Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Resmi Ditutup, Prabowo Jadi Warga Kehormatan, Terima KartaNU
Samsul Arifin August 31, 2026 02:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Dari pantauan wartawan TribunJatim.com, di lokasi muktamar NU ke-35 hingga pukul 11.40 WIB, Presiden RI, Prabowo Subianto secara resmi menutup perhelatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/ Kabupaten Jombang, Jawa Timur. 

Kehadiran Kepala Negara untuk yang kedua kalinya ini menjadi penutup seluruh rangkaian forum tertinggi  Nahdliyin, yang berlangsung selama lima hari mulai 27-31 Agustus 2026 di Kota Santri. 

Dua Kali Dihadiri Presiden

Muktamar NU tahun ini menorehkan sejarah baru, dua kali dihadiri oleh Presiden mulai dari pembukaan 27 Agustus dan penutupan pada hari ini, Senin (31/8/2026).

Momentum lima tahunan ini juga melahirkan kebijakan baru, utamanya adalah voting tentang mekanisme pemilihan AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi). Rais Aam serta Ketua Umum (Ketum) PBNU, dipilih oleh AHWA yang beranggotakan 9 kiai tokoh NU. 

KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, dengan masa khidmah 2026-2031.

Baca juga: Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU, Pengamat Unesa: Hubungan dengan Istana Semakin Harmonis

Mekanisme AHWA dan Kepemimpinan PBNU 2026-2031

Presiden Prabowo mengapresiasi penyelenggaraan Muktamar NU di Tambakberas yang berlangsung sukses dari awal pembukaan, rangkaian kegiatan hingga penutupan.

Dirinya juga berterima kasih kepada Dzurriyat Mbah Wahab (Pahlawan Nasional, KH Abdul Wahab Hasbullah) yang ditempati Muktamar. 

Prabowo menjadi warga kehormatan Nahdhatul Ulama, dan memperoleh Kartu Tanda Anggota NU (KartaNU). 

Presiden Prabowo didampingi Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketum PBNU Gus Kikin, mengetuk kentongan sebagai tanda berakhirnya rangkaian Muktamar NU. 

Iring-iringan mobil kepresidenan meninggalkan lokasi di Gedung Serba Guna (GSG) PP Bahrul.Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur, pukul 11.40 WIB. 

Muktamar NU ke-35 Berlangsung Lima Hari

Muktamar ke-35 NU berlangsung sejak Kamis (27/8/2026) hingga Senin (31/8/2026) di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Kehadiran Presiden dalam pembukaan dan penutupan, menjadikan Muktamar kali ini bersejarah.

Dengan kedatangan Prabowo di Jombang, rangkaian Muktamar NU ke-35 kini memasuki agenda pamungkas. Penutupan akan menjadi bagian akhir dari forum yang mempertemukan para pengurus dan peserta NU dari berbagai daerah tersebut.

Pantauan wartawan TribunJatim.com, Muktamar tersebut menghasilkan pasangan kepemimpinan baru di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). 

KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam, sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.

Keduanya dipilih melalui mekanisme musyawarah Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). 

Mekanisme tersebut menempatkan ulama yang mendapat mandat dari peserta Muktamar untuk bermusyawarah menentukan kepemimpinan NU.

Penetapan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dilakukan setelah anggota AHWA menyelesaikan musyawarah terhadap lima nama calon yang sebelumnya telah ditetapkan melalui proses penjaringan dalam sidang pleno.

"Setelah melakukan musyawarah dari lima nama calon, maka AHWA secara mufakat memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031," kata KH Anwar Iskandar saat membacakan hasil keputusan AHWA di Halaman Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Senin (31/8/2026) pukul 08.30 WIB. 

Gus Kikin Terpilih Lewat Musyawarah AHWA

Sebelum ditetapkan sebagai Ketua Umum, Gus Kikin memang menjadi figur yang memperoleh dukungan paling besar dalam proses tabulasi nama usulan calon Ketua Umum PBNU.

Dari total 551 suara yang masuk dalam proses penjaringan, Gus Kikin memperoleh 472 suara. Perolehan tersebut menempatkannya jauh di atas empat nama lainnya yang masuk dalam daftar calon.

Proses tabulasi dilakukan secara manual. Para pemilik suara menuliskan nama calon yang diusulkan, kemudian memasukkannya ke dalam kotak suara. Selanjutnya, nama-nama tersebut dihitung dan dibacakan satu per satu oleh pimpinan sidang.

Hasil tabulasi awal menempatkan Gus Kikin dengan 472 suara, disusul KH Zulfa Mustofa 262 suara, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya 258 suara, dan KH Nusron Wahid 207 suara.

Namun, proses tersebut belum langsung menetapkan lima nama yang akan dibawa ke AHWA. Setiap nama tetap harus melalui verifikasi persyaratan pencalonan yang telah ditetapkan dalam Muktamar.

Nusron Wahid dinyatakan tidak memenuhi syarat karena masih menduduki jabatan politik sebagai menteri. Posisi berikutnya kemudian diisi KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf yang berada di peringkat keenam, tetapi juga dinyatakan tidak memenuhi syarat karena ketentuan masa iddah jabatan politik.

Nama berikutnya, KH Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, yang berada di posisi ketujuh, juga tidak dapat melanjutkan karena masih menduduki jabatan politik.

Dari proses tersebut, KH Abdul Ghofar Rozin atau Gus Rozin yang berada di peringkat kedelapan akhirnya masuk sebagai nama kelima dan dinyatakan memenuhi syarat. Lima nama yang kemudian diajukan kepada AHWA yakni Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin.

AHWA selanjutnya melakukan musyawarah untuk menentukan Ketua Umum PBNU. Dalam musyawarah tersebut, lima nama calon dibahas sebelum akhirnya keputusan diambil secara mufakat.

Pilihan AHWA akhirnya jatuh kepada Gus Kikin. Keputusan tersebut sekaligus menempatkan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu sebagai pemimpin baru jajaran Tanfidziyah PBNU untuk lima tahun mendatang.

Gus Kikin Siap Jalankan Amanah

Gus Kikin mengaku optimistis sekaligus siap menjalankan amanah tersebut. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak menyangka bisa masuk hingga menjadi calon nomor lima setelah sebelumnya berada di urutan kedelapan dalam tabulasi.

"Ya optimis dan siap. Saya kira tidak menyangka karena tadi saya nomor urut delapan. Memang beberapa nomor urut yang atas saya tidak bisa karena sesuatu aturan. Alhamdulillah saya bisa nomor urut lima dan semoga bisa memberikan yang terbaik," ujar Gus Kikin.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng ini juga menyampaikan terima kasih kepada para muktamirin yang telah memberikan kepercayaan. Bagi Gus Kikin, kemenangan dalam Muktamar bukan semata-mata kemenangan seorang ketua umum, melainkan harus bermuara pada keberlanjutan NU dan generasi penerusnya.

"Nahdlatul Ulama harus menang, bukan ketuanya, bukan orangnya, tetapi anak cucunya yang harus memaknai Muktamar ini," katanya.

Sosok Gus Kikin

Gus Kikin bukan sosok baru dalam lingkungan NU. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum. Dari jalur ibunya, Gus Kikin merupakan cucu Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU.

Sementara dari jalur ayah, nasab Gus Kikin tersambung kepada KH Anwar bin Alwi, pendiri Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang. Latar belakang tersebut membuat Gus Kikin memiliki kedekatan kultural dengan sejarah panjang perkembangan NU.

Gus Kikin juga dikenal sebagai Ketua PWNU Jawa Timur dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Ia dipercaya meneruskan kepemimpinan Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Di bawah kepemimpinannya, Pesantren Tebuireng terus mengembangkan jaringan pendidikan dan pesantren. Saat ini, Tebuireng memiliki sejumlah cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam perjalanan menuju kepemimpinan PBNU, Gus Kikin juga membawa gagasan mengenai penguatan kembali tata kelola organisasi dengan berpegang pada spirit dasar Qanun Asasi NU. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dan ukhuwah agar organisasi tidak terjebak dalam polarisasi.

Qanun Asasi merupakan rumusan gagasan dasar yang menjadi salah satu pijakan penting dalam berdirinya NU. Dokumen tersebut memuat pemikiran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari mengenai dasar dan arah perjuangan organisasi.

KH Miftcahul Akhyar Jadi Rais Aam

Sementara itu, di posisi Rais Aam, KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriah PBNU masa khidmat 2026-2031. Keputusan tersebut juga diambil melalui mekanisme AHWA.

Musyawarah AHWA untuk menentukan Rais Aam berlangsung di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Hasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026) malam.

Rapat AHWA dibuka KH Nurul Huda Djazuli dan dipimpin KH Miftachul Akhyar. Musyawarah berlangsung sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB dan menghasilkan keputusan secara mufakat.

"Memutuskan, KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031," kata KH Anwar Iskandar saat membacakan keputusan AHWA di hadapan para muktamirin.

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar menegaskan keberlanjutan kepemimpinan ulama sepuh dalam jajaran Syuriah PBNU. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Kedung Tarukan, Surabaya.

Sosok KH Miftcahul Akhyar 

Kiai Miftach lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953. Ia merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, dan Nyai Hj Siti Ashfiyah. Ia merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Dalam perjalanan keilmuannya, KH Miftachul Akhyar pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pesantren Lasem Rembang.

Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021, Kiai Miftach juga masuk dalam jajaran nama AHWA. Saat itu, ia memperoleh 395 suara dalam proses penjaringan anggota AHWA.

Sementara pada Muktamar ke-35, sejumlah ulama kembali mendapatkan mandat sebagai anggota AHWA. KH Nurul Huda Djazuli dari Pondok Pesantren Ploso, Kabupaten Kediri, menjadi peraih suara tertinggi dengan 486 suara.

Selain KH Nurul Huda Djazuli, terdapat dua ulama asal Kediri lainnya yang masuk dalam sembilan anggota AHWA, yakni KH Anwar Iskandar dengan 327 suara dan KH Anwar Manshur dengan 304 suara.

Kombinasi kepemimpinan Gus Kikin di jajaran Tanfidziyah dan KH Miftachul Akhyar di jajaran Syuriah selanjutnya akan menjadi tumpuan PBNU dalam menjalankan roda organisasi lima tahun ke depan.

Dalam pesannya, KH Anwar Iskandar mengingatkan agar kepemimpinan baru tidak berjalan sendiri. Ia meminta Rais Aam dan seluruh jajaran NU mengajak berbagai elemen organisasi untuk bersama-sama mengurus NU.

"Untuk ke depan mengurus Nahdlatul Ulama secara bersama-sama," pesannya usai membacakan ketua baru. 

Usai ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin juga menandatangani pakta integritas sebagai bentuk kesanggupan untuk mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di lingkungan PBNU.

Seusai penetapan, Gus Kikin menegaskan bahwa NU harus dikelola secara inklusif dengan melibatkan seluruh elemen. Ia menyebut kebersamaan menjadi kunci agar organisasi dapat bergerak lebih kuat.

Terkait hubungan NU dengan politik, Gus Kikin menegaskan bahwa NU merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, bukan organisasi politik. Karena itu, jalannya organisasi harus tetap berpijak pada mandat keagamaan dan kemasyarakatan.

"Jadi, ini satu organisasi keagamaan. Organisasi kemasyarakatan. Dan, ya, bukan untuk berpolitik," ucapnya. 

Menurutnya, hubungan baik dengan pemerintah tetap penting selama ditempatkan dalam kerangka kemaslahatan masyarakat. NU, kata dia, memiliki kewajiban untuk ikut mendorong pemerintahan berjalan dengan baik tanpa menjadikan organisasi sebagai kendaraan politik.

Gus Kikin juga menyinggung pentingnya penguatan sejumlah sektor yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, terutama pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sosial.

"Itu kewajiban. Kita di organisasi Islam itu wajib untuk (berhubungan-red) ke pemerintahan, kita beriringan," jelasnya. 

Untuk kepengurusan PBNU yang baru, penyusunan perangkat organisasi ditargetkan dapat dilakukan paling maksimal dalam waktu satu bulan. Namun, Gus Kikin membuka kemungkinan proses tersebut dipercepat agar roda organisasi segera berjalan.

Dengan tuntasnya pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum, Muktamar ke-35 NU memasuki fase baru. Tantangan kepemimpinan Gus Kikin dan KH Miftachul Akhyar bukan lagi sekadar memenangkan kontestasi, melainkan memastikan hasil Muktamar mampu diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang menyatukan seluruh kekuatan Nahdlatul Ulama.

"Kita itu on the track, kita harus bersatu untuk menjaga kerukunan," tandasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.