SURYA.CO.ID, SURABAYA - Aksi demo mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Kerakyatan Jawa Timur di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya membuat arus lalu lintas menumpuk, Senin (31/8/2026) sore.
Kepadatan arus lalu lintas di kawasan pusat Kota Surabaya terjadi lantaran jalan utama di depan markas pimpinan daerah Jawa Timur dipenuhi oleh gelombang massa pemuda yang menyuarakan aspirasinya.
Penutupan ruas jalan selebar 19 meter tersebut berlangsung mulai pukul 14.00 WIB dan memaksa kepolisian mengambil langkah rekayasa lalu lintas.
Baca juga: BREAKING NEWS: Mahasiswa Gelar Aksi di Depan Gedung Grahadi Surabaya
Kendaraan yang melaju dari arah barat tidak dapat melintas secara normal.
Petugas mengarahkan lajur kendaraan menyisir kawasan Jalan Taman Apsari.
Selanjutnya, pengendara dialihkan menembus Jalan Embong Trengguli serta Jalan Embong Wungu sebelum akhirnya keluar di area Monumen Bambu Runcing.
Di balik blokade tersebut, ruang jalan berubah menjadi panggung penyampaian suara rakyat lewat lantunan puisi dan musik.
Spanduk berisi deretan tuntutan juga tampak berjejer rapi menghiasi barikade kawat berduri milik kepolisian.
Meskipun memadati badan jalan, massa aksi tetap memperlihatkan kepedulian tinggi terhadap akses kedaruratan.
Hal itu terbukti ketika sebuah mobil ambulans melintas dari arah timur dengan sirine meraung pada pukul 16.50 WIB.
Seketika massa aksi kompak berdiri dan langsung membelah barisan guna memberikan jalan bagi armada medis itu.
Bahkan Koordinator Wilayah BEM SI Kerakyatan Jatim, Muhammad Iskil Al-Fatih, mendadak menghentikan sesi wawancara bersama jurnalis SURYA.CO.ID untuk bergeser ke trotoar demi memastikan ambulans lewat tanpa hambatan.
Baca juga: Isi Tuntutan Demo Mahasiswa di Grahadi, Disampaikan Lewat Teatrikal dan Tabur Bunga
Dua unit tempat sampah berwarna merah dan hijau diletakkan tepat di depan kawat berduri sebagai lambang protes.
Coretan bertuliskan 'Istana Negara' dan 'Gedung DPR' terpampang jelas pada dinding tempat penampungan limbah itu.
"Maka sampah itu adalah layak untuk kemudian di patron kepada para pemangku-pemangku kebijakan yang ada di Senayan di sana," tegas Iskil saat ditemui SURYA.CO.ID di lokasi aksi.
Menurutnya, keberadaan wadah sampah itu menjadi gambaran rasa kecewa atas sikap pejabat publik yang dinilai menutup mata dari jeritan warga.
Sebelum membubarkan diri pukul 17.00 WIB, massa sempat menggelar prosesi tabur bunga di atas potret Presiden dan Wakil Presiden yang terhampar di aspal.
Baca juga: Tuntutan Ratusan Jukir Demo di Balai Kota Surabaya, Minta Evaluasi Sistem Parkir Digital
Iskil menyebutkan ada sekitar 350 peserta yang terlibat dalam aksi penyampaian pendapat di depan Gedung Negara Grahadi ini.
Fokus utama yang diusung adalah desakan penanganan cepat terkait bencana alam di NTT serta musibah kebakaran hutan di Kalimantan.
"Agar dana penanggulangan bencana itu bisa dioperasionalkan agar kemudian korban terdampak itu bisa mendapatkan rasanya dari pasca bencana yang terjadi," lanjutnya.
Momen demonstrasi ini sekaligus menjadi peringatan satu tahun atas peristiwa gugurnya Affan Kurniawan pada tahun 2025 lalu.
Massa juga melayangkan rasa duka atas insiden yang menimpa seorang pedagang cermin, Bambang Setiyawan (59), di Jakarta Pusat pada Kamis (27/8/2026) malam.
"Dan hari ini terulang kembali ormas peliharaan negara kembali memberikan sebuah bentuk duka, kabar-kabar duka di setiap wilayah yang ada di Indonesia. Dan itu menjadi poin tuntutan agar penegakan hukum ini diadili seadil-adilnya dan korban ataupun keluarga korban itu mendapatkan sebagai penindakan yang juga seadil-adilnya," kata Iskil memungkas penjelasannya.