Mengenal 9 Sosok Anggota AHWA Muktamar ke-35 NU, KH. Nurul Huda Djazuli Dapat Suara Terbanyak
Suci BangunDS August 30, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Hasil rekapitulasi tabulasi suara calon Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) telah diumumkan dalam Sidang Pleno V di halaman Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026) malam.

Sembilan ulama terpilih, nantinya menjadi formatur AHWA yang memiliki peran dalam proses pemilihan Rais Aam PBNU yakni pimpinan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Dalam dokumen resmi, pemilihan Rais Aam dilakukan melalui musyawarah mufakat oleh sembilan ulama yang dihimpun dalam formatur AHWA. 

Berdasarkan dokumen rekapitulasi yang dipaparkan, penghitungan suara dilakukan dari enam bilik atau panel tabulasi. Total suara yang masuk mencapai 4.860 suara dari 34 nama calon yang diusulkan. 

Berikut daftar 9 sosok AHWA terpilih Muktamar ke-35 NU:

1. KH. Nurul Huda Djazuli 

KH Nurul Huda merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Dia adalah putra pasangan KH Djazuli Utsman dengan Nyai Hj Rodliyah. 

Dalam pemilihan AHWA ini, dia memperoleh 486 suara.

Dikutip dari Surya.co.id, selain menjadi pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri, KH Nurul Huda Djazuli juga menjadi Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dan salah satu Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). 

KH Nurul Huda menikah dan dikaruniai beberapa anak, salah satunya adalah KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar yang saat ini juga aktif dalam kegiatan keagamaan.

2. KH. Nuruzzahri Yahya atau Waled NU 

Waled Nu merupakan salah satu ulama Aceh yang dikenal melalui dakwah, pendidikan, serta kiprahnya dalam kehidupan sosial dan organisasi.

Baca juga: Ketum PBNU Dipilih Lewat AHWA, Pengamat: Tinggal Lihat 9 AHWA Terpilih, Bisa Terbaca Siapa Ketumnya

Dalam pemilihan AHWA ini, dia memperoleh 478 suara.

Dilansir Instagram resmi @pwnujatimofficial, ulama kelahiran Samalanga, Bireuen 1951 ini menempuh perjalanan keilmuan melalui pendidikan di Dayah MUDI Samalanga dan berlanjut hingga ke Jombang, Jawa Timur.

Pengalaman belajar di berbagai pesantren tersebut menjadi bekal bagi beliau dalam mengembangkan pendidikan dan mencetak generasi intelektual Muslim.

Waled Nu juga aktif sebagai mubaligh serta terlibat dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Beliau juga dipercaya mengemban berbagai amanah organisasi, termasuk sebagai Rais Syuriah PWNU Aceh dan Pimpinan YPI Ummul Ayman.

3. AG Dr KH Baharuddin HS, MA 

Syekh Baharuddin adalah sosok ulama kharismatik asal Bone, Sulawesi Selatan, yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar dan juga aktif sebagai Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Kota Makassar.

Dalam pemilihan AHWA ini, Syekh Baharuddin memperoleh 392 suara.

Dilansir laman resmi MUI Makassar, Syekh Baharuddin mengawali pendidikannya dengan mengaji langsung dari sang ayah, AGH. Abduh Shafa, ulama yang istiqamah dan cukup disegani kalangan masyarakat di desa Cakkeware, Bone.

Selain sebagai ulama, Syekh Baharuddin juga dikenal sebagai ahli kaligrafi Arab. Beliau telah menghasilkan banyak karya kaligrafi dan juga menulis buku terkait bidang tersebut.

Selain itu, Syekh Baharuddin aktif mengajar kitab kuning di berbagai tempat, termasuk pengajian takhassus di kediamannya setiap Jumat pagi.

Dalam organisasi, Syekh Baharuddin pernah menjabat sebagai Direktur IMMIM Tamalanrea periode 2003-2007. Ia juga membina pengajian kitab Khazinatul Asrar dan kitab al-Hikam di Pesantren An-Nahdlah sekaligus menjabat sebagai Syaikhul ma’had An-Nahdlah. 

Jabatan Ketua Umum MUI Kota Makassar sendiri diembannya sejak tahun 2015. Sebelumnya menjabat wakil ketua umum mendampingi Dr. AGH Mustamin Arsyad, MA semasa hidupnya.

4. KH. Miftachul Akhyar 

PBNU - Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, saat ditemui usai acara doa bersama PBNU di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Jumat (26/12/2025). Miftachul mengungkapkan, dia sudah berkomunikasi dengan Gus Yahya perihal struktur kepengurusan PBNU berdasarkan hasil rapat pleno di Hotel Sultan, beberapa waktu lalu.
PBNU - Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, saat ditemui usai acara doa bersama PBNU di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Jumat (26/12/2025). Hasil rekapitulasi tabulasi suara calon Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) telah diumumkan dalam Sidang Pleno V di halaman Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026) malam. (Tribunnews.com/Ibriza Fasti Ifhami)

Miftachul Akhyar merupakan seorang ulama yang saat ini menjabat sebagai Rais 'Aam PBNU sejak tahun 2018.

Dia adalah Pimpinan Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya. Dalam pemilihan AHWA ini, Miftachul Akhyar memperoleh 351 suara.

Ulama kelahiran 30 Juni 1953 itu pernah menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2020. Pada 9 Maret 2022, ia mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI karena ingin berfokus menjadi Rais 'Aam PBNU dan tidak ingin rangkap jabatan. 

5. KH. Afifuddin Muhajir 

Afifuddin Muhajir atau yang akrab disapa Kiai Afif ini merupakan salah satu dari sedikit kiai-kiai NU yang kealimannya diakui secara luas. 

Dalam pemilihan AHWA ini, Afifuddin Muhajir memperoleh 340 suara.

Meminjam istilah KH. Said Aqil Siradj, kepakaran beliau, terutama dalam bidang Ushul fiqih sudah mujma' alaih.

Bahkan, nama Afifuddin Muhajir juga diakui di kancah internasional. Hal ini terbukti salah satunya dengan pengakuan Syaikh Wahbah az-Zuhaili yang memberikan apresiasi dan pengantar terhadap karya Kiai Afif, yakni kitab Fathul Mujib al-Qarib Syarah Matan Taqrib.

Afifuddin Muhajir lahir di Sampang, Madura, pada tanggal 20 Mei 1955 dengan nama Khafifuddin.

Sejak usia 20 tahun, dia sudah aktif mengisi pengajian kitab kuning dalam berbagai fan ilmu, baik fiqih, ushul fiqih, nahwu sharaf dan lain-lain.

Di pesantren Sukorejo, beliau menjabat sebagai wakil pengasuh bidang pengembangan keilmuan sekaligus juga menjabat sebagai Naib Mudir di Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah Situbondo.

6. KH. Anwar Iskandar 

Anwar Iskandar adalah seorang ulama, kiai, sekaligus menjabat sebagai wakil Rais 'Aam PBNU yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ulama kelahiran 24 April 1950 ini memperoleh 327 suara dalam pemilihan AHWA Muktamar ke-35 NU.

Dia merupakan merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien dan Pondok Pesantren Assa'idiyah yang berlokasi di Kota Kediri.

Ayah Anwar Iskandar bernama Kiai Iskandar, sedangkan ibunya bernama Siti Robi'ah Al Adawiyah. Pada tahun 1975 dia dinikahkan oleh K.H Mahrus Aly (pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo saat itu) dengan Qoni’atus Zahro, putri dari pimpinan Pondok Pesantren Assa'idiyah, Jamsaren, Pesantren, Kediri bernama Kiai Sa'id.

Kemudian, pada tahun 1990, dia menikah untuk kedua kalinya dengan Yayan Handayani dari Bogor.

Baca juga: Jelang Pemilihan Ketum PBNU, Gus Yahya Ingatkan Muktamirin soal Kepentingan NU

7. KH. Anwar Manshur 

Anwar Manshur merupakan ulama kharismatik yang sangat dihormati dan disegani di kalangan pesantren, warga Nahdlatul Ulama, hingga para pejabat pemerintahan. 

Dia merupakan sesepuh ulama khos NU dan dikenal sebagai sosok yang disiplin dan istiqomah dalam pendidikan agama. 

Sebagai Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri, sehari-sehari ia tak pernah lelah memberikan pengajian kepada para santri. Anwar Manshur menjadi Pengasuh Pesantren Lirboyo sejak 2014 lalu.

Dalam pemilihan AHWA Muktamar ke-35 NU ini, Anwar Manshur memperoleh 304 suara.

Sejak 3 Agustus 2024, ia terpilih sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim. Sebelumnya, ia juga menjadi Rais PWNU Jatim hasil Konferwil tahun 2018.

Ulama kelahiran 1 Maret 1938 itu merupakan putra pasangan KH Manshur Jombang dengan Nyai Salamah, putri ketiga KH Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo.

Anwar Manshur menikah dengan Nyai Hj Umi Kulsum (putri KH Mahrus Aly). Dari pernikahan ini mereka dikarunia 8 orang anak, yaitu tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.   

8. Dr KH Abun Bunyamin, MA 

Abun Bunyamin saat ini dikenal sebagai pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta yang memperoleh 297 suara dalam pemilihan AHWA Muktamar ke-35 NU.

Ulama kelahiran 4 April 1954 itu sebelumnya bernama Muhammad Tamrin. Namun, saat masuk SD berubah menjadi Ade Bunyamin dengan panggilan Amin.

Saat ini, Abun Bunyamin memimpin PWNU Jawa Barat sebagai Rais Syuriyah sejak 2021 dengan didampingi KH Juhadi Muhammad sebagai Ketua Tanfidziyah.

9. Prof Dr KH. Said Aqil Siroj 

Said Aqil merupakan mantan Ketua Umum PBNU dua periode masa khidmat 2010–2021 yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022–2027.

Dalam pemilihan AHWA Muktamar ke-35 NU ini, dia berada di posisi kedelapan dengan 273 suara.

Saat ini, Said Aqil menjabat sebagai rektor Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon dan komisaris utama Kereta Api Indonesia.

Sejak 2010, ulama kelahiran 3 Juli 1953 itu selalu masuk dalam daftar The 500 Most Influential Muslims, yang dirilis oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center yang berpusat di Yordania.

Di kalangan Nahdlatul Ulama, Said Aqil bukanlah orang baru. Ayahnya, Kiai Aqil Siroj adalah seorang Ulama di Cirebon dan termasuk dalam jejaring ulama di Karesidenan Cirebon, seperti Benda Kerep, Buntet, Gedongan dan Babakan. 

Riwayat pendidikan baik formal maupun non-formal dia juga tidak dapat diragukan lagi, bahkan dia sudah banyak melintang dalam keroganisasian NU.

(Tribunnews.com/Rifqah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.