TRIBUNSTYLE.COM - Dikutip Tribun Style dari AsiaOne pada Senin 31 Agustus 2026. Meski mengalami demam hingga lebih dari 39 derajat Celsius, Theodore Kwan, bocah berusia 8 tahun asal Singapura, tetap mengikuti ujian dan berhasil meraih nilai A dalam fisika dan biologi setara O-level.
Prestasi tersebut membuat Theodore mencatatkan rekor nasional sebagai peserta termuda di Singapura yang mengikuti ujian fisika dan biologi setara O-level sekaligus memperoleh nilai A untuk keduanya. Kabar ini dilaporkan Lianhe Zaobao pada Selasa (18 Agustus).
Prestasi Theodore tidak berhenti di sana. Pada 2025, ia berhasil mendapatkan nilai A dan A* dalam ujian IGCSE Kimia dan Matematika Murni. Ia pun tercatat sebagai kandidat termuda yang berhasil memperoleh hasil tersebut untuk kedua mata pelajaran.
Dengan pencapaian itu, Theodore telah meraih nilai sempurna dalam empat mata pelajaran yang setara dengan standar O-level.
Theodore menjalani pendidikan melalui homeschooling. Menurut Zaobao, ia akan menerima sertifikat dari Singapore Book of Records pada Jumat (21 Agustus) sebagai pengakuan atas prestasinya.
Ibu Theodore, Crystal Tang, mengatakan kepada media berbahasa Mandarin bahwa putranya mengalami demam hingga 39,4 derajat Celsius hanya beberapa jam sebelum mengikuti ujian biologi.
Meski kondisinya kurang fit, Theodore tetap bersikeras mengikuti ujian. Ia akhirnya memperoleh nilai sempurna, meskipun sang ibu mengatakan putranya tidak berada dalam kondisi terbaik dan sempat gagal menjawab beberapa pertanyaan.
Tang, 34 tahun, mengatakan bahwa hal terpenting bukan sekadar nilai yang diperoleh Theodore.
"Yang lebih penting adalah dia masih mempertahankan rasa ingin tahu setelah setiap ujian. Dia tidak belajar hanya demi ujian — sebaliknya, dia ingin belajar lebih banyak setelahnya," ujarnya.
Tang kini mulai menghubungi sejumlah universitas di Singapura maupun luar negeri untuk mencari pilihan pendidikan lanjutan yang sesuai dengan kemampuan akademik putranya.
"Secara akademis, Theodore telah melampaui teman-teman sebayanya," kata Tang. "Tantangan kami sekarang adalah menemukan jalan agar dia dapat melanjutkan studinya."
Menurutnya, kemampuan akademis saja belum tentu cukup untuk memenuhi persyaratan masuk universitas karena faktor usia juga menjadi pertimbangan.
"Kami sedang berbicara dengan universitas-universitas lokal dan luar negeri untuk menjajaki apakah ada jalur penerimaan berdasarkan 'kesiapan akademis' dan bukan 'usia biologis'," ujarnya.
Namun, Tang mengakui bahwa sistem seperti itu saat ini tampaknya masih sulit diterapkan di Singapura.
Theodore diketahui paling menyukai kimia dan biologi. Ia juga menunjukkan ketertarikan terhadap bidang kedokteran dan ilmu antariksa.
Meski memiliki kemampuan akademis jauh di atas rata-rata anak seusianya, Tang menegaskan bahwa putranya tetap perlu menikmati masa kanak-kanaknya.
"Tidak perlu menentukan masa depannya terlalu dini," katanya.
"Pada tahap ini, kami hanya ingin memberinya pengetahuan yang cukup mendalam dan luas sehingga ia dapat mengeksplorasi dengan bebas." ( TribunStyle.com | Clairinne Athanafia )