TRIBUNTRENDS.COM - GRIB Jaya membantah tudingan yang menyebut anggota organisasinya terlibat dalam aksi kekerasan dan pengeroyokan terhadap seorang lansia hingga meninggal dunia saat kericuhan pascademonstrasi di sekitar DPR.
Sekretaris Jenderal DPP GRIB Jaya, Zulfikar, menegaskan pihaknya tidak melakukan tindakan kekerasan sebagaimana narasi yang ramai beredar di media sosial. Menurut dia, sejumlah tudingan yang menyebut GRIB Jaya sebagai musuh rakyat dan pengemudi ojek online merupakan informasi yang tidak benar.
Klarifikasi tersebut disampaikan Zulfikar melalui video yang diunggah akun media sosial GRIB Jaya pada Minggu malam.
Zulfikar mengatakan GRIB Jaya memang berada di lokasi kericuhan untuk membantu pihak keamanan membubarkan massa yang disebutnya sudah tidak lagi menjalankan aksi demonstrasi. Ia membedakan antara massa aksi yang menggelar demonstrasi pada siang hari dengan kelompok yang kemudian melakukan kerusuhan hingga malam.
“GRIB Jaya adalah organisasi kemasyarakatan yang tentunya sudah pasti bersama-sama masyarakat,” kata Zulfikar.
Namun, ia menegaskan organisasinya tidak berpihak kepada kelompok yang melakukan tindakan anarkis.
Baca juga: Terkuak! Kerusuhan Demo DPR Ternyata Disetting: Polisi Kantongi Sosok Penggerak hingga Pemberi Dana
“Masyarakat yang mana? Ya, masyarakat yang bukan melakukan tindakan-tindakan anarkis,” ujarnya.
Zulfikar menyebut demonstrasi memiliki aturan yang harus dipatuhi, sementara massa yang berada di lokasi hingga tengah malam disebut telah melakukan perusakan fasilitas umum dan kendaraan warga.
“Demo apa tengah malam?” ucapnya.
Ia kemudian membantah secara tegas tudingan bahwa anggota GRIB Jaya menjadi pihak yang melakukan pengeroyokan hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
“Katanya ada yang meninggal dipukulin ya. Mungkin teman-teman lihat itu di TikTok ada meninggal dipukulin. Itu bukan GRIB yang mukulin, itu pendemo yang mukulin,” katanya.
Zulfikar juga menyatakan lokasi peristiwa pengeroyokan yang menewaskan korban berbeda dengan area tempat anggota GRIB Jaya berada pada malam kerusuhan tersebut.
“Tidak ada itu yang mati dipukulin itu bukan oleh GRIB, tapi oleh pendemo sendiri dan itu wilayahnya tempatnya juga berbeda,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Zulfikar turut menyoroti adanya batu-batu berukuran besar yang digunakan dalam kericuhan. Ia mengklaim batu tersebut bukan berasal dari jalanan di Jakarta, melainkan diduga telah dipersiapkan sebelumnya. Menurut Zulfikar, batu yang dilemparkan massa memiliki bentuk serupa dan terlihat seperti hasil cetakan semen.
“Jadi kita dilempari batu dan batu yang mereka pakai itu adalah batu cetakan dari semen. Dan di setiap titik batunya modelnya sama. Berarti mereka sudah menyiapkan semua itu,” kata Zulfikar.
Ia pun mempertanyakan asal-usul batu tersebut karena menurutnya jalanan Jakarta tidak lazim memiliki batu besar seperti yang digunakan dalam kericuhan.
“Batu itu bukan batu alami. Di Jakarta itu jalannya enggak ada batu. Enggak ada batu-batu segede gini di jalanan Jakarta itu,” ujarnya.
Atas dasar itu, Zulfikar menduga kerusuhan tersebut telah dikondisikan sebelumnya.
“Artinya ini sudah dikondisikan,” katanya.
Zulfikar juga meminta para anggota GRIB Jaya tidak terpengaruh oleh berbagai narasi yang beredar di media sosial.
Ia menegaskan pihaknya tidak ingin melakukan tindakan anarkis, tetapi tetap mengklaim memiliki hak untuk melawan apabila mendapat serangan terlebih dahulu.
“Kita berada di posisi yang benar dan kita juga tidak mau berada di posisi yang tidak benar ikut-ikutan melakukan tindakan anarkis. Tapi kalau mereka yang memulai duluan, mereka yang anarkis duluan, kita juga punya hak sebagai rakyat,” ucapnya.
Di sisi lain, Habib Bahar bin Smith menyampaikan kemarahannya terhadap kelompok atau organisasi masyarakat yang diduga terlibat dalam kericuhan hingga menyebabkan seorang warga bernama Bambang Setiawan meninggal dunia.
Bahar menyampaikan pernyataan tersebut saat mendatangi rumah duka Bambang Setiawan, yang disebut berusia 59 tahun. Ia menuntut aparat penegak hukum menangkap dan memproses seluruh pihak yang terlibat dalam pengeroyokan terhadap korban.
“Bapak Bambang sampai meninggal dunia itu dikeroyok, dianiaya. Kurang ajar, biadab. Itu pelaku-pelakunya wajib ditangkap, harus ditangkap,” kata Bahar.
Bahar menegaskan proses hukum tidak boleh membeda-bedakan organisasi atau kelompok mana pun yang diduga terlibat dalam tindak kekerasan.
“Jadi enggak bisa dibiarkan ormas-ormas itu, mau GRIB, mau PWI, siapapun yang ikut di situ semua harus ditangkap, ditahan,” ujarnya.
Ia mengaku tidak gentar menghadapi kelompok mana pun dan menyatakan akan berada di pihak masyarakat.
“Mau siapa pun, mau GRIB, mau siapa pun, mau PWI, mau siapa pun. Jadi wajib ditahan, wajib ditangkap,” katanya.
Di hadapan keluarga korban, Bahar juga menegaskan posisinya untuk mengawal kasus tersebut.
“Ketika mereka berada di sisi penguasa, saya berada di sisi rakyat,” ucap Habib Bahar.
Sebelumnya, beredar narasi di media sosial yang menuding GRIB Jaya terlibat dalam aksi kekerasan saat kericuhan pascademonstrasi DPR. Organisasi tersebut bahkan dikaitkan dengan dugaan pengeroyokan terhadap Bambang Setiawan hingga meninggal dunia.
GRIB Jaya melalui Sekretaris Jenderal DPP Zulfikar telah membantah tudingan tersebut dan menyatakan anggotanya tidak melakukan pengeroyokan terhadap korban.
Sementara itu, Habib Bahar bin Smith meminta seluruh pihak yang terbukti terlibat dalam aksi kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia untuk ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
(TribunTrends)