Komisi III DPRD Batam Minta ABH Cepat Tangani Krisis Air, Jangan Biarkan Masyarakat Kesulitan
Septyan Mulia Rohman August 31, 2026 03:07 PM

 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Gangguan suplai air bersih akibat perbaikan sejumlah pipa bocor membuat warga di beberapa wilayah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kecamatan Batuaji dan Sagulung menjadi daerah yang paling merasakan dampak gangguan tersebut.

Meski proses perbaikan pipa bocor di sejumlah titik telah dilakukan, distribusi air bersih hingga kini belum sepenuhnya kembali normal.

Sejumlah titik kebocoran sebelumnya diketahui terjadi di kawasan Muka Kuning, Pasar Melayu hingga Bundaran Basecamp.

Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Komisi III DPRD Batam.

Baca juga: Mati Air di Batam Bikin Merana, Warga Sagulung Masih Tampung Air Hingga Pukul 02.00 WIB

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Batam, Arlon Veristo, meminta pengelola air bersih untuk cepat tanggap menangani persoalan yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

Arlon mengatakan, gangguan dalam pelayanan distribusi air memang tidak sepenuhnya bisa dihindari. 

Namun, setiap persoalan harus segera diatasi dan disertai solusi agar masyarakat tidak terlalu lama menanggung dampaknya.

“Masalah itu mungkin tidak bisa dihindari. Tetapi di balik masalah itu harus ada solusi, sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan kebutuhan air,” kata Arlon Veristo, Senin (31/8/2026).

Arlon menegaskan, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat.

Karena itu, setiap gangguan harus menjadi perhatian serius dan secepatnya ditangani.

“Kami minta kalau memang ada gangguan, secepatnya harus diatasi. Karena ini menyangkut kebutuhan masyarakat banyak. Air ini merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat,” kata Arlon.

Baca juga: Ketika Air Mati di Batam, Jangan Hanya Tanya Kapan Pipa Selesai Diperbaiki

Arlon mengaku prihatin karena gangguan distribusi air di sejumlah kawasan masih berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

Sebelumnya, masyarakat sempat mendapat informasi bahwa gangguan akan berlangsung sekitar enam hingga tujuh jam. 

Namun, hingga saat ini tekanan air di sejumlah wilayah masih kecil bahkan belum mengalir normal.

Arlon, mengatakan kondisi tersebut masih dirasakan warga di sejumlah kawasan, terutama daerah Tanjunguncang dan wilayah lain di daerah pemilihannya.

“Kalau kemarin katanya sekitar enam sampai tujuh jam, tetapi sampai sekarang kondisinya masih kecil. Khususnya di daerah-daerah seperti Tanjunguncang, masih ada masyarakat yang terdampak,” katanya.

Komisi III DPRD Batam meminta pihak pengelola air bersih, ABH, serius mempercepat penanganan gangguan tersebut dan memprioritaskan wilayah yang paling terdampak.

Arlon menekankan, masyarakat tidak boleh dibiarkan kesulitan mendapatkan air bersih hanya karena proses normalisasi distribusi membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Daerah terdampak harus menjadi fokus penanganan. Yang paling penting, masyarakat jangan sampai dibiarkan kesulitan. Harus ada solusi bagi masyarakat,” tegas Arlon. (TribunBatam.id/Pertanian Sitanggang)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.