TRIBUNNEWS.COM - Talas (Colocasia esculenta) merupakan salah satu tanaman umbi-umbian yang telah lama menjadi bahan pangan di berbagai wilayah dunia, termasuk Asia, Kepulauan Pasifik, dan Afrika Barat.
Selain dikenal sebagai bahan pangan tradisional, talas kini mulai mendapat perhatian dalam berbagai penelitian karena mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin, mineral, serta sejumlah senyawa bioaktif.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi talas dalam mendukung kesehatan tubuh. Namun, cara pengolahan dan jumlah konsumsi perlu diperhatikan karena talas dalam kondisi mentah mengandung senyawa yang dapat menyebabkan iritasi.
Berikut kandungan nutrisi, manfaat kesehatan, serta potensi efek samping talas sebagaimana dikutip dari Healthline, WebMD, dan PubMed Central (PMC/International Journal of Molecular Sciences).
Dalam satu cangkir talas matang atau sekitar 132 gram, terkandung sekitar 187 kalori yang sebagian besar berasal dari karbohidrat. Talas juga mengandung kurang dari 1 gram lemak dan sekitar 6-7 gram serat.
Kandungan serat tersebut membuat talas dapat menjadi salah satu pilihan sumber serat dalam pola makan sehari-hari.
Selain itu, talas mengandung sejumlah vitamin dan mineral penting, di antaranya
Talas mengandung serat dan pati resisten yang dapat membantu memperlambat pencernaan serta penyerapan karbohidrat.
Kondisi tersebut berpotensi membantu menjaga kenaikan kadar gula darah agar tidak terlalu cepat setelah makan.
Meski demikian, talas tetap mengandung karbohidrat sehingga porsi dan cara pengolahannya perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki diabetes.
Kandungan serat dalam talas dapat membantu mendukung pengelolaan kadar kolesterol.
Sementara itu, kalium merupakan mineral yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan serta fungsi otot dan saraf, termasuk jantung.
Karena itu, memasukkan sumber pangan kaya serat dan kalium seperti talas ke dalam pola makan seimbang dapat membantu mendukung kesehatan jantung.
Serat dan pati resisten dalam talas dapat berperan sebagai sumber makanan bagi bakteri baik di usus.
Ketika difermentasi oleh mikrobioma usus, pati resisten dapat menghasilkan asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids (SCFA) yang berperan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan.
Sejumlah penelitian laboratorium menemukan adanya berbagai senyawa bioaktif dalam talas, termasuk polifenol, quercetin, polisakarida, dan protein seperti tarin.
Beberapa senyawa tersebut menunjukkan aktivitas antioksidan, imunomodulator, dan antitumor dalam penelitian in vitro maupun pada hewan.
Namun, temuan tersebut belum dapat diartikan bahwa talas terbukti dapat mengobati atau mencegah kanker pada manusia. Masih diperlukan penelitian klinis lebih lanjut untuk mengetahui manfaatnya secara pasti.
Kandungan serat pada talas dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Hal ini membuat talas berpotensi menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat dalam pola makan yang terkontrol.
Meski demikian, jumlah kalori dan cara pengolahan tetap perlu diperhatikan, terutama jika talas diolah dengan cara digoreng atau dicampur dengan bahan tinggi kalori.
Baca juga: Kabupaten Bogor Berhasil Pecahkan Rekor Dunia Sajian Talas Kukus Terbanyak
Di balik kandungan nutrisinya, talas juga memiliki sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
Talas mentah mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal, perih, atau sensasi terbakar pada mulut dan tenggorokan.
Getah dan bagian mentah talas juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit saat proses pengupasan.
Karena itu, talas sebaiknya dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi. Penggunaan sarung tangan saat mengupas talas mentah juga dapat membantu mengurangi risiko iritasi pada kulit.
Talas mengandung oksalat. Pada orang tertentu, terutama yang memiliki riwayat batu ginjal jenis kalsium oksalat, konsumsi makanan tinggi oksalat perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Talas merupakan sumber karbohidrat dan tetap mengandung kalori. Konsumsi dalam jumlah berlebihan, terlebih jika diolah dengan banyak minyak atau gula, dapat meningkatkan asupan kalori harian.
Oleh karena itu, talas sebaiknya dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.
Agar lebih aman dikonsumsi, talas sebaiknya diolah dengan cara yang tepat.
Talas dapat menjadi salah satu sumber pangan yang bernutrisi karena mengandung karbohidrat, serat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif.
Meski demikian, sejumlah manfaat kesehatan talas yang berkaitan dengan senyawa bioaktif masih banyak ditemukan dalam penelitian laboratorium dan hewan. Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat tersebut pada manusia.
(Tribunnews.com/Falza)