TRIBUNSTYLE.COM - Dikutip Tribun Style dari AsiaOne pada Senin 31 Agustus 2026. Muhammad Haikal Nekla pernah meninggalkan bangku sekolah saat berusia 16 tahun karena masalah keluarga. Ia kemudian bekerja penuh waktu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Meski putus sekolah, Haikal menyimpan keinginan untuk kembali melanjutkan pendidikan. Janji yang pernah ia sampaikan kepada kepala sekolah itu akhirnya terwujud bertahun-tahun kemudian.
"Ketika saya memutuskan untuk berhenti sekolah, saya memberi tahu kepala sekolah bahwa saya akan melanjutkan pendidikan suatu hari nanti, tetapi saya tidak pernah melakukannya," ujar Haikal.
Keinginannya untuk kembali belajar muncul setelah berbincang dengan sejumlah mahasiswa magang Republic Polytechnic (RP) yang ia bimbing di jaringan restoran tempatnya bekerja.
Pada 2021, ketika berusia 33 tahun, Haikal memutuskan kembali menempuh pendidikan. Saat itu, ia bekerja sebagai asisten manajer di Fish & Co.
Para mahasiswa magang tersebut menceritakan pengalaman mereka belajar di politeknik dengan pendekatan yang lebih praktis, di mana teori diterapkan pada persoalan kehidupan nyata.
"Mereka mengatakan bahwa (politeknik) menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih praktis, di mana teori-teori diterapkan pada masalah kehidupan nyata. Itulah yang paling menarik minat saya," katanya.
Setelah lebih dari 15 tahun bekerja di industri makanan dan minuman sebagai pelayan, barista, hingga manajer, Haikal mendaftarkan diri di program Diploma Operasi Restoran dan Kuliner RP pada 2022.
Ia masuk melalui Jalur Penerimaan Awal, yang memang tersedia bagi orang dewasa yang sudah bekerja.
Pada Mei, Haikal yang kini berusia 36 tahun dinobatkan sebagai lulusan terbaik Sekolah Perhotelan RP dengan nilai rata-rata 3,79.
Ia menjadi salah satu dari lebih dari 4.500 lulusan yang menyelesaikan 79 program diploma di seluruh RP.
Saat pertama kali kembali ke lingkungan pendidikan, Haikal sempat khawatir akan sulit berbaur dengan mahasiswa lain karena usianya lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebagian teman sekelasnya.
Namun, kekhawatiran itu segera hilang. Ia justru mendapatkan rasa hormat dari teman-temannya yang lebih muda dan akrab dipanggil "Paman Haikal".
Perjalanan Haikal untuk meraih gelar diploma juga tidak mudah. Sebagai pria yang belum menikah, ia harus menggunakan tabungannya untuk membiayai kebutuhan kuliah sekaligus merawat ibu dan neneknya.
Ia mendapat bantuan biaya pendidikan melalui beasiswa pada tahun pertama. Untuk tahun kedua dan ketiga, ia memperoleh Sands Hospitality Scholarship yang tidak memiliki ikatan kerja.
Meski demikian, Haikal tetap bekerja sekitar 16 jam per minggu sebagai supervisor paruh waktu di Fish & Co demi membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kondisi keluarganya juga sempat memburuk. Ibunya harus menjalani perawatan di rumah sakit pada 2022, sementara neneknya mengalami gagal ginjal pada 2023.
"Ibu saya sempat dirawat di rumah sakit pada tahun 2022 dan nenek saya mengalami gagal ginjal pada tahun 2023, jadi saya menghadapi banyak hal," tuturnya.
Kesibukan bekerja, belajar, dan merawat keluarga membuat Haikal terkadang hanya tidur sekitar empat jam dalam sehari.
"Beberapa hari, saya pulang kerja atau sekolah untuk menyelesaikan tugas. Kemudian tengah malam, saya naik taksi ke rumah nenek untuk merawatnya."
Saat ditanya bagaimana ia mampu melewati masa tersebut, Haikal mengatakan dukungan dari keluarga dan teman-temannya menjadi salah satu kekuatan terbesar.
"Saya sendiri tidak begitu yakin bagaimana saya bisa melewatinya, tetapi dukungan dari orang-orang di sekitar saya sangat membantu," katanya.
Haikal menilai pengalaman panjangnya di industri makanan dan minuman turut membantu pencapaiannya di RP.
"Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga pengalaman saya memberi saya fondasi yang kuat," ujarnya.
Namun, ia juga mengakui banyak belajar dari teman-temannya yang berusia jauh lebih muda.
"Meskipun mereka jauh lebih muda dari saya, mereka tetap bisa melakukan beberapa hal lebih baik daripada saya, dan saya mampu menyerap dan belajar dari mereka," katanya.
Menurut Haikal, pengalaman terpenting selama berkuliah adalah menyadari bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus belajar.
"Usia tidak menjadi masalah — yang penting adalah berpikiran terbuka. Baik Anda muda atau tua, selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari dan dipetik dari orang lain."
Setelah menyelesaikan diploma, Haikal kini mendapat kesempatan untuk mengubah arah kariernya.
Ia diterima di Fakultas Humaniora dan Sains National University of Singapore (NUS) dan berencana mengambil gelar sarjana di bidang pekerjaan sosial.
Haikal melihat adanya kesamaan antara pekerjaannya selama bertahun-tahun di industri makanan dan minuman dengan profesi yang ingin digelutinya.
"Saya rasa bidang makanan dan minuman serta pekerjaan sosial tidak jauh berbeda. Anda dapat berinteraksi dan mempelajari kisah-kisah orang dari berbagai lapisan masyarakat," katanya.
"Perbedaan utamanya adalah saya dapat mendampingi mereka sepanjang perjalanan mereka sebagai pekerja sosial." ( TribunStyle.com | Clairinne Athanafia )