PROHBA.CO, BANDA ACEH – Momen haru sekaligus menggelegar mewarnai malam puncak penganugerahan Serambi Awards 2026 yang mengusung tema “Gebrakan Sang Pemimpin”.
Dalam gelaran yang berlangsung megah di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026) malam, ketabahan dan daya juang masyarakat Aceh kembali digelorakan.
Hadir mewakili Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Adwil) Kemendagri sekaligus Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Dr. Safrizal ZA, M.Si., menyampaikan pidato kebangsaan yang membakar semangat ratusan tokoh dan tamu undangan.
Di hadapan para pejabat daerah dan tokoh masyarakat, Safrizal menegaskan bahwa sejarah panjang telah membuktikan bahwa Aceh bukanlah wilayah yang dibangun atas fondasi kerapuhan.
“Aceh bukan dibangun dari kerapuhan.
Tanah Rencong tumbuh dari ketabahan yang mengakar, ditempa berulang kali oleh bencana, konflik, dan berbagai ujian kehidupan.
Karena itu, setiap kali badai datang, masyarakat Aceh selalu memiliki kekuatan untuk bangkit dan membangun kembali masa depan yang lebih baik,” ujar Safrizal disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Baca juga: Mohd Din Purnatugas Setelah 37 Tahun Mengabdi, Serambi Indonesia Gelar Pelepasan Penuh Haru
Ujian Kualitas Kepemimpinan Saat Bencana
Dalam perhelatan yang memasuki tahun keenam penyelenggaraannya tersebut, Safrizal ZA juga dianugerahi penghargaan Serambi Awards 2026 atas dedikasi dan kiprah nyatanya memimpin percepatan penanganan serta pemulihan Aceh pascabencana hidrometeorologi.
Mantan Penjabat (Pj) Gubernur Aceh periode 2024–2025 itu menguraikan betapa dampak bencana tidak sekadar meluluhlantakkan infrastruktur fisik, tetapi juga meninggalkan duka mendalam, merusak sendi ekonomi, dan membayangi masa depan masyarakat dengan ketidakpastian.
Ia mengatakan, bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur.
Lebih dari itu, bencana juga meninggalkan duka dan trauma, memutus rantai aktivitas ekonomi, serta menghadirkan ketidakpastian mengenai masa depan masyarakat terdampak.
Di titik krusial inilah, menurut Safrizal, kualitas sejati seorang pemimpin diuji secara nyata.
Pemimpin tidak boleh hanya menampakkan wajah saat situasi dalam kondisi aman dan nyaman semata.
“Pemimpin tidak hanya hadir ketika keadaan baik-baik saja.
Kualitas pemimpin justru terlihat ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja,” tegasnya.
Safrizal menambahkan, ketika warga kehilangan tempat tinggal, pemimpin harus hadir menjadi benteng perlindungan.
Ketika masyarakat kehilangan harapan, pemimpin harus menjadi orang pertama yang meyakinkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana.
Saat asa masyarakat meredup, seorang pemimpin wajib berada di garis terdepan untuk meyakinkan rakyatnya bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
“Kita akan bangkit. Kita akan pulih. Dan kita akan membangun kembali Aceh dengan lebih kuat,” pekiknya optimistis.
Baca juga: Kapolri Tunjuk Kombes Carlie Syahputra Bustamam Jadi Kabidpropam Polda Aceh
Prinsip Build Back Better dan Orkestrasi Kolaborasi
Menyitir arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan bencana di Pulau Sumatera, Safrizal menekankan pentingnya filosofi Build Back Better dalam setiap tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada upaya mengembalikan kondisi fisik seperti semula, melainkan harus memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun infrastruktur dan sistem ketahanan masyarakat yang jauh lebih kuat serta responsif.
Safrizal mengingatkan agar dalam proses pemulihan skala besar ini, tidak boleh ada satu pun kelompok masyarakat atau wilayah yang merasa diabaikan.
“Tidak boleh ada masyarakat yang tertinggal dalam proses pemulihan pascabencana.
Tidak boleh ada wilayah yang merasa dilupakan, dan tidak boleh ada keluarga terdampak yang kehilangan harapan masa depannya,” tegas Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang kolaboratif dan tidak mengedepankan ego sektoral.
Mengutip sebuah adagium kepemimpinan, ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak akan pernah mengklaim keberhasilan secara sepihak atau melempar kesalahan kepada bawahan.
“Seseorang belum layak disebut pemimpin jika ketika berprestasi menunjuk dadanya sendiri, tetapi ketika terjadi kesalahan justru menunjuk wajah orang lain.
Kepemimpinan bukanlah variabel tunggal yang berdiri sendiri, melainkan hasil kristalisasi dari kolaborasi dan kerja multipihak yang diorkestrasi secara konstruktif,” papar Safrizal.
Apresiasi untuk Insan Pers dan Puncak Serambi Awards
Malam anugerah Serambi Awards 2026 turut dihadiri oleh sederet tokoh penting Aceh, mulai dari Wali Nanggroe Aceh, unsur Pemerintah Aceh, Ketua DPRA, Ketua TP PKK Aceh, jajaran Forkopimda, bupati dan wali kota se-Aceh, pimpinan perguruan tinggi, hingga insan pers.
Safrizal berharap Serambi Awards 2026 dapat menjadi momentum untuk terus memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Safrizal menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Harian Serambi Indonesia yang terus konsisten mengawal pembangunan Aceh melalui ruang apresiasi positif.
Ia berharap ajang ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan katalisator lahirnya inovasi dan praktik baik (best practices) kepemimpinan di seluruh penjuru Tanah Rencong.
“Selamat kepada seluruh penerima award yang sudah diselenggarakan untuk keenam kalinya ini.
Jadikan penghargaan ini bukan titik akhir pengabdian, melainkan batu loncatan untuk melahirkan gebrakan yang lebih besar bagi masyarakat Aceh,” tutup Safrizal mengakhiri sambutannya.
“Forum penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi terhadap keberanian, kepemimpinan serta kontribusi nyata berbagai pihak dalam mendorong pemulihan Aceh pascabencana hidrometeorologi,” pungkasnya.
(Serambinews.com/Indra Wijaya)
Baca juga: Wartawan Serambi Indonesia dan Keluarga Alami Kecelakaan di Gunung Trans Nagan Raya
Baca juga: UPT Bahasa USK dan BP3MI Aceh Perkuat Kapasitas Calon Pekerja Migran dari SMK