Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU - Program Kelurahan Menanam atau Palu Mapan mulai menunjukkan hasil.
Salah satunya terlihat dari panen bawang merah di lahan warga Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Lokasi lahan ini berjarak sekira 10Km dari Kantor Wali Kota Palu.
Dalam panen tersebut, petani berhasil menghasilkan sekitar 400 kilogram bawang merah dari lahan seluas kurang lebih 1.000 meter persegi.
Bawang merah itu dipanen setelah sekitar dua bulan ditanam.
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid mengapresiasi warga yang ikut mendukung program pemerintah tersebut dengan memanfaatkan lahan untuk menanam komoditas pangan.
Baca juga: Kanwil Kementerian Hukum Sulteng Perkuat Tata Kelola Jaminan Fidusia
"Pertama saya memberikan ucapan terima kasih kepada warga yang merespons program pemerintah ini," kata Hadianto saat meninjau panen bawang merah di Duyu, Senin (31/8/2026) sore.
Menurutnya, panen tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap upaya Pemerintah Kota Palu menjaga ketersediaan komoditas kebutuhan pokok.
Hadianto mengatakan, hasil panen sekitar 400 kilogram dari lahan 1.000 meter persegi cukup menggembirakan.
Terlebih, harga bawang merah saat ini berada di kisaran Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Dengan harga tersebut, hasil panen dapat memberikan tambahan pendapatan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga petani.
Baca juga: Matindas J Rumambi Minta Kader di Sigi Pahami Desil untuk Bantu Rakyat
"Alhamdulillah dengan petak yang cukup kurang lebih 1.000 m⊃2;, kita punya orang tua bisa mencapai panen 400 kg dengan harga bawang hari ini sekitar Rp35-40 ribu per kg. Kita berharap bahwa ini bisa memberikan tambahan atau penguatan ekonomi keluarga," ujarnya.
Bawang merah yang ditanam di lahan Duyu tersebut menggunakan sekitar 50 kilogram benih yang diberikan melalui dukungan Pemerintah Kota Palu.
Hadianto menegaskan, pemerintah tidak hanya mengejar hasil panen dari satu lahan.
Program Palu Mapan diarahkan untuk menjaga ketersediaan komoditas pangan di pasar sehingga harga dapat lebih stabil.
"Pemerintah betul-betul hanya memberikan benih, memberikan penguatan, tidak berharap yang lain. Setelah panen nanti mereka butuh lagi benih, kita akan support," katanya.
Ia menyebut, pemerintah akan terus mengawal program tersebut dengan memetakan wilayah yang mampu menghasilkan panen secara optimal.
Sementara wilayah yang hasilnya belum maksimal akan dievaluasi untuk mengetahui kendala yang dihadapi.
Baca juga: Karhutla di Sigi Capai 60 Titik hingga Agustus 2026, Damkar Siagakan Armada 24 Jam
Dengan evaluasi tersebut, pemerintah berharap produksi komoditas dapat berlangsung secara berkelanjutan dan pasokan ke pasar lebih terjaga.
"Yang diharapkan oleh pemerintah adalah dampak, terjadinya stabilisasi, kestabilan harga di pasar," ujar Hadianto.
Selain bawang merah, Palu Mapan juga menyasar sejumlah komoditas pangan lain, seperti cabai, tomat, sawi hijau dan kangkung.
Ke depan, Pemkot Palu juga berencana mengembangkan program tersebut pada komoditas ikan air tawar.
46 Kelurahan Dibagi Berdasarkan Komoditas
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu Lukman mengatakan, Program Kelurahan Menanam merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menyikapi persoalan inflasi.
Menurut Lukman, sejumlah bahan pangan memberikan andil terhadap naik turunnya inflasi sehingga pemerintah perlu menjaga ketersediaan komoditas di tingkat lokal.
Dari 46 kelurahan di Kota Palu, pemerintah membaginya ke dalam lima wilayah berdasarkan komoditas yang ditanam.
Sebanyak 10 kelurahan diarahkan menanam cabai, sementara tomat, bawang merah, kangkung dan sawi hijau masing-masing ditanam di sembilan kelurahan.
Baca juga: Donggala Bawa Pulang Medali Emas Sepak Bola dan Perunggu Basket di POPDA XXIV Sulteng
"Program Kelurahan Menanam yang juga disebut dengan Palu Mapan adalah sebuah program yang diinisiasi Pak Wali Kota terkait untuk menyikapi persoalan inflasi," kata Lukman.
Program tersebut mulai dijalankan pada awal Juni 2026.
Pemerintah kemudian menyalurkan benih kepada warga untuk disemai dan ditanam sesuai komoditas yang telah ditentukan.
Untuk bawang merah, benih dapat langsung ditanam sehingga penanaman di sejumlah lokasi dilakukan hampir bersamaan pada akhir Juni.
"Pada akhir Juni kita sudah melakukan penanaman hampir serentak. Hari ini tepatnya kurang lebih dua bulan, itu sudah melakukan panen di lokasi penanaman bawang di Program Kelurahan Menanam," jelasnya.
Lukman mengatakan, konsep Palu Mapan tidak hanya memanfaatkan satu lahan.
Pemerintah memetakan lahan warga maupun lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal agar dapat digunakan untuk menghasilkan komoditas pangan.
Hasil produksi dari lahan tersebut nantinya diharapkan dapat menambah pasokan komoditas ke pasar.
Dengan demikian, program tidak hanya memberikan manfaat ekonomi kepada warga, tetapi juga menjadi salah satu upaya menjaga ketersediaan pangan dan menekan gejolak harga di Kota Palu.
Baca juga: Layanan Apostille Fast-Track Hadir, Sertifikat Dicetak Hari yang Sama
Hadianto berharap program tersebut dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya untuk memanfaatkan lahan yang dimiliki.
"Sharing practice, based practice buat masyarakat lain bahwa Pemerintah Kota Palu memiliki program ini dan pemerintah akan memberikan dukungan yang total," katanya.
Ia menegaskan, masyarakat cukup memanfaatkan lahan dan melakukan penanaman, sementara pemerintah akan memberikan dukungan mulai dari kebutuhan benih hingga membantu mendorong suplai hasil panen ke pasar. (*)