Lahir Minggu Legi Wuku Manahil, Benarkah Sosoknya Teliti tapi Sensitif?
Hari Susmayanti August 31, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners, ada seseorang dengan tipe mengerjakan sesuatu bisa sangat teliti. 

Berpikir panjang sebelum memgambil keputusan. 

Namun, ketika berhadapan dengan ucapan orang lain hatinya justru cukup mudah tersentuh.

Gambaran seperti itu dipercaya melekat pada orang yang lahir pada Ahad Legi, Wuku Manahil dalam tradisi Primbon Jawa.

Wuku Manahil merupakan wuku ke-18 dalam siklus Pawukon. 

Dalam buku Primbon Pawukon Bayi Lahir yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Jakarta, 1988.

Kelahiran Ahad Legi Wuku Manahil digambarkan melalui sejumlah perlambang yang berkaitan dengan watak, usaha, hingga cara seseorang menghadapi persoalan.

Orang yang lahir pada Wuku Manahil disebut memiliki kebiasaan yang sangat teliti dalam berbagai hal. 

Ia cenderung memperhatikan sesuatu dengan saksama dan tidak ingin gegabah ketika menjalankan urusan.

Namun, ketelitian itu berjalan beriringan dengan sifat yang cukup sensitif.

Hatinya Mudah Tersentuh

Ilustrasi Wayang Sebagai Bentuk Penokohan Karakter
Ilustrasi Wayang Sebagai Bentuk Penokohan Karakter (Canva.com)

Wuku Manahil berada di bawah naungan Dewa Pitragati. 

Dalam Primbon Pawukon, perlambang ini menggambarkan seseorang yang mudah tertusuk perasaannya.

Perkataan orang lain bisa saja membekas cukup lama. 

Sesuatu yang bagi orang lain terasa sederhana, terkadang justru dipikirkan olehnya.

Di sisi lain, orang dengan perlambang ini juga disebut memiliki kecenderungan berbicara secara ceroboh dan kurang berhati-hati.

Ada sisi menarik dari gambaran tersebut. 

Ia bisa sangat peka ketika menerima perkataan orang lain, tetapi pada saat yang sama perlu belajar lebih berhati-hati ketika menyampaikan sesuatu kepada orang di sekitarnya.

Lincah Mencari Jalan

Burung sikatan menjadi salah satu lambang Wuku Manahil. 

Burung ini digambarkan seperti burung kacer yang lincah dan cekatan ketika terbang.

Sifat tersebut kemudian dikaitkan dengan perjalanan usaha yang bisa berganti-ganti. 

Orangnya tidak selalu terpaku pada satu cara ketika mengejar sesuatu. 

Ia dapat mencoba jalan lain dengan tetap memperhitungkan langkah yang diambil.

Kecakapan dan keterampilan menjadi kekuatan tersendiri. 

Ketika menghadapi perubahan, ia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan mencari peluang baru.

Lambang pohon mentaos juga membawa gambaran yang cukup baik. 

Dalam Primbon Pawukon, pohon ini dimaknai sebagai pertanda bahwa usaha yang dilakukan dapat cepat memperoleh hasil.

Kemampuan tersebut juga membuatnya dipercaya mampu menjadi pelindung bagi sanak kerabat dan orang tua.

Pandai Mengurus Milik Sendiri

Tiga elemen warna dalam satu ruangan
Tiga elemen warna dalam satu ruangan (Pexels/Maria Orlova)

Ada pula perlambang gedung yang berada di depan Dewa dan membelakangi jambangan berisi air.

Gedung dengan pintu depan tertutup menggambarkan kemampuan seseorang dalam mengurus harta miliknya. 

Ia disebut cukup mampu menjaga dan mengelola apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Meski begitu, ada sifat yang perlu diperhatikan. 

Orang dengan perlambang ini disebut terkadang suka menyombongkan kebajikan yang pernah dilakukannya dan kurang memperhatikan kebaikan orang lain.

Gambaran tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan pengakuan. 

Apa yang dilakukan dengan tulus tidak harus terus-menerus diceritakan kepada orang lain.

Sementara itu, posisi gedung yang membelakangi jambangan berisi air menggambarkan perangai yang cenderung tenang. 

Ia dipercaya tidak mudah panik ketika menghadapi persoalan maupun ketika menerima suatu perintah.

Jangan Terlalu Lama Berada dalam Keraguan

ilustrasi pilihan iya atau tidak
ilustrasi pilihan iya atau tidak (Tribun Jogja)

Wuku Manahil juga memiliki gambaran sebagai binatang yang kesiangan. 

Perlambang tersebut dikaitkan dengan sifat ragu-ragu dan kurang tanggap dalam menerima firasat atau ilham.

Sikap yang dianggap kurang menguntungkan adalah kurang tegas dan mudah menggerutu.

Padahal, ketelitian dan kecakapan yang dimilikinya sebenarnya dapat menjadi modal yang kuat. 

Karena itu, tantangannya adalah bagaimana tetap berhati-hati tanpa terlalu lama terjebak dalam keraguan.

Dalam urusan usaha, Primbon Pawukon menyebut usaha yang bersifat terpadu sebagai bidang yang dapat memberikan keberhasilan. 

Sementara dalam tradisi yang sama, orang kelahiran Wuku Manahil juga dipercaya memiliki keberuntungan ketika berjudi.

Disclaimer, jangan sampai coba-coba untuk berjudi ya tribunners. 

Primbon tersebut turut memuat sejumlah petunjuk tradisional berupa penangkal dan perlengkapan tertentu. 

Salah satunya dilakukan melalui mandi suci menggunakan air dalam belanga baru yang diberi bunga dhuwuran berupa bunga kantil dan kenanga. 

Kain yang digunakan disebut berupa kain lurik.

Ada pula sesaji berupa serabi secukupnya dengan kembang boreh yang setelah didoakan kemudian dibagikan kepada tujuh orang. 

Bagian ini merupakan praktik tradisional dalam kepercayaan Primbon Jawa dan tidak dapat dipandang sebagai pengobatan medis.

Untuk keluhan kesehatan yang dalam primbon dikaitkan dengan bagian kaki sebelah kanan, disebutkan ramuan tradisional dari daun kawis atau daun maja yang dicampur merica. 

Ramuan tersebut kemudian ditumbuk dan dilumaskan pada pagi hari.

Dalam perlambang lainnya, kain lurik juga dianjurkan ketika berpakaian. 

Sementara ajimat yang disebut dalam sumber berupa sepotong bambu gading yang ditulisi rajah dengan baja.

Tribunners, gambaran tersebut tidak harus dipandang sebagai kepastian tentang masa depan seseorang. 

Anggap saja bagian dari warisan budaya yang memperlihatkan cara masyarakat Jawa dahulu membaca karakter manusia melalui hari kelahiran, alam dan berbagai simbol di sekitarnya.

Nah, itu tadi gambaran dari Wuku Manahil

Lantas, seperti apa gambaran wuku kelahiran lainnya? 

Wuku mana yang paling menarik untuk dibahas berikutnya?

Tulis di kolom komentar ya!

(MG Natasya Aulia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.