Wajah di Balik Topeng Maskulinitas 
suhendri September 01, 2026 10:03 AM

Oleh: Lukman Hakim - Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Sungaiselan, Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel 

KETIKA statistik memperlihatkan angka-angka justifikasi, sering kali kita lupa bahwa di balik digit tersebut terdapat denyut nadi kehidupan yang rapuh. Perbincangan tentang fatherless atau absennya figur ayah dalam tumbuh kembang anak, sejauh ini kerap terjebak dalam ruang penghakiman yang terkesan final dan kaku.

Padahal, persoalan tersebut bukan sekadar melesetnya target pengasuhan, tetapi juga sebuah darurat peradaban yang memukul jantung masa depan anak-anak kita. Angka nasional bukan sekadar susunan data statistik, mereka adalah jeritan sunyi jutaan anak Indonesia yang mendambakan pelukan, sapaan, dan kehadiran nyata seorang ayah di rumah.

Sebagai menu pembuka, mari kita perhatikan narasi serta deretan angka statistik berikut. Berdasarkan penelusuran data empiriris, masalah ini bermula dari sumber yang paling hulu, yakni jam kerja yang merampok waktu kebersamaan keluarga -baik ayah maupun ibu yang sama-sama bekerja-.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 25,47 persen pekerja Indonesia atau setara dengan 37,3 juta jiwa, terjebak dalam kategori jam kerja ekstrem, yakni melampaui 49 jam per minggu atau rata-rata lebih dari 10 jam per hari. Bahkan, BPS mencatat fenomena yang jauh lebih mengkhawatirkan, ada sekitar 11,5 juta anak Indonesia yang hidup bersama ayah dengan waktu kerja lebih dari 60 jam per minggu (Booklet Sakernas BPS 2025 hal 15).

Artinya, sang ayah menghabiskan waktu di luar rumah selama 12 jam atau lebih setiap harinya. Ketika seorang ayah mendedikasikan separuh dari siklus hidup 24 jamnya demi bertahan hidup di jalanan dan tempat kerja, durasi waktu untuk berinteraksi dengan anak menyusut drastis hingga ke titik nadir. Kondisi pelik inilah yang menempatkan Indonesia pada posisi ketiga dunia sebagai negara dengan tingkat keterlibatan ayah paling minim. (Lihat, Bangkapos. Nur Ramadhaningtyas, 2026).

Dampaknya, pengabaian ini tidak sekadar berputar pada ranah kuantitas waktu, melainkan “membusuk” pada kualitas interaksi. Meskipun pendataan keluarga BKKBN mencatat 95,38 persen keluarga mengklaim adanya komunikasi harian antara orang tua dan anak, realitas di lapangan menunjukkan kerapuhan yang nyata.

Maraknya fenomena phubbing, di mana ayah secara fisik berada di dekat anak, tetapi matanya terpaku pada layar gawai sehingga melahirkan alienasi emosional yang jauh lebih menyakitkan ketimbang keterpisahan jarak. Kehadiran fisik yang semu ini mengubah ruang keluarga menjadi sekadar tempat singgah dan bukan tempat bertumbuhnya jiwa (Dir. Pelaporan dan Statistik, “Profil Keluarga Indonesia Tahun 2022”).

Selain itu, jika data yang ada sebelumnya masih kurang, masih ada data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS mengungkapkan bahwa dari total 79,4 juta anak di bawah usia 18 tahun di Indonesia, sebanyak 15,9 juta anak (20,1 persen) terkonfirmasi mengalami fenomena fatherless. Angka tersebut terbagi menjadi dua lapis tragedi: 4,4 juta anak secara riil tinggal tanpa kehadiran ayah akibat perceraian, kematian, atau penelantaran, dan 11,5 juta anak lainnya mengalami fatherless fungsional, yang artinya hidup serumah tetapi kehilangan figur dan interaksi bermakna dari sang ayah (Cynthia, 2025. ugm.ac.id).

Lalu sebenarnya apa yang benar-benar terjadi? Mungkin para ayah akan pasrah ketika melihat deretan laporan angka-angka tersebut. Namun tidak salahnya disampaikan bahwa ketika kita menghantam para ayah dengan tumpukan statistik fatherless, ada satu sudut gelap yang terlalu sering kita abaikan dengan kejam; rasa takut yang mencengkeram leher mereka setiap pagi.

Kita begitu gemar menuding para pria sebagai sosok yang dingin, abai, dan lepas tangan, tanpa pernah sudi sekadar melirik ke dalam ruang batin mereka yang porak-poranda. Di balik langkah berat seorang ayah yang meninggalkan rumah sebelum fajar dan pulang setelah malam larut, sering kali tidak ada niat untuk menelantarkan. Yang ada justru kecemasan yang melumpuhkan, sebuah teror psikologis bernama “ketidakmampuan.”

Di negeri ini, seorang laki-laki dikutuk oleh mitos kultural yang berat, di mana dia harus menjadi penyokong tunggal, benteng ekonomi yang tidak boleh retak. Ketika roda ekonomi macet, ketika lapangan pekerjaan menyempit dan PHK mengintai di tikungan, manusia hanya sebatas mesin pencetak uang bagi sebagian korporasi, beban itu berubah menjadi batu penggiling yang menghancurkan kewarasan.

Di sinilah depresi terselubung bermula. Banyak ayah yang tenggelam dalam kecemasan kronis karena merasa gagal menjadi imam finansial bagi keluarganya. Rasa malu merayap dalam dada, mereka merasa tidak pantas duduk bersanding dengan anak-anaknya karena merasa diri mereka "cacat" secara materi. Kelelahan fisik akibat kerja keras berpadu dengan keputusasaan mental yang akut, membuat energi emosional mereka terkuras habis sampai nol.

Dalam hal ini, penulis bukan bermaksud menjadi juru bicara para ayah, namun di sinilah letak ironisnya, sistem kerja kita tidak menyediakan ruang bagi pekerja baik laki-laki maupun perempuan untuk rapuh, dan bahkan budaya kita mendoktrin bahwa air mata seorang ayah adalah tabu dan keluh kesah adalah kelemahan.

Akibatnya, ketika tekanan hidup menghimpit, mereka memilih menarik diri. Mereka bungkam di pojok rumah, bukan karena tidak mencintai buah hati mereka, melainkan karena mereka kehabisan bahasa untuk menjelaskan betapa hancurnya diri mereka di luar sana. Mereka hadir secara fisik di ruang tamu, tetapi pikiran mereka melayang jauh, lumpuh oleh ketakutan esok hari, apakah besok saya masih bisa membelikan beras? Ketidakmampuan ini pada akhirnya melahirkan tragedi pengasuhan yang tidak disengaja.

Seorang ayah yang terdepresi dan kelelahan kronis tidak akan mampu memberikan kehangatan psikologis. Alih-alih merangkul, mereka justru menjadi lebih mudah tersinggung; alih-alih mendengar cerita hari anak, ia memilih membisu di balik layar ponsel karena itu adalah satu-satunya pelarian untuk mematikan rasa bersalahnya.

Tanpa sadar, sistem ekonomi yang menindas dan kaku merampok hak anak untuk memiliki ayah yang utuh, sekaligus merampok hak sang ayah untuk memeluk anaknya dengan tenang.

Sebagai pemungkas, jika kita ingin memutus rantai fatherless ini, menuntut para ayah untuk sekadar "lebih peduli" adalah sebuah bentuk kepongahan moral. Negara dan masyarakat harus membongkar akar masalahnya, menciptakan jaring pengaman sosial yang manusiawi, menekan jam kerja yang tidak masuk akal, dan memulihkan martabat ekonomi para kepala keluarga agar mereka tidak lagi pulang ke rumah dengan jiwa yang hancur.

Untuk para ayah, jangan pula terus-menerus berlindung di balik topeng kesibukan dan alasan mencari nafkah ketika jutaan anak sedang merambat dalam kesepian jiwa, termasuk buah hati kita di rumah. Tetaplah tegar dan kuat serta ciptakan kebersamaan secara berkualitas jika kuantitas waktu tidak “mampu” kita berikan. Karena kebersamaan kita yang 5-15 menit namun berkualitas, akan lebih membekas di benak buah hati dari pada keseharian bersama namun penuh ketidakpedulian. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.