Shigeko Kagawa, Orang Tertua di Jepang, Meninggal pada Usia 115 Tahun: Jepang Kembali Hadapi Rekor Lansia
TRIBUNNEWS.COM - Jepang kehilangan salah satu penduduk tertuanya. Shigeko Kagawa, yang dikenal sebagai orang tertua di Jepang, meninggal dunia pada usia 115 tahun pada 27 Agustus 2026.
Kabar tersebut diumumkan pemerintah Jepang melalui Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan pada Senin (31/8/2026).
Kagawa, yang lahir pada 1911, tinggal di Kota Yamatokoriyama, Prefektur Nara.
Kepergian Kagawa tidak hanya menjadi kabar mengenai seorang warga berusia sangat lanjut, tetapi juga kembali menyoroti fenomena panjang umur sekaligus perubahan demografi yang sedang berlangsung di Jepang.
Setelah Kagawa meninggal, Fuyo Kishimoto, perempuan berusia 114 tahun yang tinggal di Prefektur Kyoto, disebut menjadi orang tertua yang masih hidup di Jepang.
Sementara itu, Kiyotaka Mizuno, 111 tahun, yang tinggal di Kota Iwata, Prefektur Shizuoka, menjadi pria tertua di Jepang.
Jepang merupakan salah satu negara dengan proporsi penduduk lanjut usia tertinggi di dunia. Bertambahnya jumlah warga yang mencapai usia 100 tahun menjadi salah satu gambaran dari perubahan struktur penduduk tersebut.
Data pemerintah menunjukkan jumlah penduduk Jepang berusia 100 tahun ke atas mencapai 99.763 orang pada 2025.
Angka tersebut meningkat untuk tahun ke-55 berturut-turut dan menjadi rekor baru.
Perempuan mendominasi kelompok usia tersebut dengan jumlah sekitar 87.784 orang, atau hampir 88 persen. Sementara itu, jumlah laki-laki yang berusia 100 tahun ke atas mencapai 11.979 orang.
Secara nasional, terdapat sekitar 80,58 penduduk berusia 100 tahun ke atas untuk setiap 100.000 penduduk.
Prefektur Shimane mencatat angka tertinggi, yakni 168,69 orang berusia 100 tahun ke atas per 100.000 penduduk.
Wilayah tersebut mempertahankan posisi teratas selama 13 tahun berturut-turut.
Fenomena meningkatnya usia harapan hidup berjalan beriringan dengan persoalan demografi yang semakin kompleks.
Di satu sisi, semakin banyak warga Jepang yang mampu mencapai usia 100 tahun atau lebih.
Di sisi lain, jumlah penduduk secara keseluruhan terus menyusut karena angka kelahiran yang rendah dan jumlah kematian yang jauh lebih tinggi.
Populasi Jepang telah turun di bawah 120 juta jiwa.
Berdasarkan data yang dikutip, jumlah penduduk berkurang sekitar 917.000 orang menjadi 119.736.483 jiwa.
Kesenjangan antara kematian dan kelahiran juga semakin lebar. Jepang mencatat sekitar 1,59 juta kematian, sementara jumlah kelahiran hanya sekitar 670.000.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap struktur usia penduduk.
Semakin banyak warga memasuki usia lanjut, sementara kelompok usia produktif yang menopang aktivitas ekonomi dan sistem jaminan sosial semakin menyusut.
Penuaan penduduk juga berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan, perawatan lansia, serta pembiayaan jaminan sosial dalam jangka panjang.
Fenomena usia sangat panjang juga terlihat di negara lain.
Setelah meninggalnya Kagawa, Ethel Caterham dari Inggris disebut sebagai orang tertua yang masih hidup di dunia.
Caterham merayakan ulang tahunnya yang ke-117 pada 21 Agustus 2026 di Inggris bagian barat daya.
Sementara itu, Jepang terus mencari cara untuk menghadapi konsekuensi dari perubahan demografi.
Pemerintah telah memperluas berbagai dukungan bagi keluarga dan anak, termasuk program subsidi, sebagai bagian dari upaya mendorong angka kelahiran.
Namun, persoalan demografi Jepang tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan angka kelahiran.
Negara tersebut juga harus beradaptasi dengan masyarakat yang semakin menua, termasuk menjaga produktivitas ekonomi, menyediakan tenaga kerja, dan memastikan keberlanjutan sistem perlindungan sosial.
Wafatnya Shigeko Kagawa pada usia 115 tahun menjadi pengingat akan kemampuan manusia mencapai usia yang semakin panjang.
Pada saat yang sama, kisah tersebut memperlihatkan paradoks yang dihadapi Jepang: penduduknya hidup semakin lama, tetapi jumlah penduduknya terus berkurang.