TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Berbulan-bulan kapal tongkang bermuatan batu bara mencemari pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Dua pantai yang paling terdampak ceceran batu bara adalah Pantai Cibenda dan Pantai Sukaresik yang wilayahnya saling bersebelahan.
Kapal tongkang yang ditarik Tugboat Titan 33 milik PT Trans Logistik Perkasa tersebut dikandaskan setelah mengalami kerusakan teknis berat saat berada di tengah laut dan berada dalam kondisi darurat.
Kapal tongkang pengangkut batu bara tersebut berlayar dari Palembang menuju Cilacap, sayangnya mengalami kerusakan pada pintu lambung kanan saat berlayar melewati Perairan Pangandaran.
Kini, Pantai Sukaresik yang merupakan bagian dari konservasi pesisir di Kabupaten Pangandaran turut mengalami dampak dari ceceran batu bara.
Secara administratif, Pantai Sukaresik masuk dalam wilayah Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran.
Pantai ini berjarak sekitar 3,7 kilometer dari kawasan Pantai Timur Pangandaran dan 11,6 kilometer dari kantor Bupati Pangandaran di Kecamatan Parigi.
Lokasinya yang berada di bentang pesisir Teluk Parigi dan menghadap Samudera membuat pantai ini memiliki pemandangan yang tak kalah memikat dengan pantai tujuan wisata lainnya di Kabupaten Pangandaran.
Karakter pantai ini rendah terhadap permukaan laut, mudah dipengaruhi pasang-surut air laut, dan memiliki hubungan langsung dengan ekosistem pesisir.
Adapun alasan Pantai Sukaresik jadi lokasi mengkandaskan kapal dikarenakan menurut pihak kepolisian, kawasan tersebut relatif sepi dari aktivitas wisatawan yang berenang maupun nelayan yang menangkap ikan sehingga risikonya lebih rendah terhadap masyarakat.
Pengkandasan kapal tongkang pengangkut batu bara tersebut menimbulkan masalah lingkungan di Pantai Sukareski.
Material hitam tersebut berasal dari muatan kapal tongkang berceceran dan terbawa arus hingga ke bibir pantai.
Berdasarkan data TribunJabar.id, tumpahan batu bara tersebut sebanyak 8.109 ton.
Sebaran material batu bara muncul dari kawasan bibir Pantai Sukaresik dan berpotensi meluas ke arah kawasan wisata Batu Hiu.
"Ya banyak butiran batu bara, Kang. Pokoknya sekarang pantai tercemar," kata Ade Muridin, nelayan setempat kepada Tribun Jabar di Pangandaran, Kamis (18/6/2026) pagi.
Pantauan Tribun Jabar di lokasi tepat di Pantai Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (29/8/2026) pagi, bangkai tongkang tersebut tertutup gelombang laut.
Sementara itu, ceceran batu bara yang tumpah dan masih berada di dasar laut juga tidak terlihat dari permukaan.
Hingga kini, pihak ketiga yang akan melakukan proses evakuasi bangkai tongkang masih dalam tahap persiapan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena material batu bara dari tongkang sebelumnya sudah mencemari sejumlah kawasan pesisir Pangandaran.
Batu bara yang ikut 'karam' di Pangandaran tersebut berasal dari wilayah daratan di Sumatera dan menempuh perjalanan panjang yang rumit.
Nautica 22 yang kandas itu disebutkan mengirimkan batu bara dari Palembang ke Cilacap.
Itu berarti Nautica 22 mengambil batu bara dari Dermaga Kertapati, pelabuhan batu bara paling utama yang dikelola sepenuhnya oleh BUMN PT Bukit Asam Tbk.
Dermaga Kertapati ini terletak di bantaran Sungai Musi, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan.