Oleh: Afifuddin Harisah
Akademisi/Pengasuh PP An nahdlah Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Ada pemandangan yang sulit dilupakan dari Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Ribuan orang dari berbagai penjuru Nusantara rela menempuh perjalanan panjang, menguras dompet, meninggalkan keluarga dan pekerjaan, hanya untuk sekadar hadir dalam perhelatan lima tahunan organisasi terbesar di Indonesia ini.
Media sosial pun gempar dengan unggahan foto, video, dan status kebanggaan menjadi bagian dari Nahdliyyin.
Euforia itu terasa begitu membara, seolah-olah NU sedang mengalami ledakan semangat yang luar biasa.
Namun di tengah hiruk-pikuk kemeriahan itu, muncul pertanyaan yang mungkin terasa mengganggu: apakah energi sebesar ini akan tetap menyala ketika kepulangan telah usai dan para muktamirin kembali ke rutinitas masing-masing, dari Tambakberas menuju Majelis Wakil Cabang (MWC) NU di kampung halaman?
Muktamar memang memiliki daya magnet yang tidak dimiliki oleh kegiatan organisasi biasa.
Ia menghadirkan kiai, ulama, santri, pengurus, kader, dan jamaah dalam satu ruang simbolik yang sarat dengan sejarah dan emosi.
Orang datang bukan hanya untuk mengikuti sidang atau memberikan suara, tetapi untuk merasakan kembali bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Di situlah letak kekuatan NU yang sesungguhnya, yaitu ikatan emosional, kultural, keagamaan, dan sosial yang membuat orang rela berkorban.
Namun justru karena pengorbanan itu begitu besar, energi Muktamar tidak boleh berakhir sekadar menjadi foto kenangandi medsos atau euforia yang habis bersamaan dengan kepulangan ke kampung halaman.
Muktamar seharusnya membakar semangat untuk bekerja, bukan sekadar menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa kita pernah hadir.
Perjalanan dari Tambakberas ke MWC adalah perjalanan dari simbol menuju realitas, dari pesta menuju kerja.
Gemuruh Panggung Muktamar vs Realitas Harian
Ada paradoks yang patut kita renungkan bersama.
Menjelang dan selama Muktamar berlangsung, semangat ber-NU dapat mencapai titik yang sangat tinggi.
Namun di sejumlah daerah, setelah momentum itu berlalu, gairah tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kehidupan organisasi di tingkat PWNU, PCNU, dan MWC NU.
Struktur tetap berjalan dengan ritme lama, sebagian program stagnan, kaderisasi belum bergerak optimal, dan aktivitas organisasi kembali bergantung pada segelintir orang yang sejak awal memang sudah aktif.
Tentu tidak adil jika kita menggeneralisasi seluruh struktur NU.
Banyak pengurus di berbagai tingkatan yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan konsisten.
Tetapi jika kesenjangan antara semangat Muktamar dan kerja organisasi sehari-hari terlalu lebar, kita perlu berani melakukan otokritik.
Jangan sampai NU sangat kuat ketika berkumpul di Tambakberas, tetapi kehilangan daya ketika harus bergerak sendiri di tingkat MWC dan ranting.
Lebih jauh lagi, kita perlu mengoreksi cara kita memaknai kemenangan dan kekalahan dalam kontestasi organisasi.
Jika pilihan kita kalah dalam pemilihan AHWA dan ketua umum, jangan kemudian NU ditinggalkan dengan rasa kecewa.
Jika pilihan kita menang, jangan pula NU hanya dirayakan dalam euforia sesaat lalu dilupakan begitu saja.
NU bukan milik kandidat, kelompok, atau kepengurusan tertentu.
NU adalah rumah bersama yang jauh lebih besar daripada kontestasi lima tahunan.
Ukuran kedewasaan berorganisasi justru tampak setelah kontestasi selesai.
Mampukah kita tetap bekerja ketika pilihan kita tidak terpilih, dan mampukah kita tetap rendah hati ketika pilihan kita menang? Inilah ujian energi ke-NU-an yang sesungguhnya, yang tidak bisa diukur dari gemuruh di panggung utama Tambakberas.
Jika jawaban dari pertanyaan itu adalah tidak, maka Muktamar hanya melahirkan kemenangan politik organisasi, bukan sepenuhnya kemenangan jam'iyyah.
Kemenangan jam'iyyah adalah ketika setelah Muktamar usai, program-program pemberdayaan masyarakat terus berjalan, pengurus di semua tingkatan bergerak dengan semangat baru, kader-kader muda mendapatkan ruang untuk berkontribusi, dan pelayanan kepada jamaah semakin meningkat.
Kemenangan jam'iyyah adalah ketika warga nahdliyyin di pelosok desa merasakan dampak nyata dari keberadaan NU, bukan sekadar mendengar kegaduhan dari pusat.
Mereka tidak peduli siapa yang menjadi ketua umum, yang ia butuhkan adalah ketua ranting yang hadir ketika ada musibah, pengurus yang memfasilitasi pendidikan anak-anaknya, dan program ekonomi yang membantu meningkatkan kesejahteraannya.
Itulah ukuran sesungguhnya dari keberhasilan sebuah Muktamar, yang hanya bisa diuji di basis-basis terkecil, bukan di panggung akbar.
Pulang ke Kampung, Ujian Sejati Energi Ke-NU-an
Karena itu, ujian Muktamar sesungguhnya bukan berada di Tambakberas, tetapi justru dimulai setelah Tambakberas ditinggalkan.
Para muktamirin akan kembali ke rumah, pesantren, kampus, kantor, masjid, dan daerah masing-masing.
Di sanalah energi Muktamar harus diterjemahkan menjadi kerja konkret: MWC yang rutin bergerak, PCNU yang produktif, PWNU yang kuat melakukan pembinaan, ranting yang hidup, kaderisasi yang terencana, serta program pendidikan, ekonomi, sosial, dakwah, dan pemberdayaan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Setiap pengurus, dari tingkat pusat hingga ranting, harus pulang dengan membawa "api" yang sama besarnya dengan saat ia berada di Jombang.
Jika tidak, maka Muktamar hanya akan menjadi perayaan lima tahunan yang indah di atas kertas, tetapi miskin dampak di lapangan.
Energi ke-NU-an yang terlihat meluap-luap di Tambakberas harus bertransformasi menjadi denyut nadi organisasi yang terasa hingga ke MWC terkecil.
Kita tidak boleh membiarkan energi besar yang telah terkumpul di Tambakberas menguap sia-sia.
Semangat kebersamaan, persaudaraan, dan pengorbanan yang begitu terasa selama Muktamar harus dirawat dan diterjemahkan dalam program-program nyata yang bermanfaat bagi umat.
Para kiai dan pengurus memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar gairah berorganisasi tidak pudar setelah kemeriahan usai.
Ukuran kebesaran NU tidak ditentukan oleh seberapa ramai orang datang ke Tambakberas, melainkan seberapa hidup NU setelah mereka pulang ke kampung halaman, seberapa kuat energi ke-NU-an itu berdenyut di setiap pondok pesantren, kampus, MWC, ranting, dan masjid yang mereka singgahi.
Wallahu a'lam bishshawab.(*)