TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pernah tecatat sebagai mahasiswa termuda di Universitas Gadjah Mada, Roxaline Sih Tanwinilang pun lulus dengan predikat lulusan termuda.
Gadis yang akrab disapa Wilang itu menyelesaikan studi di Program Studi Biologi Fakultas Biologi pada usia 19 tahun 9 bulan. Ia mengikuti prosesi wisuda pada 19 Agustus 2026 lalu.
Wilang mengatakan dirinya memulai perjalanan pendidikan sejak usia muda. Ia masuk ke sekolah dasar saat usianya belum genap lima tahun.
"Saya masuk SD usianya belum genap lima tahun. Saya juga menyelesaikan kelas 4 dan 5 dalam satu tahun berdasarkan rekomendasi guru,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (31/8/2026).
Praktis, ia juga menjadi peserta didik termuda di tingkat SMP dan SMA. Akhirnya, ia pun terbiasa bergaul dengan peserta didik yang usianya lebih tua, termasuk saat kuliah. Menjadi yang paling muda suatu halangan, namun secara administratif usianya sempat menjadi ganjalan.
Usianya yang terlalu muda membuatkan sulit mengikuti kegiatan di luar akademik lantaran ada batasan minimal. Salah satunya ketika Wilang ingin mendaftar beasiswa sekolah menengah atas di luar negeri saat masih berusia 12 tahun, tetapi kesempatan tersebut mensyaratkan peserta berusia minimal 15 tahun.
Titik balik perjalanan akademiknya terjadi ketika mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun di Faculty of Agriculture, Yamagata University, Jepang. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pengerjaan penelitian skripsinya.
Selama di Jepang, ia mengkaji tanaman Phellodendron amurense Rupr yang dikenal sebagai Amur cork tree. Tanaman tersebut telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Jepang, khususnya bagian kulit batangnya yang dikenal sebagai Cortex Phellodendri.
Penelitian Wilang kemudian dituangkan dalam skripsi berjudul “Profil Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Batang dan Daun Phellodendron amurense Rupr.”
"Penelitian tersebut berfokus pada identifikasi metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak kulit batang dan daun serta pengujian aktivitas antioksidannya," terangnya.
Dalam penelitian tersebut, ia melakukan ekstraksi menggunakan metanol dan etil asetat. Profil metabolit sekunder dianalisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), sedangkan aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dari kulit batang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibandingkan ekstrak lainnya," ujarnya.
Wilang juga menemukan sejumlah senyawa metabolit sekunder pada bagian daun dan kulit batang P. amurense. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi tanaman tersebut sebagai sumber antioksidan masih relatif rendah dibandingkan dengan vitamin C maupun beberapa tumbuhan lain yang telah diketahui memiliki aktivitas antioksidan.
“Ditemukan beberapa senyawa metabolit sekunder yang mengandung potensi sebagai antioksidan. Tetapi, tumbuhan ini belum efektif digunakan sebagai sumber senyawa antioksidan,” jelasnya.
Bagi Wilang, pengalaman berkuliah di UGM tidak hanya memberikan bekal akademik, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengenal lingkungan dan pengalaman di luar kampus. Setelah lulus, ia berencana melanjutkan pendidikannya.
“Kita juga harus lebih aktif. UGM sangat mendukung kalau kita mau menjadikan UGM sebagai salah satu langkah menuju keberhasilan,” imbuhnya. (maw)