Berita Malang Raya Populer: Rute Angkutan Pelajar Butuh Sosialisasi, Trase Tol Kepanjen Dikaji
Sarah Elnyora Rumaropen September 01, 2026 09:35 AM

Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Benni Indo/Imam Taufiq

SURYAMALANG.COM, MALANG RAYA - Pengoperasian hari pertama layanan Angkutan Pelajar gratis di Kota Malang disambut antusias meski dinilai masih membutuhkan sosialisasi masif terkait rute dan jam penjemputan.

Sementara itu di Kabupaten Malang, para spekulan tanah yang terlanjur memborong lahan dibuat resah oleh rencana pengkajian ulang (review) trase Jalan Tol Malang-Kepanjen.

Langkah pengkajian ulang Feasibility Study (FS) tersebut diambil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) guna menghindari pembengkakan biaya pembebasan lahan yang kini sudah padat pemukiman.

Berikut ulasan selengkapnya:

Rute Angkutan Pelajar Butuh Sosialisasi

Pada hari pertama pengoperasiannya, Senin (31/8/2026), angkutan pelajar gratis disambut positif oleh para siswa di Kota Malang.

Meski demikian, sejumlah pelajar dan wali murid mengaku masih belum mendapatkan informasi komprehensif terkait rute serta skema operasional armada tersebut.

Aura Julia, salah satu pelajar SMKN 2 Kota Malang, menuturkan dirinya mengetahui program tersebut melalui media sosial TikTok.

Kendati berminat, Aura belum sempat mencoba angkutan gratis tersebut karena terkendala akses tempat tinggalnya di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, yang belum memiliki titik penjemputan.

“Tadi pagi ada di TikTok informasi soal angkutan pelajar itu, tapi saya belum pernah mencoba,” ujar Aura saat ditemui SURYAMALANG.COM di sekolahnya pada jam pulang sekolah, Senin (31/8/2026).

Aura menilai, program ini sangat membantu menekan pengeluaran uang saku yang biasanya tersedot untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) kendaraan pribadi. 

“Saya juga naik sepeda motor sendiri. Tadi pagi saya tidak naik (red-angkot pelajar), tapi saya ingin naik. Kalau ada temannya naik, saya mau naik. Apalagi gratis,” paparnya.

Aura pun berharap ada kepastian rute bagi pelajar dari area perbatasan.

“Kan gratis, jadi sangat membantu sekali. Saya tinggal di Pakisaji, jadi bagaimana ya kalau mau naik?” terangnya.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Soecipto, petugas keamanan SMKN 2 Kota Malang.

Soecipto mengungkapkan, antusiasme orang tua murid cukup tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan mengenai jalur operasional yang diajukan kepadanya saat bertugas menyeberangkan siswa.

“Saya ini kan yang menyeberangkan anak-anak, jadi bertemu juga dengan orang tua. Banyak yang tanya jalurnya kemana saja,” kata Soecipto.

Meski demikian, Soecipto mengaku belum bisa memberikan penjelasan rinci karena keterbatasan informasi. 

“Namun yang saya dengar, jalurnya masih sama seperti bus sekolah dulu,” tuturnya.

Soecipto menambahkan, pada hari pertama ini pemanfaatan armada saat jam pulang sekolah belum maksimal akibat ketidaksesuaian jadwal penjemputan dengan jam bubar kelas. 

“Tadi itu ada angkutan ADL datang, tapi anak-anak sudah pada pulang. Hanya ada satu saja tadi yang naik angkutan itu,” paparnya.

Menurut Soecipto, kondisi tersebut sangat wajar mengingat program baru berjalan di hari pertama, sehingga sosialisasi secara masif mengenai rute dan jadwal mendesak untuk dilakukan.

Rencana Review Trase Tol Malang-Kepanjen

Di sisi lain, isu pembangunan infrastruktur di Kabupaten Malang diwarnai keresahan para spekulan tanah.

Upaya memborong lahan dengan harapan menjualnya berlipat ganda ke proyek jalan Tol Malang-Kepanjen kini dibayangi ancaman kerugian, menyusul informasi bahwa peta rute atau trase tol masih belum final dan berpotensi berubah dari Feasibility Study (FS) awal.

Baca juga: Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini Selasa 1 September 2026: Udara Kabur, Suhu Terdingin 14 °C

Seorang Kepala Desa di Kecamatan Pakisaji mengungkapkan, dirinya kerap didatangi para spekulan yang mulai bingung menentukan arah pergerakan lahan.

"Iya, banyak orang yang sudah beli tanah sekitar tiga tahun lalu, namun saat ini bingung. Mereka tanya ke saya, jadi lewat mana arah tol Kepanjen itu," tutur Kades tersebut, Senin (31/8/2026).

Pemerintah Kabupaten Malang menegaskan penetapan rute definitif masih menunggu verifikasi akhir dari Kementerian PUPR.

Langkah perbaikan atau review FS lama sepanjang 30 kilometer tersebut terpaksa dilakukan karena alokasi biaya awal sebesar Rp10,04 triliun (Rp333 miliar per km di luar pembebasan lahan) berisiko membengkak akibat lonjakan permukiman di jalur lama.

Kepala Dinas Bina Marga Kabupaten Malang, Chairul Isnadi Kusuma (Oong), mengonfirmasi perintah evaluasi tersebut.

"Iya, kita disuruh melakukan review FS yang lama. Itu karena sudah dianggap tak sama dengan existing saat ini. Saat ini, lahan yang dulu kosong, kini sudah penuh perkampungan, bahkan sudah banyak yang jadi perumahan. Makanya, nggak mungkin akan lewat situ karena biaya pembebasan lahannya akan mahal," ungkap Oong, Senin (31/8/2026).

Survei bersama antara Pemkab Malang dan tim Kementerian PUPR dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026 mendatang untuk menentukan lintasan final.

Kunci Exit Tol Gondanglegi

Bupati Malang Muhammad Sanusi mendorong agar penyesuaian trase tol nantinya mampu memberikan dampak berganda (multi-effect) bagi ekonomi masyarakat kawasan selatan.

Trase tol diharapkan terkoneksi langsung dengan Jalan Lintas Selatan (JLS) sepanjang 58 kilometer yang membentang di 37 destinasi wisata pantai, seperti Pantai Sendangbiru, Balekambang, Kondang Merak, Banyu Meneng, Modangan, hingga Ngliyep.

Sebagai langkah pendukung, Pemkab Malang tengah menyiapkan jalan penghubung selebar 13 meter sepanjang 31 kilometer dari Kecamatan Gondanglegi menuju Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, yang berakhiran di dekat Pantai Balekambang.

"Harapan Pak Bupati, exit tol yang ada di Kecamatan Gondanglegi nanti menyatu dengan jalan wisata itu," tutur Oong.

Baca juga: Terkait Ketum PBNU dan Rais Aam 2026-2031, PCNU Kota Batu Sampaikan Harapan untuk Para Pemimpin Baru

Lulusan S2 Universitas Brawijaya tersebut menegaskan, pintu keluar (exit) tol di Kecamatan Gondanglegi menjadi titik krusial.

Selain membuka akses wisata bahari, titik ini juga akan mendekatkan akses menuju proyek nasional strategis, yakni Sekolah Rakyat di Desa Srigonco dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Pantai Sipelot, Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, yang menelan anggaran Rp22 miliar.

"Nanti, wisatawan dari Surabaya, langsung turun di exit tol Gondanglegi, lalu terhubung ke sejumlah pantai itu. Itu akan cepat mendongkrak ekonomi warga karena jumlah wisatawan akan naik," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.