Air Kolong Bacang Menyusut, Cadangan Air Baku PDAM Pangkalpinang Diperkirakan Bertahan Sebulan
Hendra August 31, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Gemercik air terdengar dari balik deretan pipa dan tabung-tabung filter ketika memasuki kawasan instalasi pengolahan air milik PDAM Tirta Pinang Kota Pangkalpinang.

Suara mesin pompa terdengar bekerja, mengolah air yang sebelumnya diambil dari sumber air baku.

Namun, perjalanan menuju sumber air itu justru menghadirkan pemandangan yang berbeda.

Setelah melewati area filter dan instalasi pengolahan air, pandangan kemudian terbuka ke arah Kolong Bacang.

Di sanalah kondisi sumber air baku PDAM terlihat pada akhir Agustus 2026.

Air kolong yang biasanya memenuhi cekungan kini menyusut cukup jauh. Tepian kolong tampak melebar menjadi hamparan tanah kering. Air yang tersisa pun berwarna kecokelatan.

Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana musim kemarau mulai menekan cadangan air baku di Kota Pangkalpinang.

Kolong Bacang bukan sekadar kolong biasa.

Sumber air tersebut selama ini menjadi salah satu sumber air baku PDAM Tirta Pinang untuk kemudian diolah dan disalurkan kepada masyarakat, termasuk kawasan Bukit Intan, Semabung dan wilayah sekitarnya.

Untuk melihat langsung kondisinya, akses menuju kawasan Kolong Bacang tidak bisa dilakukan sembarangan. Persetujuan terlebih dahulu diperlukan sebelum memasuki kawasan instalasi.

Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati area pengolahan air.

Deretan pipa, filter dan mesin pompa menjadi bagian dari proses panjang sebelum air sampai ke rumah-rumah warga.

Artinya, air yang mengalir dari keran pelanggan bukanlah air yang langsung disedot dari kolong.

Air baku terlebih dahulu melewati tahapan pengolahan dan penyaringan sebelum kemudian ditampung dan didistribusikan ke jaringan pelanggan.

Di kawasan pengolahan itu, aktivitas mesin masih terdengar. Air terus bergerak melalui sistem pengolahan yang dirancang untuk membuat air baku menjadi layak didistribusikan kepada masyarakat.

Tetapi di balik aktivitas tersebut, persoalan terbesar kini berada pada sumber airnya. Air kolong yang menyusut.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Tirta Pinang Kota Pangkalpinang, M. Agus Salim, mengatakan kondisi cadangan air baku di Kolong Bacang menjadi perhatian di tengah musim kemarau yang berlangsung.

Menurutnya, apabila tidak ada hujan sama sekali, persediaan air baku di Kolong Bacang diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar satu bulan.

"Untuk sumber air baku Kolong Bacang, kalau tidak ada hujan sama sekali, diperkirakan cuma bisa bertahan satu bulan," kata Agus Salim kepada Bangkapos.com, Senin (31/8/2026).

Meski demikian, hingga akhir Agustus ini PDAM Tirta Pinang belum menerapkan pembagian air maupun pemadaman secara bergilir kepada pelanggan.

"Untuk saat ini kita belum ada melakukan pembagian atau pemadaman bergilir," ujarnya.

Ancaman kemarau tidak hanya terlihat dari menyusutnya permukaan air Kolong Bacang. Dampaknya juga mulai dirasakan dalam proses produksi air bersih.

Agus menjelaskan, kondisi serupa terjadi pada sumber air baku yang digunakan untuk Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pedindang.

IPA tersebut menggunakan sumber air baku dari Kolong Kacang Pedang dan Kolong Pedindang.

Saat ini tingkat kekeruhan air baku di kawasan tersebut cukup tinggi, bahkan telah berada di atas 500 NTU.

Tingginya kekeruhan membuat kapasitas produksi air bersih ikut menurun.

"Untuk IPA Pedindang yang menggunakan sumber air baku Kolong Kacang Pedang dan Kolong Pedindang, kekeruhan air baku saat ini lumayan tinggi, sudah di atas 500 NTU," kata Agus.

Akibatnya, produksi air pada IPA Pedindang saat ini hanya sekitar 70 persen.

Penurunan produksi tersebut kemudian berimbas terhadap distribusi air kepada pelanggan.

"Imbasnya hasil air produksi menurun, distribusi juga agak terganggu," ujarnya.

Wilayah yang berada di lokasi lebih tinggi menjadi kawasan yang paling merasakan dampak ketika tekanan air menurun.

Pada kondisi tertentu, air bahkan tidak mengalir ke rumah pelanggan di kawasan tersebut.

"Daerah-daerah tertentu yang berada di wilayah agak tinggi akan sering kehilangan tekanan, air tidak mengalir," kata Agus.

Di tengah kondisi tersebut, angka kapasitas produksi menggambarkan betapa pentingnya keberadaan sumber air baku.

Untuk IPA Bacang, kapasitas produksinya mencapai sekitar 40 liter per detik.

Sementara IPA Pedindang memiliki kapasitas sekitar 110 liter per detik.

Namun, kapasitas produksi tersebut tetap bergantung pada kondisi air baku yang tersedia.

Ketika musim hujan, permukaan kolong biasanya lebih tinggi. Air memenuhi cekungan kolong dan kondisi air tidak seperti yang terlihat sekarang.

Memasuki musim kemarau panjang, perlahan permukaan air mundur.

Tanah-tanah yang sebelumnya berada di bawah permukaan air mulai terlihat. Tepian kolong menjadi semakin luas dan kering, sementara genangan air tersisa di bagian cekungan yang lebih dalam.

Dari lokasi itu, ancaman kemarau terasa bukan lagi sebatas ramalan cuaca. Ia terlihat langsung di depan mata.

Di satu sisi, mesin-mesin pengolahan air tetap bekerja. Filter-filter terus menjalankan fungsinya. Pompa terus menyedot dan mengalirkan air melalui jaringan pipa.

Di sisi lain, sumber air bakunya perlahan menyusut. Dan jika hujan belum juga turun, PDAM Tirta Pinang harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar: menjaga agar air yang tersisa tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sebab, sebelum air mengalir dari keran rumah warga, ada perjalanan panjang yang dimulai dari satu tempat sederhana kolong yang menjadi sumber air baku.

Kini, Kolong Bacang sedang menunjukkan wajah lain. Wajah sebuah sumber air yang perlahan kehilangan cadangannya di tengah kemarau.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.