Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung
Dahulu ketika gaji tidak cukup, tabungan menjadi penyelamat. Uang yang dikumpulkan berbulan-bulan, terpaksa dikeluarkan demi membayar kebutuhan hari ini. Saat itu, tabungan yang ada membuat rasa aman. Sebab, masih ada sisa, masih ada sesuatu sebagai cadangan.
Sekarang, persoalannya berubah. Tabungan kian tergerus demi memenuhi kebutuhan. Sedikit demi sedikit uang itu diambil. Untuk membeli beras. Membayar listrik. Membayar sekolah anak.
Tabungan semakin tergerus. Sementara kebutuhan tidak ikut berkurang. Harga barang naik, biaya sekolah naik, biaya transportasi naik, sementara penghasilan tidak selalu bergerak ke arah yang sama.
Lalu datanglah pinjaman. Namanya beragam. Ada yang menyebut pinjaman online alias pinjol. Ada juga yang bilang sebagai paylater. Ada juga yang gunakan kartu kredit. Ada juga memilih ke pegadaian. Semua menawarkan satu hal yang sama, yakni uang hari ini pasti datang, lebih cepat daripada gaji bulanan.
Istilah lain kemudian muncul. Bukan lagi mantab alias makan tabungan, tapi matang atau makan utang. Istilah itu terdengar lelucon, padahal tidak. Sebab kalau tabungan adalah uang masa lalu yang dimakan hari ini, utang adalah uang masa depan yang dimakan sekarang. Hingga akhirnya tidak terasa masa depan, ternyata juga bisa habis.
Di situ masalahnya. Setelah habis, keluarga kecil di rumah mulai menghitung hari. Kalender di handphone dibuka. Tanggal diperhatikan. Lalu bolak balik menghitung berapa hari lagi gajian datang.
Ada banyak cerita saat itu terjadi. Ada ibu yang harus menghitung hari, sebab sang anak meminta susu. Ada juga pemilik kontrakan yang datang menagih bayaran. Ada kisah soal pengemudi yang harus mengisi bensin agar bisa bekerja. Ada keluarga yang harus membayar uang sekolah. Dan ada seseorang yang membuka aplikasi pinjaman bukan karena ingin membeli barang mewah, melainkan karena isi dompet sudah tidak cukup untuk sampai akhir bulan.
Di titik itulah utang berubah sifat. Ia bukan lagi instrumen untuk memperbesar usaha. Ia menjadi alat untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari.
Ketika utang dipakai untuk membeli makanan, sebenarnya ada masalah yang lebih besar daripada sekadar perilaku konsumtif. Yakni, soal pendapatan yang tidak cukup lagi mengejar kebutuhan hidup.
Data memberi gambaran yang tidak nyaman. Pada Februari 2026, outstanding pinjaman Peer-to-Peer (P2P) lending sudah mencapai sekitar Rp100,69 triliun, tumbuh 25,75 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, transaksi buy now, pay later yang dicatat IdScore mencapai Rp56,3 triliun, tumbuh 86,7 persen.
Angka itu besar. Tetapi angka-angka itu tidak pernah lapar. Manusialah yang lapar. Di belakang Rp100 triliun itu ada jutaan keputusan kecil. Lima ratus ribu. Tiga ratus ribu. Satu juta. Dua juta. Keputusan itu mirisnya muncul dengan alasan senada. Cuma kali ini.
Cuma kali ini pertama terasa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah utang kedua yang muncul sebelum utang pertama lunas. Kemudian utang ketiga. Lalu berlanjut pinjaman untuk membayar pinjaman. Pada titik tertentu, orang tidak lagi meminjam untuk hidup. Ia hidup untuk membayar pinjaman. Itulah lingkaran yang paling menakutkan.
Lalu orang datang sok bijaksana. Jangan berutang, kurangi gaya hidup. Jangan konsumtif, harus pandai menabung. Imbauan itu benar. Tetapi nasihat tersebut kadang terlalu sederhana untuk persoalan yang tidak sederhana.
Bagaimana kalau pendapatan memang tidak bertambah sementara kebutuhan naik? Bagaimana kalau biaya pendidikan meningkat? Bagaimana kalau harga makanan naik? Bagaimana kalau pekerjaan semakin tidak pasti? Bagaimana kalau tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun akhirnya habis untuk kebutuhan yang sebenarnya tidak bisa ditunda?
Dalam keadaan seperti itu, seseorang tidak sedang memilih antara menabung atau berutang. Ia mungkin sedang memilih antara berutang atau tidak makan. Hingga suatu hari, waktu itu akan datang menagih. Mungkin bukan dalam bentuk surat, bukan dalam bentuk telepon, tetapi dalam bentuk gaji yang sudah habis sebelum diterima di tangan.