TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Terik matahari terasa menyengat menyinari kawasan pertanian hortikultura di Wisata Pertanian Banyu Kencono, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Senin (31/8/2026) pagi.
Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, lahan seluas setengah hektare atau 5.000 meter per segi ini terlihat cukup berbeda dari lahan pertanian pada umumnya. Tampak sejumlah alat elektronik termasuk solar panel terpasang di lokasi itu.
Ternyata, ada yang berbeda dalam kegiatan tanam di lokasi tersebut. Sejumlah petani, kini tak lagi sekadar menggantungkan pada insting cuaca untuk proses penyiraman, melainkan melibatkan teknologi digital berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).
Lurah Pleret, Taufiq Kamal, mengatakan, peran AI dan IoT dalam pertanian ini adalah memudahkan para petani dalam proses penyiraman, pengukuran kelembaban tanah, sampai penguatan sistem keamanan malam hari.
"Konsep ini muncul saat awal-awal saya menjabat sebagai lurah. Saat itu, saya punya beberapa visi misi. Salah satu visi saya adalah desa digital yang mandiri, berbudaya, sejahtera, dan agamis," katanya kepada Tribunjogja.com melalui sambungan telepon.
Di sisi lain, pihaknya mendapatkan kondisi bahwa rata-rata petani saat ini sudah berusia sepuh. Kemudian, banyak yang mengutarakan permasalahan di lapangan, salah satunya adanya lahan pertanian yang cukup sempit sehingga laba tanaman pangan dan sejenisnya tidak banyak.
Berdasar kondisi yang ada, Taufiq mencoba membuat konsep pertanian sederhana dengan memberdayakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yakni memanfaatkan lahan untuk pertanian hortikultura.
Ternyata, hasil penanaman tersebut menunjukkan sisi positif dan dapat mencukupi beberapa kebutuhan ibu-ibu. Dari situ, ia mencoba menawarkan kepada para petani untuk menanam tanaman hortikultura.
Hanya saja, para petani belum berani menanam tanaman holtikultura karena merasa kesulitan merawatnya. Sebab, tanaman holtikultura membutuhkan pengairan dan perawatan yang tidak bisa sambil lalu dengan pekerjaan lain.
"Kemudian, munculah ide lewat Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Mandiri Budaya. Bagaimana, kalau visi misi itu kita gabungkan untuk menuju kemandirian dengan sama khasnya Pleret yakni desa/kalurahan digital," terang Taufiq.
Pada tahun 2025, Taufiq mencoba mengusulkan pertanian berbasis IoT. Selanjutnya dilakukan eksekusi pada tahun 2026 sekaligus tanam perdana pada Rabu (19/8/2026). Proses penanaman dilakukan secara bertahap dengan tiga komoditas berupa bawang merah, pare, dan cabai.
"Artinya, begini. Melihat teknologi modern berupa kecerdasan buatan atau AI IoT, mau tidak mau meraka kita manfaatkan untuk mengambil sensor-sensor yang kita pasang di lahan pertanian," jelasnya.
Adapun sensor yang tertanam di dalam tanah bertindak sebagai indra yang terus memantau kelembapan, keasaman (pH) tanah, media tanam, hingga kondisi cuaca secara presisi.
Selain itu, melalui satu instruksi pintar, pompa pengairan dan pencahayaan kawasan turut dapat bekerja secara otomatis. Kemudian, terdapat solar panel yang menyuplai listrik tanpa ketergantungan pada listrik PLN.
"Untuk mengoperasikan itu, kami juga memiliki pakar sendiri. Kemudian, kami kelola secara professional lewat Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Pleret," tutur Taufiq.
Sementara itu, ditemui di Pertanian Banyu Kencono, anggota Pokdarwis Kalurahan Pleret sekaligus relawan pertanian, Syarifudin, berharap, proses pertanian berbasis IoT ini dapat menarik para kawula muda untuk terjun ke dunia pertanian.
"Saat ini, karena di era digital maka harus mengikuti zaman. Zaman sekarang ada satu di genggaman dan internet. Di genggaman artinya di handphone kita bisa operasikan sistem auto dan manual, di laptop bisa, atau pun dengan perintah suara AI juga bisa," ujarnya.
Lokasi pertanian itu memanfaatkan Tanah Kas Desa dan berjarak sekitar 30 menit atau 14 kilometer dari Tugu Jogja. Setelah ini, pihaknya masih akan mengembangkan di 10 titik lainnya dengan pusat monitoring di lahan utama Wisata Pertanian Banyu Kencono.
Sebagai wujud pengabdian masyarakat, pihaknya pun membuatkan inovasi serupa untuk lahan pertanian yang dikelola oleh masyarakat. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas hasil panen warga, tetapi turut mengakselerasi transfer teknologi digital langsung ke tangan para petani lokal.
"Melalui AI IoT ini, seluruh data dari awal penanaman hingga panen bisa tercatat. Jadi, kami bisa tahu bagaimana kondisinya, apa saja pekerjaan para petani yang harus dilakukan pada esok hari, ada atau tidak yang perlu diperbaiki, dan sebagainya," urai Syarifudin.
Pihaknya pun sengaja menggunakan solar panel, dikarenakan area pertanian berada di bagian ujung perkampungan. Di titik lahan pertanian tersebut, daya listrik yang tersalurakan sudah menurun sehingga tidak cukup untuk menyuplai kebutuhan listrik pompa pertanian dan sebagainya.
Penanggungjawab Lahan Wisata Pertanian Banyu Kencono, Sony Susanto, menyebut, untuk area pertanian tersebut dikelola oleh tiga orang. Penanaman holtikultura pun telah dilakukan secara bertahap dengan potensi panen yang menggiurkan.
"Potensi panennya nanti, untuk pare dalam satu kali masa petik bisa sekitar tiga kwintal, satu kali panen bawang merah bisa 1,7 ton, dan interval tiga hari bisa panen cabai 1,2 kuintal," ucap Sony.
Seluruh tanaman di lahan pertanian itu pun menggunakan pupuk organik atau tanpa campuran bahan kimia. Optimalisasi pertanian pun dimanfaatkan dengan gabungan AI dan IoT, sehingga dalam pengambilan data tentang kondisi tanaman menjadi lebih akurat.
"Kami juga bekerja sama dengan tengkulak khusus tanaman organik. Karena ini sistem organik jadi ke temgkulak khusus petani yang menanam organik," pungkas Sony.(nei)