Sosok Pawang Kelelawar Abah Aan, Gunakan Suara Katak Usir Kelelawar di Gedung DPRD Gianyar Bali
Putu Dewi Adi Damayanthi September 01, 2026 09:37 AM

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Berbagai upaya sudah dilakukan dan ditempuh untuk mengeluarkan ribuan kelelawar dari Gedung DPRD Kabupaten Gianyar, namun tak pernah berhasil. Kini Sekwan Gianyar mendatangkan pawang kelelawar dari Banyuwangi. Berhasilkah?

GEDUNG DPRD Kabupaten Gianyar selama beberapa tahun terakhir menghadapi persoalan yang tak biasa. 

Ribuan kelelawar menjadikan sejumlah bagian gedung wakil rakyat tersebut sebagai tempat bersarang. 

Keberadaan kelelawar dalam jumlah besar itu tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan persoalan kebersihan. 

Baca juga: Bupati, Wabup dan Ketua DPRD Badung Sambut Silaturahmi Kajari Badung

Kotoran kelelawar yang menumpuk di sejumlah bagian gedung memunculkan bau tak sedap dan sulit dibersihkan. 

Persoalan tersebut selama ini menjadi perhatian serius pihak Sekretariat DPRD Gianyar. 

Bahkan, kondisi Gedung DPRD Gianyar yang dihuni ribuan kelelawar tersebut juga kerap menjadi sorotan Bupati Gianyar, I Made Mahayastra.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi persoalan itu. Mulai dari pemasangan lampu hingga sejumlah cara lain untuk membuat kelelawar meninggalkan sarangnya. 

Namun, berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil maksimal. 

Alih-alih berkurang, populasi kelelawar di Gedung DPRD Gianyar justru terus bertambah karena berkembang biak.

Kini, pihak Sekretariat DPRD Gianyar mencoba cara berbeda. 

Mereka mendatangkan seorang pawang kelelawar bernama Aan Sirojudi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Aan. 

Ia merupakan pria kelahiran Jawa Barat yang kini menetap di Banyuwangi, Jawa Timur. 

Ia datang ke Gianyar bersama dua orang rekannya khusus untuk menangani ribuan kelelawar yang telah lama bersarang di Gedung DPRD Gianyar.

Sejak Sabtu 29 Agustus 2026 malam, Abah Aan bersama dua rekannya mulai melakukan penanganan di gedung tersebut. 

Mereka bahkan menginap di lingkungan Gedung DPRD Gianyar selama proses penanganan berlangsung.

Pada malam pertama, Abah Aan terlebih dahulu melakukan prosesi secara niskala sesuai keyakinannya. 

Prosesi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya awal sebelum masuk ke tahap penanganan secara teknis. 

Dalam kegiatan tersebut, Abah Aan juga dibantu oleh Jero Mangku yang selama ini bertugas di lingkungan DPRD Gianyar.

Usai melakukan penanganan pada malam pertama, Abah Aan mengaku mulai melihat adanya perubahan.

Saat ditemui di sela aktivitasnya pada Minggu 30 Agustus 2026, ia mengatakan jumlah kelelawar yang keluar dari sarang pada Sabtu malam cukup banyak. 

Namun ketika menunggu hingga menjelang pagi, jumlah kelelawar yang kembali ke dalam gedung relatif lebih sedikit.

"Kemarin yang keluar banyak, lalu kita tunggu sampai jam 5 pagi, yang datang sudah sedikit," jelas Abah Aan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tanda awal bahwa metode yang dilakukan mulai memberikan respons terhadap keberadaan kelelawar di gedung tersebut. Meski demikian, proses penanganan belum selesai.

Abah Aan mengaku telah menyiapkan sedikitnya dua metode untuk membuat kelelawar meninggalkan Gedung DPRD Gianyar secara permanen. 

Metode pertama adalah dengan memasang lampu kelap-kelip di sejumlah titik yang selama ini menjadi lokasi sarang kelelawar. 

Sebelum pemasangan dilakukan, Abah Aan bersama tim terlebih dahulu melakukan survei terhadap seluruh area gedung.

Dari hasil survei tersebut, diketahui bahwa area yang menjadi tempat persembunyian dan sarang kelelawar cukup luas. 

Karena itu, penanganan tidak bisa dilakukan hanya dengan memasang lampu di satu titik. 

Area gedung akan dibagi ke dalam sejumlah zona agar pemasangan lampu kelap-kelip bisa menjangkau titik-titik yang menjadi sarang kelelawar.

"Rencana kita ada beberapa metode. Tadi malam kita survei untuk area, ternyata banyak. Kita akan pecah sensor zona dengan lampu kelap-kelip," ujarnya.

Lampu tersebut nantinya akan dinyalakan secara konsisten selama kurang lebih dua hingga tiga bulan. 

Lama penggunaan lampu akan disesuaikan dengan kondisi dan keberadaan kelelawar di Gedung DPRD Gianyar. 

Jika kelelawar sudah mulai meninggalkan gedung dan tidak lagi kembali ke sarangnya, penggunaan lampu bisa dikurangi.

Lampu tetap akan digunakan sebagai langkah antisipasi agar kelelawar tidak kembali lagi, namun dengan frekuensi yang lebih jarang. 

"Rencananya, setelah populasi kelelawar benar-benar berkurang, lampu cukup dinyalakan setiap dua hari sekali," ujarnya.

Namun, pemasangan lampu di Gedung DPRD Gianyar bukan pekerjaan mudah. 

Bangunan yang luas dan memiliki sejumlah bagian dengan posisi cukup tinggi membuat proses pemasangan membutuhkan kehati-hatian. 

Abah Aan mengatakan timnya awalnya menargetkan proses penanganan kelelawar ini dapat diselesaikan dalam waktu dua hari. 

Namun setelah melihat langsung kondisi gedung dan medan yang harus dihadapi, waktu pengerjaan kemungkinan akan lebih lama.

"Target kita selesai dua hari, tapi melihat medan, kemungkinan butuh waktu lima hari," ujarnya.

Selain metode lampu kelap-kelip, Abah Aan juga menyiapkan metode kedua, yakni menggunakan suara katak. 

Suara katak tersebut nantinya akan diperdengarkan di sejumlah titik yang menjadi sarang kelelawar. 

Menurut Abah Aan, kelelawar memiliki pendengaran yang cukup sensitif sehingga suara tertentu dapat membuat mereka merasa terganggu dan memilih berpindah dari lokasi sarangnya.

"Tahap berikutnya akan dilakukan metode suara katak. Kelelawar terganggu oleh suara katak yang nyaring," ujarnya.

Abah Aan menegaskan bahwa penanganan tersebut tidak dilakukan dengan cara membunuh hewan-hewan tersebut.

Ia juga memastikan tidak ada upaya pengusiran secara paksa yang dapat melukai kelelawar.

Menurutnya, tujuan utama dari metode yang diterapkan adalah membuat kelelawar secara perlahan meninggalkan Gedung DPRD Gianyar dan mencari tempat lain untuk bersarang. 

"Kita lakukan secara baik-baik," tegasnya.

Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Sekretariat DPRD Gianyar, Ni Made Wiyasih, membenarkan pihaknya sengaja mendatangkan pawang kelelawar dari luar Bali untuk menangani persoalan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun tersebut. 

Ia mengatakan keberadaan kelelawar dalam jumlah besar di Gedung DPRD Gianyar memang telah menjadi persoalan tersendiri.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan oleh pihak Sekretariat DPRD Gianyar untuk mengatasi masalah tersebut. 

Salah satunya dengan memasang lampu di area yang menjadi tempat kelelawar bersarang. 

Namun upaya tersebut belum berhasil membuat kelelawar pergi secara permanen. 

Jumlah kelelawar justru terus bertambah dari waktu ke waktu karena berkembang biak.

"Berbagai upaya selama ini telah kami lakukan, mulai dari pemasangan lampu, namun tidak berhasil. Jumlah kelelawar terus bertambah karena beranak pinak," ujar Jero Wiyasih seizin Sekretaris Dewan Gianyar, I Wayan Kujus Pawitra.

Karena berbagai upaya sebelumnya belum membuahkan hasil, pihak Sekretariat DPRD Gianyar kemudian mencoba mendatangkan Abah Aan bersama timnya. 

Harapannya, metode yang diterapkan kali ini dapat membuat ribuan kelelawar tersebut meninggalkan Gedung DPRD Gianyar.

Wiyasih menegaskan bahwa tujuan utama penanganan tersebut bukan untuk memusnahkan populasi kelelawar. 

Pihak DPRD Gianyar hanya ingin memindahkan kelelawar agar mencari tempat tinggal baru yang tidak mengganggu aktivitas di gedung wakil rakyat tersebut.

"Kami bukan ingin memusnahkan, tetapi memindahkan agar kelelawar mencari tempat yang lebih baik, supaya tidak mengganggu kenyamanan masyarakat," ujarnya.

Selama proses penanganan berlangsung, Abah Aan bersama dua rekannya akan tetap berada di lingkungan Gedung DPRD Gianyar. 

Mereka menginap untuk memantau langsung pergerakan kelelawar, terutama pada malam hingga menjelang pagi saat hewan nokturnal tersebut keluar dan kembali ke sarangnya. (wayan eri gunarta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.