Minimnya aktivitas di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, ikut menekan bisnis hotel di Balikpapan. Pada Januari-Mei 2026, tingkat okupansi hotel di kota tersebut hanya berkisar 30 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Balikpapan, Soegianto, mengatakan bisnis perhotelan masih lesu sepanjang awal 2026. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya kegiatan pemerintah yang selama ini turut menjadi sumber tamu hotel.
"Kondisi tersebut paling terasa pada Januari hingga Mei 2026 itu rata-rata tingkat okupansi hotel hanya berada di kisaran 30 persen. Ini mengingat kondisi penetapan anggaran, otomatis tamu-tamu dari pemerintahan kurang," ujarnya, Sabtu (29/8/2026), dikutip dari detikKalimantan.
Berkurangnya kegiatan pemerintah turut berdampak pada sektor meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) yang menjadi salah satu penopang bisnis perhotelan di Balikpapan.
Kondisi ini berbeda dengan 2024, ketika aktivitas pembangunan IKN masih masif. Saat itu, tingkat okupansi hotel di Balikpapan disebut bisa mencapai sekitar 80 persen. Bahkan, sejumlah hotel nyaris penuh setiap hari.
"Lebih bagus adalah tahun 2024 pasca-IKN, zaman Pak Jokowi. Wah, itu bisa 80 persen, hampir penuh setiap hari hotel-hotel," kata Soegianto.
Memasuki Juli-Agustus 2026, bisnis perhotelan mulai menunjukkan peningkatan. Menurut Soegianto, kenaikan tersebut sejalan dengan siklus tahunan industri perhotelan yang biasanya memasuki periode ramai pada pertengahan tahun.
"Alhamdulillah mulai Juli, Agustus ini akomodasi mulai naik. Memang sebenarnya secara siklus biasanya di bulan Juni, Juli, Agustus itu naik," kata dia.
PHRI berharap tren tersebut berlanjut hingga akhir 2026. Soegianto menargetkan rata-rata okupansi hotel dapat mencapai 60 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 50 persen.
"Juni sampai Desember itu biasanya peak season-nya hotel. Sampai akhir tahun mudah-mudahan bisa sampai 60 persen. Target ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata okupansi tahun lalu yang berada di kisaran 50 persen," kata dia.
Sejumlah kegiatan berskala besar juga mulai memberikan tambahan pasar bagi sektor perhotelan. Salah satunya Bayan Open 2026 yang berlangsung pada 24-29 Agustus.
Menurut Soegianto, ajang tersebut diikuti sekitar 1.292 peserta. Sebanyak 900 peserta di antaranya berasal dari luar Balikpapan sehingga turut mendorong tingkat keterisian hotel di berbagai kelas.
"Ada sekitar 1.292 peserta yang berpartisipasi dalam Bayan Open 2026, sekitar 900 orang berasal dari luar Balikpapan. Dengan kehadiran tamu dari luar daerah ini turut membantu meningkatkan keterisian hotel, termasuk hotel bintang dua, bintang tiga hingga guest house," ujar dia.





