Perjalanan Tak Terduga Gus Kikin dari Pesantren Tebuireng ke Kursi Ketua Umum PBNU 2026-2031
jonisetiawan August 31, 2026 11:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Perjalanan hidup KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin kini memasuki babak baru.

Sosok yang lekat dengan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut baru saja dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.

Terpilihnya Gus Kikin membawa kembali perhatian publik kepada sosok yang selama ini dikenal bukan hanya sebagai pengasuh pesantren, tetapi juga sebagai figur yang memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya mengemban amanah besar di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Di balik posisi barunya sebagai pucuk pimpinan PBNU, terdapat kisah panjang tentang bagaimana Gus Kikin perlahan dipersiapkan untuk meneruskan amanah keluarga dan menjaga keberlanjutan Pondok Pesantren Tebuireng.

Perjalanan tersebut bahkan bermula ketika dirinya masih lebih banyak berkecimpung di dunia usaha.

Baca juga: Inayah Wahid Akui PBNU Terima Tambang, Yenny Wahid Anak Gus Dur Sebut Pelapor Pandji Tak Wakili NU

Dari Pengusaha hingga Masuk ke Lingkar Pengabdian Tebuireng

Dalam sebuah wawancara bersama KompasTV, Gus Kikin menceritakan bahwa pada awalnya aktivitasnya lebih banyak sebagai pengusaha.

Salah satu usaha yang pernah didirikannya adalah jaringan televisi pada 2009. Dalam perjalanan bisnis tersebut, ia kemudian diminta menjadi komisaris utama BBS TV hingga 2015.

Selama sekitar enam tahun, kiprahnya di dunia usaha ternyata turut diperhatikan oleh pihak keluarga Tebuireng.

Gus Kikin menuturkan, selama periode tersebut dirinya mendapat perhatian mengenai bagaimana ia menjalankan dan menyelesaikan berbagai pekerjaan di kantor.

Perjalanan itu kemudian berubah pada 2016. Pada awal 2016, Gus Kikin mendapat status resmi untuk mulai dipersiapkan sebagai penerus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Ia sempat menyampaikan kepada pihak yang saat itu masih menjadi pengasuh agar tetap melanjutkan amanah karena masih dianggap sangat dibutuhkan.

Namun, proses regenerasi akhirnya tetap berjalan. Melalui sebuah surat keputusan, Gus Kikin kemudian dipercaya menjadi wakil pengasuh untuk dipersiapkan menjadi pengasuh Tebuireng.

Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.

KETUA PBNU BARU - KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031, di Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Gus Kikin dipilih oleh AHWA dan disetujui oleh Rais Aam dalam sidang pleno V, Senin (31/8/2026).
KETUA PBNU BARU - KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031, di Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Gus Kikin dipilih oleh AHWA dan disetujui oleh Rais Aam dalam sidang pleno V, Senin (31/8/2026). (TribunJatim.com)

Amanah Besar Berlanjut Setelah 2020

Babak berikutnya datang pada 2020 ketika pengasuh sebelumnya wafat.

Sejak saat itu, Gus Kikin meneruskan amanah untuk mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Dari seorang pengusaha, perjalanan hidupnya kemudian membawa dirinya semakin jauh ke dunia pesantren, pendidikan, sosial, dan organisasi keagamaan.

Amanah tersebut bukan sekadar persoalan meneruskan sebuah jabatan. Di baliknya terdapat tanggung jawab menjaga warisan keluarga sekaligus keberlanjutan lembaga yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Kini, setelah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031, perjalanan panjang tersebut memasuki tingkat pengabdian yang lebih luas.

Baca juga: Sosok Gus Kikin yang Terpilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026–2031, Cicit Mbah Hasyim dan Mantan Bos Migas

Cicit KH Hasyim Asy'ari

Gus Kikin juga memiliki hubungan darah langsung dengan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari.

Dalam penuturannya, ia menjelaskan bahwa dirinya merupakan cicit atau generasi keempat dari KH Hasyim Asy'ari di Tebuireng.

Garis keluarga tersebut berasal dari Bu Nyai Khairiah, putri pertama KH Hasyim Asy'ari.

Ibu Gus Kikin juga disebut memiliki hubungan kuat dengan sejarah keluarga Tebuireng. Ia lahir pada 1924 dan pada 1933 kehilangan ayahnya, KH Maksum Ali.

Setelah itu, ia banyak mendapat bimbingan langsung dari KH Hasyim Asy'ari.

Warisan nilai dan pengabdian tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam cara Gus Kikin memandang amanah yang diterimanya.

Ia tidak melihat apa yang diwariskan kepadanya sekadar sebagai sesuatu yang harus dijaga, tetapi juga sebagai sesuatu yang harus dilanjutkan.

"Jangan Sampai Amalan Saya Terputus"

Salah satu pesan yang paling membekas bagi Gus Kikin datang dari ibunya.

Ia menceritakan bahwa dirinya mendapat amanah untuk menjaga berbagai hal yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya.

Termasuk salah satunya adalah sekolah yang telah dibangun dan kemudian dipercayakan kepadanya.

Pesan tersebut menjadi pegangan dalam menjalankan berbagai amanah yang diterima.

"Jangan sampai amalan saya terputus."

Bagi Gus Kikin, kalimat tersebut bukan sekadar pesan keluarga. Ada tanggung jawab moral yang melekat di dalamnya: meneruskan sesuatu yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya agar manfaatnya tetap dirasakan generasi berikutnya.

Prinsip itulah yang kemudian ia bawa dalam menjalankan amanah di Tebuireng.

Menjaga Warisan, Melanjutkan Perjuangan

Gus Kikin menyadari bahwa dirinya mewarisi banyak hal dari para pendahulu, baik dalam bentuk lembaga pendidikan maupun nilai-nilai pengabdian.

Tebuireng menjadi salah satu warisan terbesar yang kini berada dalam tanggung jawabnya.

Namun, amanah itu tidak berhenti pada menjaga bangunan, lembaga atau nama besar pesantren.

Ada nilai perjuangan yang harus tetap diteruskan.

Ia juga menyebut ibunya sebagai salah satu sosok yang memberikan pengaruh besar terhadap cara pandangnya. Sang ibu dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan membawa semangat pengabdian yang kemudian diteruskan kepada dirinya.

Dari situlah Gus Kikin menyimpulkan bahwa perjalanan yang dijalaninya hari ini merupakan bagian dari tugas untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh leluhur dan keluarganya.

Baca juga: 5 Sosok Warga NU Temui Presiden Israel saat Palestina Terpuruk, PBNU Bereaksi Keras: Tujuannya Apa?

Dari Tebuireng untuk Nahdlatul Ulama

Kini, amanah tersebut semakin besar. Jika sebelumnya Gus Kikin fokus menjaga dan mengembangkan amanah di Pondok Pesantren Tebuireng serta menjalankan berbagai peran di lingkungan Nahdlatul Ulama, kini ia dipercaya memimpin PBNU untuk periode 2026-2031.

Posisi tersebut membuat perjalanan hidup Gus Kikin memiliki babak baru.

Latar belakang sebagai pengusaha, pengalaman mengelola lembaga, perjalanan sebagai wakil pengasuh hingga akhirnya meneruskan kepemimpinan Tebuireng menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkannya pada posisi tersebut.

Terpilihnya Gus Kikin juga membawa satu pesan penting dari perjalanan hidup yang ia ceritakan sendiri: amanah bukan sekadar sesuatu yang diterima, tetapi sesuatu yang harus dijaga dan diteruskan.

Dari Tebuireng, tempat yang memiliki ikatan sejarah kuat dengan kelahiran Nahdlatul Ulama, Gus Kikin kini mendapat tanggung jawab untuk membawa amanah tersebut ke ruang pengabdian yang jauh lebih luas.

Lima tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat bagaimana pengalaman, nilai keluarga, dan perjalanan panjangnya diterjemahkan dalam kepemimpinan PBNU 2026-2031.

***

(TribunTrends/Jonisetiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.