Panglima Jilah Soroti Karhutla Kalimantan Barat, Bela Tradisi Berladang Adat
Laksmi Anindita August 30, 2026 09:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah, menyoroti anggapan yang mengaitkan praktik berladang masyarakat adat dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Hal tersebut disampaikan Panglima Jilah setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).

Panglima Jilah menjelaskan bahwa berladang merupakan bagian dari tradisi masyarakat adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Menurut Panglima Jilah, praktik berladang masyarakat adat memiliki karakteristik berbeda dengan kegiatan perkebunan. Ia mengatakan masyarakat adat umumnya membuka lahan di tanah mineral dan bukan di kawasan gambut.

Baca juga: Panglima Jilah Temui Prabowo, Usul Warga Dayak Bertato Bisa Masuk TNI-Polri

“Ya, di Kalimantan Barat karhutla itu sebenarnya sudah sering terjadi. Tetapi yang menjadi pemikiran kita itu peladang disalahkan. Jadi peladang itu dengan perkebunan itu kadang-kadang bersamaan waktunya. Akhirnya peladang yang disalahkan,” kata Panglima Jilah di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).

Ia menilai anggapan tersebut muncul karena masih banyak pihak yang belum memahami cara masyarakat adat menjalankan tradisi berladang.

“Orang berladang itu di lahan mineral. Jadi dengan waktu yang bersamaan akhirnya mungkin orang-orang yang tidak tahu tentang bagaimana berladang, bagaimana kehidupan kami di sana akhirnya menuduh peladang yang menjadi sumber asapnya,” lanjutnya.

Panglima Jilah menegaskan bahwa lahan gambut bukan pilihan masyarakat adat untuk dijadikan tempat bercocok tanam.

Ia menyebut tradisi berladang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak sejak dahulu.

“Orang berladang tidak akan mungkin mau nanam padinya ke tempat yang gambut. Itu saja logikanya ya,” ujarnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.