukul 22.00 WIB, sampai pukul 04.00 WIB dini hari," ucapnya.
Kata dia, untuk memenuhi kebutuhan air untuk keesokan harinya, Habil harus menampung air ke dalam baskom berukuran besar saat kran air hidup.
Hanya saja, pasokan air yang ditampung tak mampu bertahan hingga kran air hidup kembali.
"Terkadang sudah ditampung banyak, tapi selalu tidak cukup sampai kran air hidup lagi. Mau tidak mau, kadang harus menggunakan air galon untuk buang air," pungkasnya.
Sama halnya, warga lainnya bernama Veriani mengaku sangat kesusahan dengan air PDAM yang selalu mati setiap harinya.
Baca juga: Hadiri Maulid Nabi di Koto Tangah, Ketua DPRD Padang Minta Jadikan Keteladanan Rasul Pedoman Hidup
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa memanfaatkan air dari masjid terdekat di Sawahan Dalam IV.
"Sudah lama seperti ini, kurang lebih tiga minggu. Kadang saya harus ke masjid untuk mengambil air," jelasnya.
Tak hanya itu, Veriani harus meminta anak-anaknya mandi di masjid. Sebab ketika pagi hingga malam hari, air selalu mati di daerahnya.
Sedangkan untuk kebutuhan memasak dan yang lainnya, ia terpaksa menggunakan air galon setiap harinya.
"Kalau masak, pakai air galon, begitu juga dengan mencuci piring. Banyak uang habis membeli air galon, sesekali ke masjid," tambahnya.
Warga lainnya yang bernasib sama, Novia Harida, mengatakan sangat kesusahan akibat air PDAM yang selalu mati di daerahnya.
Ia tidak mengetahui secara pasti mengapa di Sawahan Dalam IV kondisi tersebut terjadi. Bahkan kurang lebih tiga minggu, belum ada upaya dari pihak terkait.
"Sampai saat ini belum juga diperbaiki, saya tidak tahu masalahnya. Kami sebagai warga sangat kesusahan akibat air mati ini," tegasnya. (*)