Jakarta (ANTARA) - Pondok Pesantren Darunnajah kembali menggelar Pekan Olahraga, Seni, dan Pramuka (Porseka) ke-50 di Lapangan Hijau Pondok Pesantren Darunnajah, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, untuk memperkuat semangat di masa pengenalan bagi santri baru.
“Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan kehidupan dan tradisi pesantren kepada santri baru, sekaligus memperbarui niat (tajdid niat) bagi santri lama dan pendidik,” Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Sofwan Manaf di Jakarta, Minggu.
Sofwan menambahkan pendidikan tidak hanya yang ada di ruang kelas tapi juga bisa didapatkan dari segala hal yang dialami di pesantren. Seluruh dinamika di pesantren juga dinilai mengandung nilai pendidikan yang membentuk kepribadian santri.
“Apa yang kalian lihat, dengar, rasakan, kerjakan, dan alami setiap hari, semua itu pendidikan. Jangan hanya memperhatikan apa yang diajarkan kepada kalian. Perhatikan juga apa yang dibiasakan kepada kalian," kata dia.
Sofwan juga memaparkan Panca Jiwa, yaitu jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa kemandirian, jiwa ukhuwah Islamiyah, dan jiwa kebebasan, tercermin secara nyata (hidden curriculum) dalam persiapan hingga pelaksanaan Porseka.
Ia menjelaskan Porseka ke-50 diawali dengan apel tahunan yang diisi dengan pengibaran bendera pusaka, laporan barisan, serta amanat pimpinan.
Setelah apel, acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan serta berbagai penampilan santri seperti seni beladiri tapak suci yang membawa pesan ketangkasan dan akhlak, serta penampilan konfigurasi yang menggabungkan kreativitas dan kekompakan.
Dalam konteks perlombaan, pimpinan pesantren mengingatkan agar semangat berkompetisi tidak mengikis nilai-nilai utama dan ibadah.
Ia mengingatkan menang itu prestasi, sportivitas itu nilai. Disiplin, kerja sama, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan bangkit lagi setelah gagal, itu semua juga bagian dari proses kalian.
“Jangan sampai kita memenangkan pertandingan, tetapi kehilangan persaudaraan. Jangan sampai kita membawa pulang piala, tetapi kehilangan akhlak," kata dia.
Menurut Sofwan kegiatan ini pada 50 tahun yang lalu bermula dari Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) dan telah berkembang dengan memasukkan unsur kepramukaan menjadi Porseka.
Dirinya berpesan kepada seluruh santri untuk memegang teguh identitas pesantren dimanapun mereka berada.
"Jangan hanya tinggal di Darunnajah. Biarkan Darunnajah tinggal dalam diri kalian," kata dia.





