Tensi Timur Tengah Memanas: Iran dan AS Saling Serang, Harga Minyak Naik
Darwin Sijabat August 31, 2026 02:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kian membara usai terjadi aksi saling gempur antara militer Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Peningkatan tensi militer di jalur vital pelayaran dunia ini langsung memicu gejolak pada pasar energi global, ditandai dengan lonjakan tajam harga minyak mentah.

Eskalasi pertempuran meletus setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan gelombang rudal dan pesawat nirawak (drone) ke dua pangkalan militer AS di Yordania, yakni Pangkalan King Hussein dan Al Azraq, pada Senin (31/8/2026) dini hari waktu setempat. 

Operasi militer bertajuk 'Hukuman bagi Agresor' tersebut dilancarkan sebagai balasan atas gempuran militer AS di Pulau Larak, kawasan strategis selatan Iran, pada Minggu (30/8/2026).

Pihak IRGC mengklaim gempuran tersebut berhasil melumpuhkan fasilitas jet tempur dan merusak infrastruktur teknis musuh. 

IRGC turut melayangkan gertakan terbuka kepada Washington dan para sekutunya.

"Agresi dan kejahatan tidak akan menyelesaikan keputusasaan musuh dalam mencoba melemahkan kendali Republik Islam atas Selat Hormuz, dan setiap serangan akan dibalas dengan respons yang lebih menghancurkan," tegas pernyataan resmi IRGC.

Namun, narasi keberhasilan tersebut dibantah oleh pihak AS dan Yordania. 

Seorang pejabat AS menyatakan kepada Al Jazeera bahwa seluruh gempuran berhasil dicegat, setelah sebelumnya Washington menghancurkan kapasitas penempatan ranjau Teheran di Pulau Larak.

"Serangan rudal terhadap pasukan AS di Yordania membuktikan bahwa Iran tidak lagi menjadi kekuatan seperti dulu," ujar pejabat AS tersebut.

Sistem pertahanan udara Yordania juga mengonfirmasi telah melumpuhkan delapan rudal balistik jarak menengah Iran yang menerobos wilayah udaranya pada waktu subuh, serta memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka di kedua pangkalan militer.

Pasar Energi Bergejolak dan Perebutan Selat Hormuz

Konflik bersenjata yang telah memasuki bulan ketujuh ini berdampak langsung pada perdagangan energi. 

Pada perdagangan Senin pagi (31/8/2026) pukul 07:40 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent menguat 1,08 dolar AS (1,23 persen) ke level 89,18 dolar AS per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 92 sen (1,10 persen) ke posisi 84,32 dolar AS per barel.

Baca juga: Pesan Mojtaba Khamenei ke Negara Islam & Kru NBC Diserang AS-Israel di Tepi Barat

Baca juga: Rekam Jejak Komjen Fadil Imran: Akpol 91 Bareng Kapolri Kini Purna Tugas

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai pasar sedang merespons fase baru dari eskalasi militer ini.

"Sepertinya kita berada dalam fase eskalasi lainnya. Berapa lama itu berlangsung tidak mungkin ditentukan. Bisa beberapa hari, bisa beberapa minggu," ujar Tony kepada Reuters.

Pertempuran di Pulau Larak menunjukkan Washington tak ragu menggunakan kekuatan tempur di samping sanksi ekonomi demi menundukkan program nuklir Teheran. 

Meski AS mengeklaim telah mengamankan rute perdagangan Selat Hormuz, ancaman terhadap armada kapal komersial masih terjadi hampir setiap hari seiring sikap keras Iran yang mempertahankan blokade lautnya.

Baca juga: Daftar BUMN dengan Karyawan Terbanyak Versi Fortune Indonesia 100 2026 - BRI, Mandiri, PLN

Baca juga: Profil Brigjen Hengki Haryadi, Penakluk Hercules Ditunjuk Jadi Kapolda Papua Barat Daya

Baca juga: Daftar Lengkap Mutasi 3 Kapolres dan 2 PJU Polda Jambi, Ada Kabid Propam

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.