TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Warga Banyuwangi mengeluhkan kelangkaan gas LPG 3 kilogram (kg) dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah pangkalan dan subpangkalan di wilayah pusat kota dilaporkan kehabisan stok.
Kelangkaan tersebut membuat warga harus berkeliling mencari gas bersubsidi yang biasa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil.
Udin, warga Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, mengaku kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg. Selama dua hari terakhir, ia telah mendatangi sekitar 10 pangkalan dan subpangkalan, tetapi tidak menemukan stok.
Baca juga: Warga Bondowoso Tertipu Rp 7,4 Juta, Ditawari Kuota Pangkalan LPG 3 Kg
"Stok kosong semua. Saya keliling ke sekitar sepuluh pangkalan dan subpangkalan, tapi tidak ada stoknya semua," kata Udin, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas rumah tangga, terutama untuk kebutuhan memasak.
Keluhan serupa disampaikan Sofyan, pedagang kopi di Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi. Ia mengaku kehabisan elpiji saat berjualan.
Sofyan sempat mencari gas 3 kg ke sejumlah pangkalan dan subpangkalan di Tamanbaru dan sekitarnya. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
"Kosong semua. Akhirnya saya tidak jadi beli," ujarnya.
Baca juga: SMKN 3 Bondowoso Ubah Motor dan Mobil BBM Jadi Hybrid, Tambah LPG 3 Kg Bisa Tempuh 245
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi Heni Sugiharti menjelaskan, kelangkaan elpiji terjadi akibat kendala teknis pada proses pengisian tangki dan pendistribusian dari tangki menuju Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).
Gangguan tersebut berdampak pada distribusi elpiji ke sejumlah SPBE yang melayani kebutuhan masyarakat di Banyuwangi.
"Hari ini informasi dari Pertamina ada delapan tangki yang didatangkan dari Gresik dengan kapasitas pertangki 15 ribu kg untuk pengisian 3.920 tabung LPG 3 kg," kata Heni.
Baca juga: Selang Regulator LPG Bocor, Warung Makan di Muncar Banyuwangi Ludes Terbakar
Namun, kedatangan delapan tangki tersebut belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan elpiji di Banyuwangi.
"Kami terus berupaya agar kuota untuk Banyuwangi dapat segera terpenuhi," ujarnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) membenarkan adanya hambatan distribusi elpiji di Banyuwangi dan Situbondo.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan, gangguan terjadi setelah operasional fasilitas pengisian elpiji milik PT MMP Bosowa terganggu sejak Rabu (26/8/2026).
"Gangguan operasional tersebut dipengaruhi adanya kegiatan penyampaian aspirasi terkait persoalan lahan di lingkungan PT MMP Bosowa yang berdampak pada terbatasnya akses menuju fasilitas," terang Ahad dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (31/8/2026).
Menurut Ahad, kondisi tersebut turut memengaruhi proses pengisian skid tank elpiji untuk sejumlah SPBE di Banyuwangi dan Situbondo.
Berdasarkan pemantauan Pertamina, dari delapan SPBE yang melayani wilayah Banyuwangi dan Situbondo, lima SPBE mengalami keterbatasan stok.
Baca juga: Setelah LPG, MinyaKita juga Naik Tembus Rp 22.000 per Liter di Jember, Stok Langka di Pasaran
Pertamina menyatakan telah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan elpiji 3 kg di tengah gangguan distribusi.
Pertamina berkoordinasi dengan manajemen PT MMP Bosowa agar operasional pengisian skid tank dapat segera kembali berjalan. Koordinasi juga dilakukan dengan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mendukung keamanan dan kelancaran distribusi.
"Pertamina terus melakukan pemantauan dan mengambil langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan elpiji bagi masyarakat," kata Ahad.
Pertamina juga menyiapkan skenario distribusi alternatif dengan mempertimbangkan ketersediaan armada, stok di masing-masing SPBE, serta kondisi akses jalan.
"Pertamina telah menyiapkan skenario distribusi alternatif dengan mempertimbangkan ketersediaan armada, stok di masing-masing SPBE, serta kondisi akses jalan. Langkah ini dilakukan agar penyaluran elpiji tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan distribusi," tambah Ahad.
Pertamina akan terus mengevaluasi kondisi di lapangan dan menyesuaikan strategi penyaluran berdasarkan stok, kebutuhan masyarakat, kondisi operasional, serta akses distribusi.
"Pertamina juga berharap situasi yang terjadi dapat segera mereda dan kondisi kembali kondusif, sehingga proses penyaluran elpiji dapat berlangsung secara normal dan kebutuhan masyarakat luas tetap terpenuhi," ujarnya.
.