Digitalisasi Jadi Tantangan Baru Bisnis Kuliner di Tengah Pertumbuhan Sektor Horeca Yogyakarta
Yoseph Hary W August 30, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pertumbuhan sektor kuliner dan hospitality di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat perekonomian DIY tumbuh 5,75 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. 

Pada periode yang sama, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 10,56 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas bisnis yang berkaitan dengan pariwisata, perhotelan, restoran, serta konsumsi makanan dan minuman masih memiliki peran penting dalam perekonomian daerah.

Tantangan bisnis kuliner

Namun, meningkatnya aktivitas usaha juga diikuti dengan tantangan operasional yang semakin kompleks. Pelaku bisnis kuliner kini tidak hanya menghadapi persoalan penjualan, tetapi juga harus mengelola stok, biaya operasional, promosi, transaksi dari berbagai kanal, hingga pencatatan keuangan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu isu yang dibawa PT Esensi Solusi Buana (ESB) dalam keikutsertaannya pada Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, 28-30 Agustus 2026. (Red. Horeca - Hotel, Restaurant, dan Cafe atau Catering).

CEO & Co-Founder ESB, Gunawan Woen, mengatakan perkembangan bisnis kuliner membuat kebutuhan terhadap pengelolaan data dan operasional yang lebih terintegrasi semakin penting.

“Yogyakarta adalah contoh menarik. Aktivitas bisnis kuliner dan hospitality terus bergerak, tetapi pertumbuhan juga membuat kompleksitas operasional semakin besar,” ujar Gunawan, di Yogyakarta, Minggu (30/8/2026).

Menurutnya, pelaku usaha perlu memiliki gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi bisnis, mulai dari penjualan, stok hingga biaya yang dikeluarkan.

“Pengusaha tidak cukup hanya mengejar penjualan. Mereka perlu mengetahui outlet mana yang sehat, menu mana yang menguntungkan, bagaimana kondisi stok, dan apakah strategi promosi benar-benar memberikan dampak terhadap bisnis,” katanya.

Layanan pesan-antar

Salah satu perkembangan yang ikut mengubah pola operasional bisnis kuliner adalah meningkatnya penggunaan layanan pesan-antar makanan secara online.

Berdasarkan estimasi Momentum Works, nilai transaksi makanan melalui GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood di Indonesia mencapai sekitar 6,4 miliar dolar AS pada 2025. Angka tersebut meningkat sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan transaksi digital membuat pelaku usaha harus mengelola pesanan yang datang dari berbagai kanal sekaligus. Kondisi tersebut berpotensi menambah kompleksitas apabila pencatatan transaksi dan pengelolaan operasional masih dilakukan secara terpisah.

Di sisi lain, persaingan bisnis kuliner juga membuat promosi dan harga menjadi faktor penting dalam menarik konsumen.

Survei Populix terhadap 3.138 responden Gen Z dan milenial menunjukkan harga menjadi salah satu faktor utama dalam memilih tempat makan. Promo diskon juga menjadi pertimbangan dalam keputusan pembelian.

Situasi tersebut membuat strategi promosi perlu diperhitungkan secara lebih cermat agar tidak sekadar meningkatkan jumlah transaksi, tetapi tetap memberikan dampak terhadap keuntungan bisnis.

Persoalan efisiensi juga berkaitan dengan pengelolaan bahan baku. Bappenas memperkirakan kerugian ekonomi akibat food loss and waste di Indonesia mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun.

Bagi bisnis kuliner, pengelolaan stok dan bahan baku menjadi bagian penting untuk menekan potensi pemborosan sekaligus menjaga efisiensi biaya produksi.

Gunawan menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi bisnis kuliner tidak lagi sebatas penggunaan perangkat kasir.

“Tujuan kami bukan sekadar menyediakan aplikasi kasir restoran atau software untuk mencatat transaksi. Tantangan bisnis kuliner hari ini saling terhubung, sehingga sistemnya juga perlu saling terhubung,” jelasnya.

Menurut dia, pemisahan data penjualan, stok, produksi dan keuangan dapat menyulitkan pemilik usaha dalam melihat kondisi bisnis secara menyeluruh.

Pendekatan pengelolaan 

Dalam JIFHEX 2026, ESB memperkenalkan pendekatan pengelolaan operasional bisnis yang menghubungkan aktivitas di outlet dengan pengelolaan data di bagian administrasi dan manajemen.

Perusahaan teknologi tersebut menyediakan sistem yang mencakup pengelolaan transaksi, pemesanan digital, persediaan, produksi, perhitungan harga pokok penjualan (HPP), hingga laporan keuangan.

Kehadiran ESB di pameran tersebut menjadi bagian dari meningkatnya kebutuhan pelaku industri food and horeca terhadap pemanfaatan teknologi dalam menjalankan bisnis.

“Partisipasi kami di JIFHEX merupakan bagian dari komitmen ESB untuk mendukung digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah,” kata Gunawan.

JIFHEX 2026 sendiri mempertemukan pelaku usaha, distributor, pemasok, serta penyedia solusi dari industri makanan, minuman, hotel, restoran dan hospitality.

Pameran yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi salah satu ruang bagi pelaku industri untuk melihat perkembangan kebutuhan dan teknologi yang mulai diterapkan dalam pengelolaan bisnis food and horeca. (hda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.