Karhutla TNBTS Meluas, 592 Hektare Lahan di Lereng Semeru Terbakar
Titis Jati Permata August 31, 2026 04:50 PM

 

SURYA.co.id, LUMAJANG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Lumajang, Jawa Timur, belum juga terkendali setelah memasuki hari keenam, Senin (31/8/2026).

Luas area yang terdampak kebakaran kini diperkirakan mencapai sekitar 592 hektare, jauh lebih besar dibanding perkiraan pada hari-hari awal kebakaran.

Titik api berada di jalur pendakian Gunung Semeru, mulai Pos 1 hingga Pos 4, dan dikhawatirkan bergerak ke arah Kali Mati.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan kondisi medan yang curam menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman.

"Kebakaran wilayah TNBTS titik api berada di jalur pendakian mulai Pos 1 hingga Pos 4 sangat dimungkinkan mengarah ke Kali Mati, luasan yang terbakar sebagaimana informasi TNBTS kurang lebih 592 hektar," ujar Isnugroho.

Medan Terjal Hambat Pemadaman

Tim gabungan masih melakukan pemantauan dan penanganan untuk mencegah api bergerak mendekati permukiman maupun lahan pertanian warga di sekitar Desa Ranupani, Kecamatan Senduro.

Namun, upaya pemadaman dari darat belum dapat dilakukan secara maksimal.

Baca juga: Kebakaran Hutan TNBTS Blok Ranu Kembang, 170 Pendaki Ranu Kumbolo Dievakuasi 

"Sementara karena kondisi medan yang curam dan peralatan terbatas. Pasukan darat tidak mampu melakukan pemadaman secara signifikan," imbuh Isnugroho.

Kondisi lereng yang terjal membuat akses menuju sejumlah titik api menjadi sulit.

Petugas juga harus memperhitungkan keselamatan personel ketika melakukan penanganan di kawasan konservasi tersebut.

Helikopter Water Bombing Tak Beroperasi

Upaya pemadaman melalui jalur udara juga belum dapat dilakukan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang Yudhi mengatakan helikopter water bombing tidak digunakan karena kondisi cuaca di sekitar lokasi kebakaran tidak mendukung penerbangan.

"Tidak pakai helikopter, karena cuaca," kata Yudhi.

Sebelumnya, pada hari ketiga penanganan, Sabtu (29/8/2026), kondisi angin kencang dan kabut di lereng Gunung Semeru juga menjadi kendala operasi udara.

Helikopter PK-DAP yang sebelumnya digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran bahkan disebut telah bergeser dan berada di Kota Semarang.

Api Masih Terlihat di Blok Ayek-Ayek

Warga Desa Ranupani masih melihat kobaran api dan kepulan asap di sejumlah kawasan TNBTS.

Ingot, warga setempat, mengatakan titik api masih terlihat di Blok Ayek-Ayek dan wilayah sekitarnya.

"Ayek-ayek dan sekitaran dilalap api dan asap. Heli off," bebernya.

Meski kobaran api masih terlihat, asap disebut belum mengarah ke permukiman warga.

Kondisi tersebut masih terus dipantau untuk mengantisipasi perubahan arah api akibat angin.

Pendakian Semeru Ditutup

Kebakaran di kawasan TNBTS sebelumnya diketahui muncul di Ranu Kembang, jalur pendakian Gunung Semeru, Desa Ranupani, pada Kamis (27/8/2026).

Pada hari ketiga penanganan, tim gabungan melakukan pemadaman secara manual dengan metode penyekatan di sekitar Pos 1 jalur pendakian Ranu Kumbolo.

Lokasi kebakaran yang berada di area tebing dengan kemiringan sangat terjal menjadi salah satu kendala terbesar petugas.

"Pemadaman api dilakukan dengan penyekatan di jalur Pos 1 Pendakian Ranu Kumbolo wilayah TNBTS Kecamatan Senduro," ujar Yudhi.

Untuk alasan keselamatan, seluruh aktivitas pendakian dan wisata di kawasan terdampak ditutup hingga ada informasi lebih lanjut dari pihak TNBTS.

Yudhi memastikan tidak ada pendaki maupun wisatawan yang berada di area pendakian Ranu Kumbolo ketika kebakaran berlangsung.

Petugas TNBTS juga memberlakukan sistem piket bergantian di shelter Ranu Kumbolo untuk mengantisipasi penyebaran api ke kawasan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang.

Api Belum Mengarah ke Permukiman

Pada fase awal penanganan, BPBD Lumajang memperkirakan luas lahan yang terbakar lebih dari 160 hektare, dengan titik terparah berada di jalur pendakian Ranu Kumbolo Gunung Semeru.

Seiring meluasnya kebakaran, perkiraan luas area terdampak berdasarkan informasi TNBTS kini mencapai sekitar 592 hektare.

Ingot mengatakan pada Senin siang, sekitar pukul 15.10 waktu setempat, titik api masih terlihat di jalur Ayek-Ayek. Namun, asap belum sampai ke permukiman warga di wilayah Sidodadi.

"Jalur Ayek-Ayek api dan asap masih membara saja. Untuk asap aman tidak ke pemukiman warga Sidodadi," ungkapnya.

Tim gabungan hingga kini masih memprioritaskan pemantauan dan penyekatan agar kobaran api tidak semakin meluas, terutama menuju permukiman serta lahan pertanian warga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.