DK3P Jatim Dorong K3 Masuk Sekolah, Ada Target Besar untuk Pelajar SMK
Wiwit Purwanto August 30, 2026 08:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Kesadaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dinilai tidak seharusnya baru dikenalkan ketika seseorang memasuki dunia kerja.

Budaya mengenali bahaya dan risiko perlu ditanamkan sejak generasi muda masih berada di bangku sekolah agar mereka terbiasa bekerja dan beraktivitas secara aman.

Pesan tersebut disampaikan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi Jawa Timur (DK3P Jatim) saat menggelar DK3P Goes to School series 1 di SMKN 5 Surabaya, Kamis (27/8/2026). Kegiatan bertema “Mempersiapkan Generasi SMK Jawa Timur Menjadi Pekerja yang Aman dan Profesional” itu diarahkan untuk membangun kesadaran keselamatan di kalangan pelajar.

Ketua Komisi I DK3P Jatim, Adithya Sudiarno, mengatakan program tersebut diharapkan berkembang menjadi gerakan edukasi keselamatan yang menjangkau lebih banyak SMA dan SMK di berbagai daerah di Jatim.

“Sekolah memiliki posisi strategis karena menjadi tempat membangun pengetahuan, karakter, sekaligus kebiasaan generasi muda,” kata Adithya.

Baca juga: Basha Market Diserbu Pengunjung, Brand Lokal Premium Ramai Diburu di Surabaya

Menurutnya, apabila kesadaran K3 sudah tertanam sejak sekolah, siswa tidak perlu memulai dari nol ketika memasuki dunia kerja.

Mereka diharapkan memahami bahwa bekerja dengan aman bukan sekadar memenuhi aturan perusahaan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga diri sendiri, rekan kerja, keluarga, dan masa depan.

“Pada akhirnya tujuan K3 sangat sederhana. Setiap orang yang berangkat untuk belajar ataupun bekerja, kita ingin mereka dapat kembali pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat. Karena di rumah selalu ada keluarga yang menunggu,” jelas Adithya.

Dalam kegiatan tersebut, DK3P Jatim juga menyerahkan bantuan berupa Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) kepada pihak sekolah. Bantuan diserahkan Karto Tri Sasmito, anggota Komisi I DK3P Jatim yang turut hadir.

DK3P Dorong Edukasi K3 Masuk Pendidikan SMK

Wakil Ketua DK3P Jatim Edi Priyanto mengatakan pembentukan budaya keselamatan idealnya dimulai jauh sebelum seseorang menjadi pekerja. Edukasi sejak sekolah dinilai penting karena siswa SMK relatif lebih dekat dengan dunia industri dan aktivitas praktik yang memiliki potensi bahaya.

Baca juga: Honda Super-ONE Diburu, Pesanan Indonesia Tembus 180 Kuota Cuma 100 Unit 

“Jangan menunggu seseorang mengalami kecelakaan untuk belajar tentang keselamatan. Dan jangan menunggu mereka menjadi pekerja untuk mengenalkan K3. Kalau kesadaran terhadap bahaya dan risiko sudah menjadi kebiasaan sejak sekolah, ketika masuk dunia kerja mereka sudah membawa budaya keselamatan dalam dirinya,” ungkap Edi.

Para siswa SMK nantinya dapat berhadapan dengan mesin, peralatan kerja, listrik, bahan kimia, pekerjaan di ketinggian, transportasi, hingga berbagai risiko lainnya. Bahkan sebelum resmi menjadi pekerja, sebagian siswa telah bersentuhan dengan lingkungan industri melalui program PKL maupun magang.

“Bahkan sebelum resmi menjadi pekerja, sebagian dari mereka telah bersentuhan langsung dengan lingkungan industri melalui program PKL maupun magang,” lanjut Edi.

Karena itu, DK3P Goes to School tidak diarahkan hanya sebagai sosialisasi, tetapi bagian dari upaya membangun pola pikir keselamatan sejak dini.

“Target kami bukan membuat anak-anak menghafal teori K3, tapi yang lebih penting adalah membangun refleks berpikir mereka. Sebelum melakukan sesuatu, apa bahayanya, apa risikonya, dan bagaimana agar saya serta orang di sekitar saya tetap selamat. Kalau pola pikir ini terbentuk sejak muda, itulah modal awal membangun budaya K3,” terang Edi.

DK3P Jatim selanjutnya akan mengusulkan kepada Pemprov Jatim agar edukasi K3 dapat diintegrasikan dalam pendidikan tingkat menengah, khususnya SMK di Provinsi Jatim.

Integrasi tersebut tidak harus diwujudkan melalui mata pelajaran tersendiri. Muatan K3 dapat dikembangkan secara adaptif melalui pembelajaran relevan, penguatan karakter, praktik di laboratorium dan bengkel, kegiatan proyek, pembekalan sebelum PKL, maupun aktivitas sekolah lainnya.

Baca juga: Keren ! Ibu-Ibu IIDI Cabang Surabaya Belajar Canva Sambil Kenakan Busana Adat Nusantara

Materi yang diberikan dapat mencakup pengenalan bahaya dan risiko, keselamatan berkendara, keselamatan listrik, pencegahan kebakaran dan penggunaan APAR, pertolongan pertama, ergonomi, kesiapsiagaan keadaan darurat, kesehatan kerja, hingga perilaku dan budaya keselamatan.

“Jatim memiliki jumlah pelajar SMA dan SMK yang sangat besar. Bayangkan jika setiap tahun kita meluluskan generasi yang bukan hanya memiliki kompetensi akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga memiliki kesadaran keselamatan. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk dunia kerja Jatim," papar Edi.

Menurut Edi, langkah tersebut membutuhkan kolaborasi Pempriv Jatim, Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sekolah, dunia usaha dan dunia industri, perguruan tinggi, serta para praktisi K3.

SMKN 5 Surabaya Sambut Positif Edukasi Keselamatan

Pihak SMKN 5 Surabaya menyambut positif edukasi K3 yang diberikan kepada siswa. Pemahaman keselamatan dinilai penting karena siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga menjalani praktik dan berinteraksi dengan lingkungan industri melalui PKL.

Wakil Kepala SMKN 5 Surabaya, Maulidijana Isneniwaty, mengatakan pemahaman keselamatan menjadi bagian penting dari kesiapan siswa memasuki dunia profesional.

“Anak-anak tidak cukup hanya dibekali keterampilan teknis. Mereka juga harus memahami bagaimana bekerja dengan benar dan aman. Edukasi seperti ini membantu siswa memahami bahwa keselamatan bukan hanya aturan ketika berada di perusahaan, tetapi kebiasaan yang harus mulai dibangun sejak sekolah,” beber Maulidijana.

Apresiasi juga disampaikan Nanda Luktinia Firial, guru Kimia Industri SMKN 5 Surabaya. Menurutnya, materi DK3P Jatim relevan sebagai bekal siswa sebelum menjalani PKL.

“Kami berharap pemahaman mengenai aspek keselamatan dan kesehatan kerja tersebut membuat para siswa semakin siap ketika berhadapan langsung dengan lingkungan industri, termasuk mampu memahami risiko dan menerapkan prosedur keselamatan yang berlaku di tempat mereka melaksanakan PKL,” imbuh Nanda.

Kegiatan yang dikemas secara interaktif itu juga mengajak siswa melihat bahwa risiko keselamatan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah seorang siswa mengaku mendapat perspektif baru setelah mengikuti DK3P Goes to School.

“Awalnya saya mengira K3 itu hanya soal memakai helm, sepatu safety atau APD ketika bekerja. Ternyata yang paling penting justru bagaimana kita mengenali bahaya sebelum terjadi kecelakaan. Jadi bukan hanya untuk di tempat kerja, tetapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” cerita siswa tersebut.

Para siswa berharap kegiatan sosialisasi dan edukasi K3 dapat terus digelar dan menjangkau lebih banyak pelajar SMK, terutama mereka yang akan terjun langsung ke dunia industri melalui program magang maupun PKL.

Melalui DK3P Goes to School series 1, DK3P Jatim berharap budaya keselamatan tumbuh sejak dini. Dengan begitu, generasi muda Jatim diharapkan memasuki dunia kerja bukan hanya sebagai tenaga kerja yang kompeten dan profesional, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

Sebab pekerja profesional bukan hanya mereka yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi juga memahami bagaimana bekerja dengan aman dan kembali pulang dengan selamat.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.