Wiwi Yuli Astuti Mengembangkan Usaha Kerupuk Telur Asin dari Banyumas
Daniel Ari Purnomo August 30, 2026 09:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Tumpukan telur bebek yang tersusun rapi di atas wadah karton baru saja tiba di kediaman Wiwi Yuli Astuti (47).

Helai-helai cangkang telur pilihan tersebut memancarkan rona hijau kebiruan, berkonstruksi oval sempurna, serta berukuran jumbo.

Wiwi mengategorikan bahan baku tersebut sebagai telur bebek grade A plus yang ia pasok langsung dari tiga peternak lokal di Kecamatan Kedungbanteng dan Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Baca juga: Rahasia Resep Kuno Telur Asin Tjoa Brebes yang Tetap Masir Sejak 1965

Bersama sang suami, Bakhruddin (50), ia memilah dan memurnikan cangkang telur satu per satu menggunakan busa spons lembut.

Dari butiran telur bebek unggulan itulah, pasangan suami istri ini mengolahnya menjadi komoditas kerupuk telur asin yang kini merambah gerai oleh-oleh se-Indonesia.

"Tiap dua minggu sekali, kami mengulak 300 butir telur bebek."

"Kami oleh jadi telur asin, tapi sebagian besar jadi kerupuk telur asin," kata Wiwi warga Karanglewas Lor, Purwokerto Barat, Banyumas, kepada tribunbanyumas.com, Jumat (28/8/2026).

Awal Rintisan Usaha

Pada awalnya, Wiwi hanya mengelola toko kelontong skala rumahan di depan kediamannya, sementara sang suami berprofesi sebagai pelaut.

Tatkala badai pandemi Covid-19 melanda, sang suami yang akrab disapa Udin mengambil keputusan pensiun dini dan kembali ke Purwokerto.

Udin sempat menjajal peruntungan dengan berjualan minuman es keliling, namun usahanya belum membuahkan hasil optimal.

Hingga pada rentang tahun 2021, pasangan ini tergerak merintis gagasan untuk membidani produksi telur asin.

"Saat itu, awalnya bikin 25 butir, hasilnya bagus. Keluarga dan teman diminta mencicipi, katanya enak," ungkap Wiwi.

Wiwi menguraikan, ide mengembangkan diversifikasi produk berupa kerupuk telur asin tidak tercetus secara bersamaan.

Usaha pembuatan telur asin mentah sejatinya telah berjalan terlebih dahulu selama rentang dua tahun.

Kendati demikian, ritme produksi dan jangkauan pemasarannya cenderung stagnan, di mana dalam dua hari sekali hanya mampu memproduksi 250 butir dengan cakupan pasar terbatas di wilayah Purwokerto.

Situasi tersebut memicu pikirannya untuk meracik produk inovatif yang sanggup bertahan hingga kurun tiga bulan.

"Saat ikut perkumpulan UMKM di dinas koperasi saya lihat produknya bagus-bagus. Saya terinsipirasi buat produk yang tahan lama dan bisa kirim ke luar Jawa, akhirnya coba-coba bikin kerupuk telur asin," ujarnya.

Penetrasi Pasar Nasional

Wiwi membeberkan, usai melalui fase uji coba dan kegagalan selama kurun enam bulan, produk kerupuk telur asin karyanya mulai mengudara di pasaran pada tahun 2023.

Perempuan ini semula dibayangi keraguan, namun motivasi membumbung tinggi berkat sokongan dari sesama pelaku UMKM.

Keyakinannya kian membumbung tinggi seusai memperoleh pendampingan intensif dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

Toko cenderamata pertama yang bersedia menampung produknya yakni Roemah Palmes di Kabupaten Pekalongan.

Selanjutnya, ekspansi berlanjut menembus jejaring ritel lokal Purwokerto, seperti Rita Supermall, Toko Oleh-Oleh Ngapak, Hanna Meatshop & Groceries, Selera Cake and Bakery, hingga Aromart.

"Saya lalu coba ke Amanda Brownies di Sulawesi. Itu melalui proses kurasi, produk saya dicicipi mereka layak atau tidak. Alhamdulillah lolos," katanya.

Wiwi menuturkan, keberhasilan kurasi di regional tersebut memberinya keberanian untuk mengajukan proposal ke kantor pusat Amanda Brownies di Bandung.

Inovasi kuliner buatannya disetujui hingga kini resmi mejeng di puluhan outlet yang tersebar luas di penjuru Tanah Air.

Jejaring pemasaran tersebut meliputi 19 outlet di Jawa Tengah, 15 outlet di wilayah Jabodetabek, 10 outlet di Kalimantan Timur, 7 outlet di Kalimantan Barat, hingga 10 outlet di Sulawesi Selatan serta wilayah lainnya.

"Saat ini produksi kerupuk telur asin sebanyak 1.000- 1.200 bungkus per bulan. Untuk telur asin juga masih berjalan," ungkapnya.

Penerapan Budaya Astra

Menurut pemaparan Wiwi, tingkat kepercayaan dari pengelola toko oleh-oleh maupun konsumen melesat seusai dirinya menerapkan budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) binaan Yayasan Astra.

Prinsip kerja tersebut menjadi fondasi utama penataan kebersihan dengan mengutamakan higienitas area dapur produksi.

Ia mencontohkan detail kecil yang berdampak signifikan, seperti pemisahan fisik secara tegas antara area dapur rumah tangga dan area produksi komersial.

Selain itu, penataan perkakas produksi diatur sedemikian rupa agar terorganisasi rapi dan tidak bertumpuk sembarangan.

"Itu sangat bermanfaat sekali. Berawal dari situ, saya dapat kepercayaan dari dinas-dinas sehingga produk saya dinilai layak secara standar kebersihan," ungkapnya.

Manfaat lain yang dirasakan Wiwi mencakup pelatihan pembuatan kemasan produk yang estetis serta memenuhi standar kualifikasi industri.

Rangkaian pameran UMKM juga membuka ruang interaksi langsung yang mempertemukannya dengan calon konsumen maupun jejaring reseller.

"Dulu kemasannya masih kurang menarik, putih polos. Tapi saat ini baik desain dan warnanya lebih menarik," jelasnya.

Di balik manisnya kesuksesan, Wiwi tak menampik bahwa rekam jejak usahanya pernah dihantam kerugian material.

Ia sempat terperosok kerugian akibat insiden penipuan tatkala membeli 5.000 butir telur bebek yang ternyata berubah menghitam saat dimasak.

Pengalaman pahit tersebut mendorongnya lebih selektif dalam menjalin kemitraan bersama peternak lokal yang tepercaya.

"Kami mengambil bahannya dari peternak lokal agar saling memberikan manfaat. Tiap dua minggu sekali kami mengambil 300 butir yang grade A plus," ungkapnya.

Cita Rasa Unik

Pemilik Toko Oleh-oleh Ngapak, Pujianto (36), mengonfirmasi bahwa kerupuk telur asin besutan UMKM Wiwi menjadi salah satu komoditas favorit di gerainya.

Pujianto secara ketat menyeleksi beragam produk UMKM asli Kabupaten Banyumas sebelum memajangnya di toko yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Purwokerto.

Menurut pengamatannya, produk ini memiliki keunggulan kompetitif lantaran belum banyak pelaku usaha yang mengolah telur asin menjadi penganan kerupuk.

Sisi visual kemasannya tergolong memikat serta menawarkan karakteristik rasa yang distingtif.

"Untuk masuk ke toko, saya juga buka kurasi. Harus punya legalitas, minimal PIRT dan lebih bagus memiliki label Halal," ungkapnya.

Pujianto menambahkan, tingkat daya serap pasar untuk produk kerupuk telur asin karya Wiwi tergolong tinggi di wilayah Banyumas.

"Jadi kerupuk telur asin ini memang punya keunikan sendiri. Meskipun kerupuk, tapi cita rasa telur asinnya tidak hilang," jelasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.