Siswa SDN 166 Bontorita Takalar Jual Bunga Maulid dan Tusuk Telur, Raup Rp780 Ribu
Muh Hasim Arfah August 31, 2026 11:05 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR - Sejumlah siswa UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Kelurahan Manongkoki, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, membuat bunga Maulid dan tusuk telur untuk dipasarkan melalui Market Day.

Kata "maulid" atau "milad" berasal dari bahasa Arab yang berarti hari lahir.

Peringatan ini menjadi momen bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran, meneladani akhlak mulia, serta meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Kerajinan tersebut dibuat siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler Seni Kriya yang mulai diinisiasi pihak sekolah sejak Januari 2026.

Sebanyak 15 siswa terlibat dalam pembuatan kerajinan yang dilakukan secara bertahap selama kegiatan ekstrakurikuler.

Siswa terlebih dahulu belajar membuat pola, menggunting bahan, kemudian merangkai setiap bagian hingga menghasilkan bunga Maulid dan tusuk telur.

Baca juga: Bupati Daeng Manye Launching SI PATROL, 15 Petugas Naik Sepeda Siap Pantau Kawasan Perkotaan Takalar

Bahan yang digunakan untuk membuat kerajinan tersebut antara lain pita bunga, pita batang, tisu, plastik jilid, pita satin, benang, jarum, hiasan kelopak bunga, double tape, kawat souvenir, bambu dan kertas marmer warna-warni.

Dari proses tersebut, siswa berhasil membuat 51 paket bunga Maulid dan 150 batang tusuk telur.

Hasil karya siswa kemudian dipasarkan melalui Market Day yang digelar selama lima hari, 27 hingga 31 Agustus 2026.

Lapak penjualan dibuka di halaman parkir sekolah dan menyasar orang tua siswa serta warga sekitar.

Bunga Maulid dipasarkan dengan harga Rp15.000 dan Rp20.000 per paket, sedangkan tusuk telur dijual Rp1.000 per batang.

Selama Market Day, sebanyak 46 paket bunga Maulid dan 140 batang tusuk telur berhasil terjual dengan total omzet mencapai Rp780.000.

Dari hasil penjualan tersebut, modal yang digunakan tercatat sekitar Rp530.000 sehingga keuntungan bersih sementara mencapai Rp250.000.

Masih tersisa lima paket bunga Maulid dan 10 batang tusuk telur yang belum terjual hingga kegiatan berakhir.

Hasil penjualan tersebut selanjutnya akan diputar kembali untuk mendukung kebutuhan bahan dan kegiatan ekstrakurikuler Seni Kriya.

Penjualan hasil karya siswa terlihat di halaman parkir sekolah pada Senin (31/8/2026) siang ketika siswa menawarkan langsung produk kepada pembeli.

Salah seorang siswi Kelas 6 A, ST Maryam, mengaku senang karena bunga Maulid yang dibuatnya mendapat respons dari pembeli.

"Senang sekali meka', saya bisa membuat bunga-bunga Maulid dan banyak yang suka dan mau beli," ujar Maryam.

Pembina Ekstrakurikuler Seni Kriya UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Nurhaeda SPd, mengatakan Market Day merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran yang telah disiapkan sejak awal.

Menurutnya, minat pembeli bahkan sudah terlihat sebelum Market Day resmi dibuka karena sejumlah warga telah menanyakan dan memesan hasil karya siswa.

"Ini bukan kebetulan, tapi sudah kami programkan sesuai arahan Bapak Kepala Sekolah," ungkap Nurhaeda.

Ia menjelaskan, Kepala UPT SDN 166 Inpres Bontorita meminta pihak sekolah melihat kebiasaan dan kebutuhan masyarakat di sekitar sekolah.

Mayoritas warga di lingkungan sekolah masih menjalankan tradisi Maulid sehingga bunga Maulid dan tusuk telur dipilih sebagai produk yang relevan untuk diperkenalkan kepada siswa.

"Bapak Kepala Sekolah menyarankan agar materi merangkai selesai sebelum musim Maulid tiba," katanya.

Nurhaeda mengatakan pembelajaran Seni Kriya dilakukan secara bertahap karena ekstrakurikuler tersebut baru dimulai pada Januari 2026.

Siswa tidak langsung diarahkan menghasilkan produk, tetapi terlebih dahulu belajar mengenal pola, menggunting bahan, hingga merangkai bagian-bagian kerajinan.

Dalam proses tersebut, siswa mengikuti sekitar 20 kali pertemuan dengan durasi dua jam setiap pertemuan.

Persiapan Market Day sempat terbagi dengan agenda sekolah dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Meski demikian, pemasaran hasil karya siswa tetap terlaksana selama lima hari, 27–31 Agustus 2026.

Salah seorang warga sekaligus orang tua siswa, Fitriani, datang langsung ke sekolah untuk membeli hasil karya murid.

"Bagus sekali ini anak-anak diajar membuat bunga Maulid, tidak jauh-jauh ma' lagi ke pasar," tutur Fitriani.

Menurutnya, kerajinan yang dibuat siswa memiliki manfaat karena produk tersebut memang digunakan masyarakat dalam tradisi Maulid.

"Hanya terlambat sedikit ini karena sudah banyak warga yang laksanakan Maulid," lanjutnya.

Kepala UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Imran S Pd MPd, mengatakan kegiatan Seni Kriya tidak hanya diarahkan pada kemampuan siswa membuat kerajinan.

Ia ingin siswa memahami tahapan yang dilalui sebuah produk hingga memiliki nilai jual.

"Apa yang mereka lakukan melalui proses berjenjang ini membuat siswa mulai paham bahwa apa yang mereka lalui adalah sebuah proses untuk mempersiapkan diri dengan keterampilan yang berguna suatu saat nanti," jelas Imran.

Menurut Imran, pendanaan awal kegiatan tersebut masih menggunakan dana operasional sekolah secara terbatas sebagai tahap uji coba.

Sekolah mengalokasikan dana sekitar Rp650.000 untuk membeli bahan awal pembuatan kerajinan dan sebagian dana tersebut masih tersisa dalam bentuk bahan.

Setelah produk terjual, hasil penjualan akan diputar kembali untuk mendukung kebutuhan kegiatan ekstrakurikuler Seni Kriya.

Imran mengatakan pihak sekolah juga akan memperluas keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut pada pelaksanaan berikutnya.

Saat ini, keterlibatan siswa berasal dari kelompok yang mengikuti ekstrakurikuler Seni Kriya dan ke depan ditargetkan melibatkan siswa dari seluruh tingkatan kelas.

Selain keterampilan membuat kerajinan, siswa nantinya akan dilibatkan langsung dalam menghitung modal, menentukan harga jual, mencatat transaksi hingga menghitung keuntungan.

"Yang masih kurang adalah keterlibatan penuh siswa dalam menghitung modal dan menentukan harga jual untuk meraih untung," kata Imran.

"Ke depan ini akan dipermantap, karena dalam kegiatan ini selain keterampilan dan kewirausahaan, ada pembelajaran literasi serta numerasi di dalamnya," sambungnya.

Pihak sekolah menargetkan kegiatan serupa kembali dikembangkan dengan jenis produk yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

Produk berikutnya yang direncanakan yakni bunga akrilik dengan target produksi sebanyak 100 batang.

Market Day tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk memperlihatkan langsung hasil keterampilan yang mereka pelajari melalui ekstrakurikuler Seni Kriya.

Selain Seni Kriya, UPT SDN 166 Inpres Bontorita juga menjalankan sejumlah ekstrakurikuler lain seperti Kepramukaan, PMR, pencak silat, seni, keagamaan serta bimbingan khusus lomba mata pelajaran atau olimpiade.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.