TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi, di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) mendorong mahasiswa, dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan turun ke jalan.
Massa menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Kalteng, Kota Palangka Raya, Senin (31/8/2026) siang.
Aksi berlangsung di tengah kabut asap yang masih menyelimuti Kota Palangka Raya.
Kabut asap terlihat menyelimuti kawasan sekitar lokasi aksi.
Baca juga: 2 Pesawat Gagal Mendarat karena Kabut Asap, 18 Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Tertunda
Sejumlah massa juga mengenakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap selama menyampaikan aspirasi.
Massa datang untuk menyampaikan keresahan terkait kondisi karhutla yang terjadi di Kalteng sekaligus menuntut perhatian langsung dari pemerintah provinsi.
Dalam aksi tersebut, massa meminta dapat bertemu langsung dengan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.
Koordinator Lapangan Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan, Dida Pramida mengatakan, pihaknya belum akan memulai penyampaian orasi sebelum Gubernur Kalteng hadir menemui mereka.
“Tidak akan memulai penyampaian orasi sebelum Gubernur Kalteng menemui mereka terlebih dahulu,” kata Dida.
Menurutnya, kedatangan massa ke Kantor Gubernur memang bertujuan untuk bertemu langsung dengan kepala daerah.
Karena itu, mereka tidak bersedia jika hanya ditemui pejabat yang mewakili Gubernur.
“Tujuan kami ke sini ingin bertemu Pak Gubernur, kalau cuma perwakilan kami tidak mau,” ujarnya.
Di tengah berlangsungnya aksi, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalteng serta Kepala Dinas Kehutanan Kalteng datang menemui massa.
Namun, kehadiran kedua pejabat tersebut belum membuat massa mengakhiri aksi.
Massa tetap bertahan di depan Kantor Gubernur dan menunggu Agustiar Sabran hadir menemui mereka.
Dida mengatakan, pihaknya akan tetap berada di lokasi hingga tuntutan untuk bertemu langsung dengan Gubernur terpenuhi.
“Kami akan tetap menunggu, bahkan hingga malam hari,” tegasnya.
Aksi tersebut menjadi bentuk keresahan mahasiswa dan masyarakat terhadap kondisi karhutla yang masih berlangsung di Kalimantan Tengah.
Mereka tetap menunggu kehadiran Gubernur Kalteng Agustiar Sabran untuk menemui dan mendengarkan langsung aspirasi yang disampaikan terkait kondisi karhutla di Kalteng.