TRIBUNGORONTALO.COM – Suasana berbeda terlihat di Masjid At-Taqwa, Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Minggu (30/8/2026) sejak pagi.
Ratusan warga mulai memadati lingkungan masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Dari kejauhan, kemeriahan perayaan sudah terlihat dari deretan tolangga yang berdiri dan menghiasi halaman hingga bagian dalam masjid.
Tolangga-tolangga tersebut tampak menjulang dengan beragam bentuk dan hiasan.
Di setiap sisinya, kue tradisional Gorontalo dikemas dalam plastik transparan, kemudian disusun dan digantung dengan rapi.
Kue kolombengi menjadi salah satu yang paling mudah terlihat.
Warna cokelat keemasan kue tradisional itu berpadu dengan aneka hiasan yang memenuhi tolangga.
Ketika terkena cahaya matahari pagi, plastik transparan yang membungkus kue tampak berkilau.
Aroma makanan dari rumah-rumah warga juga sesekali tercium di sekitar masjid.
Suara warga yang berbincang, anak-anak yang berlarian, hingga lantunan zikir (Dikili) membuat suasana Desa Bongo terasa semakin hidup.
Memasuki waktu menjelang siang, warga yang datang semakin ramai. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan kemeriahan tolangga, tetapi juga mengikuti rangkaian perayaan Maulid Nabi yang dipusatkan di Masjid At-Taqwa.
Tahun ini, pelaksanaan Maulid Nabi di Desa Bongo dikemas dalam bentuk festival.
Baca juga: Kesan Warga Buol Saksikan Festival Walima di Gorontalo: Nostalgia Hari Lebaran
Namun, tidak ada karnaval seperti pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.
Warga memilih memusatkan seluruh rangkaian kegiatan di lingkungan masjid. Sebanyak 119 tolangga ditampilkan dalam perayaan tersebut.
Sementara itu, peserta dikili tercatat sebanyak 96 orang. Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Bongo, Ramli Ibrahim (39), mengatakan seluruh tolangga yang ditampilkan merupakan hasil partisipasi masyarakat.
"Alhamdulillah tolangga berjumlah 119 bestang dari partisipasi masyarakat. Jumlah peserta dikili 96 orang," kata Ramli.
Menurutnya, masing-masing tolangga berisi beragam makanan tradisional yang biasa disajikan dalam perayaan Maulid Nabi di Gorontalo.
Mulai dari kolombengi, sukade, cucur, lalampa, nasi kuning, bilindi, hingga wajik atau bajo'e.
Namun, kolombengi dan sukade menjadi kue yang paling banyak menghiasi tolangga.
Jumlah kue yang digunakan pun tidak sedikit. Salah satu tolangga bahkan memiliki sekitar 2.110 biji kue sukade.
"Di dalam tolangga itu ada berbagai macam kue-kue, terutama kolombengi, sukade, cucur, lalampa, nasi kuning, bilindi, dan wajik atau bajo'e," ujarnya.
Tak hanya banyak, ukuran tolangga yang dibuat warga juga menjadi perhatian.
Tolangga tertinggi mencapai sekitar 4,5 meter.
Ketinggiannya membuat warga harus mendongakkan kepala ketika melihat susunan kue yang menghiasi bagian atasnya.
Beberapa warga tampak berdiri di sekitar tolangga sambil mengabadikan momen menggunakan telepon genggam.
Anak-anak pun terlihat antusias melihat aneka kue yang disusun bertingkat. Bagi masyarakat Desa Bongo, tolangga bukan sekadar tempat untuk menyusun makanan.
Bentuk dan hiasan yang dibuat juga memiliki makna tersendiri.
Ramli menjelaskan, tahun ini warga membuat tolangga dengan berbagai bentuk. Ada yang menyerupai masjid dan ada pula yang berbentuk seperti perisai.
"Tolangga ada yang berbentuk masjid dan juga berbentuk seperti perisai. Paling banyak berbentuk masjid, melambangkan kesucian tempat ibadahnya," jelas Ramli.
Mata warga yang datang pun dimanjakan dengan bentuk tolangga yang beragam.
Ada yang dihiasi kue dengan susunan bertingkat, ada pula yang dibuat menyerupai bangunan tertentu.
Meski bentuknya berbeda, semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan masyarakat.
Menjelang siang, suasana di sekitar Masjid At-Taqwa semakin ramai. Setelah mengikuti rangkaian perayaan, warga kemudian bersiap melanjutkan tradisi yang tidak kalah penting.
Mereka bersilaturahmi dari rumah ke rumah. Tradisi tersebut menjadi bagian yang ditunggu-tunggu masyarakat setiap perayaan Maulid Nabi.
Warga berjalan berkelompok menuju rumah keluarga, kerabat, maupun tetangga.
Baca juga: Bupati Gorontalo Sofyan Puhi Dorong Pelestarian Tradisi Maulid Nabi di Desa Bongo
Sesampainya di rumah, mereka disambut dengan hidangan makan siang. Meja makan yang sebelumnya telah disiapkan tuan rumah mulai dipenuhi berbagai makanan.
Ada nasi, lauk-pauk, sayuran, hingga hidangan khas yang disiapkan khusus untuk menyambut tamu. Tidak ada suasana sungkan.
Warga duduk bersama, menyantap hidangan sambil bercengkerama. Tawa dan obrolan ringan terdengar di antara anggota keluarga dan para tamu.
Momen tersebut membuat perayaan Maulid Nabi tidak hanya terasa sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarsesama warga.
Usai makan siang dan berbincang, para tamu biasanya tidak langsung pulang dengan tangan kosong. Tuan rumah memberikan kue kolombengi kepada tamu untuk dibawa pulang.
Kue tersebut menjadi salah satu ciri khas yang tidak terpisahkan dari tradisi Maulid di Gorontalo. Bagi sebagian warga, membawa pulang kolombengi bukan sekadar mendapatkan makanan.
Ada nilai berbagi dan kebersamaan yang melekat di dalamnya. Satu rumah menerima tamu, rumah lainnya melakukan hal yang sama.
Begitu seterusnya hingga silaturahmi berlangsung dari satu rumah ke rumah lainnya.
Suasana Desa Bongo pun terasa seperti satu ruang keluarga besar. Perayaan Maulid Nabi menjadi momentum bagi warga untuk berkumpul, berdoa, menikmati hidangan bersama, sekaligus saling mengunjungi.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi tersebut masih dipertahankan. Deretan tolangga yang berdiri di Masjid At-Taqwa menjadi simbol kemeriahan.
Sementara suguhan makan siang dan kue kolombengi yang dibawa pulang menjadi bagian dari kehangatan silaturahmi warga.
Minggu (30/8/2026) di Desa Bongo bukan sekadar hari perayaan Maulid Nabi. Sejak pagi hingga menjelang siang, masjid, halaman rumah, hingga jalan-jalan desa dipenuhi aktivitas warga.
Dari suara dikili yang menggema di masjid, warna-warni tolangga, aroma makanan dari rumah warga, hingga manisnya kolombengi yang dibawa pulang, seluruhnya menyatu menjadi gambaran tradisi Maulid Nabi yang masih hidup di Desa Bongo.
Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi itu terus menjadi cara masyarakat merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat persaudaraan. (*)