Pelajar Penghafal Al-Qur'an Babak Belur Dikeroyok dan Dipaksa Ngaku Provokator!
Noval Andriansyah August 30, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Tanah Abang - Nasib pilu nan tragis harus ditanggung Faturrohman (18), seorang siswa kelas 12 SMK yang menjadi korban keberingasan pengeroyokan saat kericuhan pecah di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Baca juga: 2 Wanita Muda Ditangkap Polisi Gara-gara Pengeroyokan di Area Parkir Hotel, Korban Trauma

Pelajar berprestasi yang dikenal sebagai sosok qari dan penghafal Al-Qur'an ini harus terbaring lemah di rumah sakit akibat menderita luka tusuk serta lebam parah di sekujur tubuhnya. 

Penderitaan remaja anak daerah setempat ini makin menyayat hati tatkala niat tulusnya menjaga area pemukiman dari kepulan gas air mata justru dibalas aksi penganiayaan brutal oleh sekelompok orang tak dikenal.

Tak berhenti pada tindak kekerasan fisik di jalanan, korban juga harus menelan pahitnya intimidasi saat sempat dibawa ke kantor polisi dan dipaksa mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukannya sebagai provokator.

Ketiadaan rasa kemanusiaan dari para pelaku penganiayaan ini meninggalkan trauma mendalam sekaligus luka menganga bagi keluarga dan pihak sekolah yang mengenal Fatur sebagai anak yang sangat penurut.

Bantahan keras atas tuduhan perusuh yang disematkan kepada Faturrohman disampaikan langsung oleh guru sekolahnya, Ahmad Fahmi, saat ditemui di kediaman korban di Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).

"Dia ini warga sini, bukan perusuh. Dulu MTs-nya di pondok pesantren, dia qori, seorang hafiz Quran, suaranya bagus, dan enggak pernah ikut-ikutan hal seperti ini," tegas Ahmad Fahmi penuh keprihatinan, dilansir TribunJakarta.com.

Fahmi menambahkan bahwa sebelum insiden keji tersebut terjadi sekitar pukul 22.01 WIB, Fatur bahkan masih aktif membalas pesan WhatsApp dari wali kelasnya terkait penyesuaian agenda Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Kronologi Pengeroyokan dan Dugaan Intimidasi

Fahmi mengatakan, pihak sekolah masih berkomunikasi dengan Fatur pada Kamis malam untuk menyampaikan pengumuman imbauan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Fatur bahkan masih sempat berkomunikasi aktif dengan wali kelasnya melalui pesan singkat beberapa saat sebelum kejadian.

Namun, memasuki pukul 23.00 WIB, keberadaan Fatur mulai tak menentu.

Saat Fahmi mencoba menghubungi via WhatsApp, pesan tersebut hanya menunjukkan centang satu.

Belakangan diketahui dari pihak keluarga bahwa telepon genggam milik Fatur hilang di lokasi.

Fahmi menjelaskan, Fatur saat itu berniat mengungsi ke Masjid Istiqomah karena permukiman warga mulai dipenuhi asap gas air mata akibat bentrokan.

Rumah Fatur memang berada di ujung gang yang paling dekat dengan Jalan Raya Pejompongan.

Di saat ibunya sudah mengungsi, Fatur masih bertahan di ujung gang bersama sejumlah warga, termasuk Bambang Setiawan (59) yang tewas dikeroyok, untuk menjaga wilayah agar massa tak masuk.

"Ternyata dua-duanya dari dalam ketarik keluar ke tengah jalan. Seperti yang beredar di media sosial, ditarik, ditendang, diinjak segala macam oleh orang-orang tidak dikenal itu," ungkap Fahmi.

Kesaksian Korban

Dengan kondisi wajahnya yang babak beluar, Fatur menceritakan kronologi pengeroyokan yang dialaminya.

Ia menceritakan peristiwa tersebut bermula ketika sedang berdiri di depan gang rumahnya.

Tanpa alasan yang jelas, sekelompok orang yang terlibat kerusuhan mendadak masuk ke dalam gang dan mendorong dirinya hingga terjatuh.

Tak lama kemudian, sejumlah orang tak dikenal langsung menyergap dan menyeret korban ke luar gang.

"Saya lagi berdiri di depan gang rumah. Terus yang rusuh-rusuh masuk ke dalam, dorong saya sampai jatuh. Setelah itu, intel-intel masuk dan menarik saya. Ngakunya intel dari DPR," ujar Fatur saat ditemui di lokasi, Jumat (28/8/2026).

Momen saat Faturrohman dikeroyok itu divideokan oleh sejumlah warga dan kemudian beredar di media sosial.

Meski Fatur telah menegaskan bahwa dirinya adalah warga setempat dan tidak terlibat dalam aksi kerusuhan, para pelaku tidak menghiraukan keterangannya.

Ia terus ditarik secara paksa meski sempat coba dipisahkan oleh tim medis di lokasi kejadian.

"Sudah ngaku kalau saya warga sini, tapi dia enggak percaya. Langsung ditarik ke luar dan disamperin sama teman-temannya, terus saya digebugin," ungkapnya.

Akibat penganiayaan tersebut, Fatur mengalami luka parah di beberapa bagian tubuhnya, termasuk luka tusukan benda tajam di area kepala dan dada, serta luka pada bagian mulut.

Dipaksa Mengaku Sebagai Provokator

Tidak berhenti pada kekerasan fisik di lapangan, Fatur juga mengaku mengalami penganiayaan dan intimidasi verbal saat berada dalam penanganan petugas di area DPR maupun Polda Metro Jaya.

Korban dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tidak diakukannya, yakni sebagai provokator kerusuhan.

"Di dalam ada intimidasi, ada pemaksaan untuk ngaku sebagai provokator. Selain dipukul pakai tangan kosong, dada, punggung, dan kepala saya juga dipukul pakai alat tipis seperti penggaris besi atau pisau," tutur Fatur.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.