Petani di Trimurjo Terancam Kekurangan Air, Irigasi Dikabarkan Berhenti September 2026
taryono August 31, 2026 01:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Para petani di wilayah Mojokerto, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, kini dibayangi ancaman kekeringan akibat terbatasnya pasokan air untuk kebutuhan pertanian.

Minimnya pasokan air membuat petani harus melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga tanaman tetap tumbuh, mulai dari memilih komoditas yang dinilai lebih tahan terhadap kekurangan air hingga melakukan pompanisasi.

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena berdasarkan informasi yang diterima petani, pasokan air irigasi di wilayah tersebut berpotensi dihentikan mulai September 2026 mendatang.

Salah seorang petani setempat, Indra, mengatakan untuk memenuhi kebutuhan air di sawah, petani terpaksa menyedot air dari saluran irigasi besar menggunakan mesin pompa secara berkala.

Frekuensi penyedotan dilakukan mulai seminggu sekali hingga tiga hari sekali, tergantung kebutuhan tanaman.

"Sementara ini hingga akhir Agustus kita masih tertolong sisa air irigasi, volumenya masih memungkinkan untuk dialirkan menggunakan selang dan gravitasi. Tapi nanti kalau volumenya menyusut bakal menggunakan pompa alkon," kata Indra, Senin (31/8/2026).

Ia mengaku khawatir jika pasokan air irigasi benar-benar dihentikan memasuki September hingga Oktober mendatang.

Informasi yang diterima petani, penghentian aliran air tersebut berkaitan dengan rencana rehabilitasi atau peremajaan saluran irigasi.

Menurut Indra, kondisi tersebut menimbulkan dua kemungkinan bagi petani yang saat ini tengah menghadapi musim kemarau, sementara tanaman mereka masih berusia muda.

Jika rehabilitasi benar-benar dilakukan, saluran irigasi harus dikeringkan untuk menunjang proses perbaikan.

"Kalau rehabilitasi, satu sisi saluran irigasi bakal terawat, tapi airnya harus kering. Kalau nggak jadi rehabilitasi, tanaman kita masih tertolong karena ada air sisa di irigasi, bisa dipompa," ujarnya.

"Kalau pembatasan aliran irigasi ini kabarnya sampai bulan 10. Soalnya petugas pengatur aliran air irigasi sudah buat permintaan jatah aliran air lagi bulan 11," tambahnya.

Ketidakpastian pasokan air tersebut turut memengaruhi pilihan komoditas yang ditanam petani.

Indra mengatakan, banyak petani di lahan seluas lebih dari 100 hektare tersebut memilih menanam jagung ketimbang padi sebagai upaya menekan risiko gagal panen akibat kekurangan air. Ia sendiri turut memilih komoditas jagung.

Namun, sebagian petani lainnya tetap menanam padi. Tanaman padi yang ada saat ini berusia paling lama hampir satu bulan.

Selain keterbatasan air, musim tanam kali ini juga diwarnai tingginya risiko serangan hama, terutama tikus.

"Di areal ini belum ada fasilitas sumur bor pertanian. Jadi petani bergantung penuh pada sisa aliran air irigasi besar dan potensi pemanfaatan genangan rawa-rawa sekitar," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat keberlangsungan tanaman petani sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi dan sumber air alternatif di sekitar lahan.

Meski demikian, Indra berharap alokasi air irigasi tetap stabil sehingga tidak menyebabkan penurunan hasil panen secara signifikan di kawasan tersebut.

"Risiko penurunan hasil pasti ada kalau air kurang. Harapan kami ke depan pengairan jangan sampai terlambat agar pertanian tetap berjalan," tutup Indra.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.