TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kondisi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat hingga Senin 31 Agustus 2026 disebut masih berada dalam kondisi relatif terkendali.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap mewaspadai keberadaan ribuan titik panas yang masih terpantau di sejumlah wilayah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat, Ridwan, mengatakan terdapat penurunan jumlah titik panas dengan potensi kebakaran tinggi dibandingkan kondisi pada awal Agustus 2026.
Menurutnya, tren penurunan titik panas tersebut menjadi salah satu indikator bahwa upaya penanganan Karhutla yang dilakukan di berbagai wilayah Kalimantan Barat mulai menunjukkan hasil.
"Kalau terkait kondisi secara umum, relatif masih terkendali. Terbukti dari titik panas, hitungan dari awal Agustus sampai hari ini ada penurunan secara signifikan. Waktu itu mencapai 2.000-an titik panas di Kalbar," ujar Ridwan, Senin 31 Agustus 2026.
Meski demikian, penurunan tersebut tidak membuat kewaspadaan terhadap Karhutla dihentikan. Pemantauan terhadap titik panas tetap dilakukan karena kondisi dapat berubah mengikuti cuaca, kondisi lahan, maupun aktivitas manusia di lapangan.
• Antisipasi Karhutla Mempawah, Polsek Sungai Kunyit Pasang Tandon Air 1.000 Liter di Desa Bukit Batu
Berdasarkan data pemantauan satelit NASA-NOAA20 yang diterima BPBD Kalbar, masih terdapat ribuan titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat.
Data tersebut mencatat 14 titik panas kategori hijau, 2.901 titik kategori kuning, dan 152 titik kategori merah.
Kategori merah menunjukkan titik panas dengan tingkat potensi kebakaran yang tinggi sehingga membutuhkan perhatian dan pemantauan lebih lanjut.
Dengan demikian, meskipun jumlah titik panas dengan potensi tinggi mengalami penurunan, potensi Karhutla masih tetap ada dan dapat meningkat kembali apabila kondisi cuaca serta aktivitas pembakaran di lapangan mendukung terjadinya kebakaran.
Ridwan menegaskan, data titik panas bersifat dinamis. Jumlahnya dapat berubah dari waktu ke waktu seiring perubahan kondisi atmosfer, tutupan awan, cuaca, maupun aktivitas yang terjadi di permukaan.
"Titik panas ini bisa berubah-ubah. Kalau dilihat dari pergerakan data tersebut, sampai saat ini penanganan karhutla kita sudah tertangani," katanya.
Kabut Asap Tak Selalu Berasal dari Wilayah Sendiri
Meskipun penanganan Karhutla dinilai relatif terkendali, masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Barat masih merasakan keberadaan kabut asap, khususnya pada pagi hari.
Kondisi tersebut kerap menimbulkan pertanyaan karena asap masih terlihat meski titik panas di suatu wilayah mengalami penurunan.
Ridwan menjelaskan, keberadaan asap yang menyelimuti suatu daerah tidak selalu berarti kebakaran terjadi di sekitar lokasi tersebut. Asap dapat berasal dari daerah lain yang kemudian terbawa oleh pergerakan angin.
Menurutnya, kebakaran yang terjadi di wilayah Kalimantan saat ini tidak hanya berada di Kalimantan Barat, tetapi juga terdapat di sejumlah kawasan lain di Pulau Kalimantan.
"Kalau masyarakat masih bertanya kenapa di sekitar kita masih banyak asap, terutama pada pagi hari, berdasarkan data kondisi lahan terbakar ini bukan hanya di Kalbar, tetapi hampir di seluruh Kalimantan," jelasnya.
Fenomena tersebut membuat kondisi kualitas udara di suatu daerah dapat dipengaruhi oleh kebakaran yang berada cukup jauh dari lokasi masyarakat yang merasakan dampaknya.
• Karhutla Muncul di Sungai Ambawang Kubu Raya, Polda Kalbar Turunkan 24 Personel untuk Padamkan Api
Di wilayah Kalimantan Barat, titik panas masih ditemukan dalam jumlah cukup tinggi di beberapa kabupaten, termasuk Ketapang dan Kubu Raya.
Pergerakan asap dari kawasan tersebut kemudian sangat dipengaruhi kondisi angin, baik dari sisi arah maupun kecepatannya.
Berdasarkan data yang diterima BPBD Kalbar, pada Senin (31/8/2026) pagi angin bergerak dari arah tenggara menuju selatan dengan kecepatan sekitar 7 knot.
Kondisi angin tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam memantau pergerakan asap dari wilayah yang mengalami kebakaran menuju kawasan lainnya.
Ridwan menyebut, apabila kebakaran masih terjadi di wilayah seperti Ketapang dan Kubu Raya, asap yang dihasilkan berpotensi terbawa angin menuju daerah lain, termasuk wilayah Pontianak.
"Kalau misalnya sumber asap dari kebakaran yang terjadi di Ketapang, Kubu Raya, bahkan dari Kalimantan Tengah, jika melihat arah anginnya bisa mengarah ke Pontianak," ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya melihat keberadaan titik panas yang berada di wilayah tempat tinggalnya. Kondisi asap juga perlu dilihat berdasarkan perkembangan cuaca dan pola pergerakan angin di wilayah Kalimantan.
Di sisi lain, kewaspadaan terhadap Karhutla juga perlu ditingkatkan karena kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga 4 September 2026, berdasarkan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kondisi cuaca yang panas dan kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama pada kawasan dengan vegetasi atau lahan yang mudah terbakar.
BPBD Kalbar pun kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan selama kondisi cuaca masih berisiko.
Masyarakat diminta ikut berperan dalam mencegah munculnya titik api baru serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.
"Untuk masyarakat kami imbau agar berhenti melakukan aktivitas membakar. Kita harus sama-sama menjaga agar karhutla tidak kembali meluas," kata Ridwan.
Menurutnya, pencegahan menjadi bagian penting dalam mengendalikan Karhutla. Apabila kebakaran dapat diketahui dan ditangani sejak awal, potensi api berkembang menjadi lebih luas dapat ditekan.
Hujan Diprediksi Meningkat 4-6 September
Kabar baiknya, peluang terjadinya hujan diperkirakan mulai meningkat pada 4 hingga 6 September 2026.
Peningkatan curah hujan tersebut diharapkan dapat membantu membasahi kembali lahan yang kering sehingga risiko munculnya titik api baru dapat berkurang.
Hujan juga diharapkan memberikan dampak terhadap kondisi kabut asap yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta tidak lengah dan terus menjaga lingkungan, mengingat kondisi cuaca dapat berubah sewaktu-waktu.
BPBD Kalbar bersama pihak terkait akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik panas dan kondisi Karhutla di berbagai wilayah untuk memastikan kebakaran tidak kembali meluas.
Profil Ridwan
Ridwan merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat. Dalam kapasitasnya tersebut, Ridwan berperan dalam menyampaikan perkembangan penanganan dan mitigasi bencana di wilayah Kalimantan Barat, termasuk Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Ia menjadi salah satu pihak yang memberikan informasi mengenai perkembangan titik panas, kondisi Karhutla, pergerakan kabut asap, hingga langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah daerah bersama instansi terkait.
Dalam penanganan Karhutla, Ridwan juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas
(*)