Sabrang Letto Dorong Kopi Bondowoso Perkuat Ekosistem hingga Pasar Global
Haorrahman August 31, 2026 08:40 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Vokalis Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh, turut memeriahkan Festival Kopi dan Tembakau Nusantara (FKN) ke-9 di Bondowoso, Senin (31/8/2026).

Putra sulung budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun itu tampil membawakan tiga lagu andalannya, yakni Sebelum Cahaya, Ruang Rindu, dan Sandaran Hati.

Meski tampil tanpa anggota Letto lainnya, Sabrang tetap mampu menghibur dan menarik perhatian penonton yang hadir dalam festival tersebut.

Selain tampil sebagai musisi, Sabrang juga menjadi pemateri dalam Dialog Senja yang membahas potensi kopi dan tembakau Bondowoso.

Baca juga: Ular Piton Sepanjang 5 Meter Masuk Warung Kopi di Pasuruan, Seisi Warkop Terkejut

Sabrang mengaku tertarik dengan karakter kopi Bondowoso. Ia menyebut daerah tersebut memiliki kopi yang menjadi salah satu komoditas endemik Indonesia.

Kehadiran Sabrang di FKN Bondowoso kali ini bukan yang pertama. Ia mengaku sudah dua kali mengisi acara festival tersebut.

Menurut dia, pengembangan kopi Bondowoso tidak cukup hanya mengandalkan kualitas komoditas. Potensi tersebut perlu didukung ekosistem yang kuat agar mampu berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.

“Kekuatan sebuah komoditas itu didukung oleh ekosistemnya. Mulai dari ekosistem legal, finansial, koneksi, kampanye, dan seterusnya,” ujar Sabrang.

Ia menilai kopi Bondowoso sebenarnya telah memiliki modal dasar berupa kualitas produk. Karena itu, penguatan berbagai aspek pendukung dinilai dapat meningkatkan daya saing kopi daerah tersebut.

“Kopinya sudah kuat. Bahan dasar yang sudah kuat akan jadi jauh lebih kuat kalau ekosistemnya diperkuat,” katanya.

Baca juga: Kebakaran di Lereng Gunung Ijen, Api Mengancam Kebun Kopi Warga Bondowoso

Karakter Menarik

Dalam kesempatan tersebut, Sabrang juga mencicipi kopi yang disebut sebagai kopi endemik wilayah timur Bondowoso.

Ia mengaku bukan seorang deskriptor kopi sehingga tidak mudah menjelaskan karakter rasa menggunakan istilah teknis. Namun, Sabrang menggambarkan kopi tersebut memiliki rasa yang pekat tetapi tetap nyaman ketika dinikmati.

“Ini pekat tanpa bikin pusing. Menarik,” ujarnya.

Sabrang juga sempat mencicipi tape khas Bondowoso. Namun, ia mengaku belum pernah menikmati tape bersamaan dengan kopi.

“Tape sendiri, kopi sendiri. Belum pernah bareng,” katanya.

Sebelum mengakhiri perbincangan mengenai kopi Bondowoso, Sabrang menyampaikan harapannya agar komoditas tersebut terus berkembang dan memperluas pasar.

“Harus terus merambah dunia,” terangnya.

Baca juga: Masa Panen, Harga Kopi Jember Turun Dibanding Tahun Lalu, Berkisar Rp 55.000 - Rp 65.000 per Kg

Selain mencicipi kopi endemik Bondowoso, Sabrang juga melihat dan mencoba kopi Liberika yang diperkenalkan Nala Kopi.

Pemilik Nala Kopi, Rudi Trihandono, menjelaskan bahwa Liberika merupakan salah satu varietas kopi kuno yang ada di Jawa dan masih ditemukan di Bondowoso.

Keberadaan tanaman Liberika kini semakin terbatas. Menurut Rudi, produksi Liberika per tahun hanya sekitar 5 persen jika dibandingkan dengan produktivitas kopi Arabika.

Secara umum, terdapat empat jenis kopi utama yang dikenal, yakni Arabika, Robusta, Liberika, dan Ekselsa.

Rudi mengatakan pihaknya berupaya memperkenalkan kembali Liberika kepada pasar. Respons konsumen, menurut dia, cukup positif ketika kopi tersebut dibawa dalam pameran di luar kota.

“Kami memunculkannya kembali. Luar biasa tanggapannya saat pameran ke luar kota kemarin, pasar justru mulai cenderung menyukai Liberika,” ujar Rudi.

Tanaman Liberika tersebut berada di area bawah Gunung Raung. Populasinya yang terbatas diperkirakan berkaitan dengan produktivitas panen yang rendah. Di sisi lain, tanaman ini dikenal memiliki ketahanan terhadap penyakit.

Dalam satu musim panen, hasil ceri Liberika disebut hanya sekitar 5 persen dari produktivitas Arabika. Jika panen Arabika mencapai 1 kuintal, misalnya, Liberika hanya menghasilkan sekitar 5 kilogram.

Baca juga: Kreatif, Barista di Bondowoso Ciptakan Minuman E-Kotang, Hasil Perpaduan Kopi dan Tape

“Biji Liberika itu besar di luar, tetapi bagian dalamnya kecil. Hal itu membuat hasil green bean-nya sedikit,” jelas pria yang juga pemilik Bunga Pelita Cafe tersebut.

Meski produktivitasnya rendah dan populasinya terbatas, Liberika memiliki karakter rasa yang menjadi daya tarik tersendiri.

Rudi menjelaskan, cita rasa Liberika berada di antara karakter Arabika dan Robusta. Arabika umumnya dikenal memiliki tingkat keasaman lebih menonjol, sementara Robusta cenderung menghasilkan rasa pahit yang lebih kuat.

"Kalau Arabika cenderung asam dan Robusta pahit, Liberika berada di tengah-tengahnya dan memiliki body. Ada rasa khas yang melekat di dinding mulut," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.