TRIBUN-TIMUR.COM - Maka lengkaplah sudah ujian kesabaran itu.
Bagai sudah terjatuh, ketiban tangga pula.
Di tengah krisis air yang belum selesai, krisis listrik datang lagi.
Pemadaman bergilir terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan sejak Kamis malam (27/8/2026).
Di Makassar, warga Parangtambung, Mallengkeri, Antang, Kecamatan Manggala, harus merasakan listrik padam sekitar tiga jam.
Kondisi serupa terjadi di Ablam, Panakkukang, dan kawasan Jalan AP Pettarani.
Senin (31/8/2026), pemadaman berlanjut.
Jl Cendrawasih, Jl Sungai Saddang, hingga sekitar Jl AP Pettarani ikut terdampak.
Parepare dan sejumlah wilayah Kabupaten Luwu juga mengalami kondisi serupa.
Sekda Sulsel Jufri Rahman menyebut kemarau ekstrem ikut memukul pasokan listrik.
Air di sejumlah pembangkit listrik tenaga air mulai menyusut.
PLTA Bakaru di Pinrang, misalnya, memiliki dua unit dengan kapasitas masing-masing 63 MW.
PLTA Bili-Bili memiliki kapasitas 20 MW.
Di Luwu Timur ada PLTA Larona, Balambano, dan Karebbe yang memanfaatkan aliran Sungai Larona. Ada pula PLTA Malea di Tana Toraja.
Ironisnya, sumber energi itu kini berhadapan dengan persoalan air.
Kita sedang menyaksikan satu rantai persoalan.
Kemarau membuat air berkurang.
Air berkurang mengganggu pembangkit.
Pembangkit terganggu, listrik harus dipadamkan bergilir.
Dan ketika listrik padam, aktivitas rumah tangga, usaha, pelayanan publik, hingga ekonomi ikut terganggu.
Jufri bahkan meminta masyarakat menyiapkan generator sebagai alternatif.
Tetapi generator membutuhkan solar. Dan solar pun masih harus diantre.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar listrik padam.
Air dan listrik ternyata tidak berdiri sendiri. Keduanya bertemu dalam satu ekosistem ketahanan daerah.
Ketika kemarau berkepanjangan datang, satu masalah dapat menyeret masalah lainnya.
Karena itu, koordinasi pemerintah daerah dengan PLN memang penting.
Tetapi yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memperoleh penjelasan yang terang: mengapa listrik padam, sampai kapan, wilayah mana yang terdampak, dan apa langkah yang disiapkan.
Publik bisa memahami keadaan darurat.
Yang sulit diterima adalah ketidakpastian.
Kemarau bukan kejadian yang sama sekali tak terduga.
Karena itu, mitigasi seharusnya tidak dimulai ketika air sudah surut dan listrik sudah padam.
Makassar dan Sulsel membutuhkan ketahanan energi yang tidak hanya bergantung pada satu sumber.
Krisis kali ini semestinya menjadi pelajaran untuk memperkuat diversifikasi energi sekaligus menjaga sumber air.
Sebab ketika air berkurang, listrik ikut terancam.
Dan ketika listrik padam, kesabaran warga pun diuji lagi.
Jangan sampai kemarau mengajarkan kita dengan cara yang paling mahal: bahwa air dan listrik adalah dua urat nadi yang ternyata saling terhubung.(*)