Kisah M Hasim, Anak Kiai di Ponorogo yang Pernah Jualan Es Lilin hingga Jadi Advokat Sugiri Sancoko
Samsul Arifin August 31, 2026 08:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pramita Kusumaningrum 

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Menenteng termos sambil berjualan es lilin keliling menjadi salah satu bagian dari masa kecil M Hasim.

Tak banyak yang menyangka, anak seorang kiai dari Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, itu kelak dikenal sebagai advokat sekaligus pengusaha.

Pria kelahiran 1978 tersebut kini dikenal sebagai salah satu penasihat hukum mantan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Ia turut mendampingi sejumlah proses hukum yang berkaitan dengan Sugiri, mulai dari sengketa politik Pilkada 2024 hingga perkara suap dan gratifikasi.

Namun, perjalanan Hasim menuju profesi advokat dan dunia usaha tidak berlangsung singkat.

Jauh sebelum menangani perkara hukum lintas daerah dan menjalankan sejumlah bisnis di Ponorogo, ia telah terbiasa dengan kerasnya perjuangan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ditemui di kantornya di Desa Bajang, Hasim menceritakan bagaimana didikan orang tua membentuk prinsip hidupnya hingga kini.

Baca juga: Aji Mumpung Saat Ada Konser di Stadion Batoro Katong Ponorogo, Jukir Pungut Rp 20 Ribu Per Mobil

Anak Kiai yang Jualan Es Lilin

Hasim merupakan anak Mbah Kiai Imam Mahmudi, tokoh agama yang dikenal masyarakat Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, Ponorogo.

Sang ayah dikenal sebagai kiai kampung dan pernah mengajar di sejumlah lembaga pendidikan agama. Meski demikian, pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya tidak hanya berkutat pada ilmu agama.

Hasim mengaku sejak kecil dirinya juga diajarkan hidup sederhana, sabar, tekun, serta menghargai siapa pun.

Ketika masih duduk di bangku SD, Hasim bahkan berjualan es lilin keliling dengan membawa termos. Aktivitas tersebut sempat ditentang sang ibu karena status keluarganya sebagai putra seorang kiai.

Namun, sang ayah justru memberikan restu dengan pesan sederhana yang terus dipegang Hasim hingga sekarang.

“Sing penting ora maling, sing penting ora nyolong, ya lakoni wae. (Yang penting tidak mencuri, ya dijalani saja),” kenang Hasim.

Berjualan es keliling ternyata bukan satu-satunya pengalaman Hasim dalam mencari penghasilan sejak kecil.

Dari Ponorogo ke Papua

Saat duduk di kelas 5-6 SD, Hasim dibawa ke Papua untuk melanjutkan pendidikan.

Di sana, aktivitasnya tidak hanya berkutat dengan sekolah. Ia kembali menjalani aktivitas berdagang, termasuk menjual es hingga ikat pinggang.

Pengalaman tersebut perlahan membentuk naluri bisnis dalam dirinya.

Saat SMP, Hasim kembali ke Ponorogo. Namun, ketika SMA, ia kembali ke Papua dan menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Jayapura.

Ia kemudian sempat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih (Uncen). Dalam perjalanan hidupnya, Hasim bertemu dengan Estin, perempuan asal Lampung yang kemudian menjadi istrinya.

Hasim selanjutnya melanjutkan pendidikan di UIN Metro Lampung.

Selama berada di Lampung, perhatian Hasim semakin banyak tercurah pada dunia usaha. Ia bahkan dipercaya sebuah perusahaan untuk menduduki posisi direktur.

Pengalaman tersebut membuat Hasim cukup lama berkecimpung dalam dunia bisnis. Menurutnya, pengalaman itu semakin memperkuat naluri usaha yang telah tumbuh sejak masa kanak-kanak.

Pulang ke Ponorogo dan Temani Sang Ayah

Pada 2012, Hasim memutuskan kembali ke Ponorogo. Keputusan tersebut diambil salah satunya untuk menemani sang ayah.

Kepulangan itu menjadi fase penting dalam kehidupannya. Hingga pada detik-detik terakhir kehidupan Mbah Kiai Imam Mahmudi, Hasim berada di sisi sang ayah.

Di tengah momen tersebut, sang ayah meninggalkan pesan yang kemudian menjadi pegangan Hasim dalam menjalani kehidupan maupun pekerjaannya.

"Le, dadi wong ki sing sabar, sing tekun. Dadi wong ki kudu jujur," tutur Hasyim menirukan pesan sang ayah.

Pesan tentang kesabaran, ketekunan, dan kejujuran itu terus dibawa Hasim ketika menekuni berbagai bidang, termasuk profesinya sebagai advokat.

Ia meyakini doa orang tua serta proses kehidupan yang penuh tantangan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.

Mulai Jadi Advokat, Tangani Perkara Lintas Daerah

Hasim mulai menjalani profesi sebagai advokat sekitar 2015-2016.

Tidak lama setelah menekuni profesi tersebut, ia mulai memperluas jaringan dan menangani perkara di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Hasim, seorang pengacara perlu berani memperluas jaringan jika ingin mendapatkan pengalaman dan menangani perkara dengan skala lebih besar.

Perjalanan profesinya kemudian membawanya menangani perkara di sejumlah wilayah, antara lain Lampung, Kalimantan, hingga Makassar, Sulawesi Selatan.

Hasim mengklaim pernah terlibat dalam pendampingan sejumlah perkara yang berkaitan dengan perusahaan besar dan tokoh tertentu.

Pengalaman menangani perkara lintas daerah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai advokat.

Salah satu perkara yang menurutnya turut mengasah kemampuan analisisnya adalah sengketa Pilkada Ponorogo yang melibatkan Sugiri Sancoko.

Hasim menyebut pendampingan dilakukan sejak proses sengketa di Mahkamah Konstitusi hingga persoalan hukum yang kemudian menjerat Sugiri Sancoko.

Ia juga mengawal proses tersebut hingga penyidikan dan putusan.

"Dari mulai perkara di MK sampai terakhir itu, kita mengawal," paparnya.

Tetap Tekuni Dunia Usaha

Meski telah melalang buana sebagai advokat, Hasim tidak meninggalkan dunia usaha.

Naluri berbisnis yang menurutnya telah terbentuk sejak kecil tetap dikembangkan hingga sekarang.

Di Ponorogo, sejumlah sektor usaha dijalankannya. Di antaranya perusahaan es kristal, SPBU, serta perusahaan air minum dalam kemasan dengan merek Air Fresh.

Perpaduan pengalaman di bidang hukum dan bisnis membuat Hasim memiliki pandangan tersendiri terhadap berbagai persoalan di daerah asalnya.

Minta Ponorogo Buka Lembaran Baru

Perjalanan panjang tersebut turut membentuk pandangan Hasim mengenai kondisi Kabupaten Ponorogo saat ini.

Ia menilai Ponorogo perlu segera membuka lembaran baru setelah berbagai persoalan yang sempat terjadi.

Menurut Hasim, roda pemerintahan dan pembangunan tidak boleh terus dibayangi rasa takut. Pejabat publik juga perlu lebih terbuka kepada masyarakat.

"Kalau bisa kita buka lembaran baru. Jangan menengok ke belakang,” papar Hasim.

Menurutnya, keterbukaan menjadi salah satu kunci agar pembangunan tidak berjalan tersendat.

Masyarakat, kata dia, memiliki hak untuk memperoleh informasi dan pelayanan yang baik dari pemerintah. Karena itu, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat perlu terus dibangun.

“Komunikasi antara pemerintah dan masyarakat harus terus dibangun,” papar Hasim.

Dukung Kepemimpinan Lisdyarita

Hasim juga menyampaikan dukungannya terhadap kepemimpinan Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita.

Ia berharap pemerintahan di bawah kepemimpinan Bunda Lisdyarita, sapaan akrab Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, mampu merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membangun sekat.

Bagi Hasim, seorang kepala daerah harus mampu menjadi pemimpin bagi seluruh kelompok masyarakat.

“Menjadi ibu satu, ibu kita semua masyarakat Ponorogo," tegasnya.

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia hukum, Hasim mengaku siap memberikan masukan apabila dibutuhkan pemerintah.

Menurutnya, setiap kebijakan perlu didasarkan pada aturan serta analisis hukum yang matang agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Pendampingan dan masukan hukum, kata dia, dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah kesalahan dalam pengambilan keputusan pemerintah.

"Semampu kami akan kami beri saran-saran dengan analisa kontekstual yang tajam," klaimnya.

Siap Bantu Pemerintah Ponorogo

Hasim berharap setiap kebijakan yang diambil pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa seorang pemimpin pasti akan menghadapi kritik dan perbedaan pandangan. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan dan demokrasi.

"Kami siap bantu Bu Lisdyarita untuk Ponorogo yang lebih hebat, maju dan lebih mantap," pungkas Hasim saat dikonfirmasi TribunJatim.com.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.