SURYA.co.id, Tangerang - Pertemuan penuh makna terjadi di Gading Serpong, Tangerang, Banten, Jumat (21/8/2026), ketika Uskup Surabaya, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr Didik) bertemu dengan biarawati asal Bajawa, NTT, Sr Maria Dolorosa Nenu Wea O.Carm (INSC).
Pertemuan ini terjalin karena sebuah patung St. Yusuf dari Arimatea yang sebelumnya dipersembahkan oleh Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) kepada Paus Leo XIV di Basilika St. Petrus, Vatikan.
Pertemuan itu disaksikan oleh sejumlah tokoh PWKI, termasuk Mayong Suryo Laksono, AM Putut Prabantoro, Bonfilio Mahendra Wahanaputera, Asni Ovier Dengen Paluin, Lucius Gora Kunjana, Yophiandi Kurniawan, dan Agnes Prilly Dwi Rinawati.
Turut hadir pula Lambertus Widiantoro, Herman Handoko, Eridian Patria Lakasa, dan Fr. Dimas Sembiring.
Sr Maria Dolorosa, yang telah berkarya di Gereja Katolik St. Yusuf Arimatea, Ramla, Israel, selama tiga tahun, mengaku belum pernah melihat patung tiga dimensi seperti yang dibawa PWKI ke Vatikan.
“Selama di Ramla, belum pernah menemukan patung tiga dimensi seperti yang dibawa Mgr dan PWKI ke Paus Leo. Kebanyakan dalam bentuk ikon atau lukisan,” ujarnya.
Patung tersebut menggambarkan adegan penurunan tubuh Yesus dari kayu salib, dengan St. Yusuf Arimatea sebagai tokoh sentral.
Karya ini didesain oleh Putut Prabantoro dan dibuat di Brata Gallery Yogyakarta, berdasarkan pesan rohani yang diterima Lambertus Widiantoro.
Penyerahan patung kepada Paus Leo XIV pada Rabu (25/8/2026) dilakukan oleh delegasi PWKI, disaksikan langsung oleh Mgr Didik, Rm Noegroho Agoeng, serta Rm Markus Solo Kewuta SVD, pejabat Vatikan asal Indonesia.
“Ketika kami mau memintakan berkat kepada Paus Leo, asisten Bapa Suci bilang patung ini bagus, dipersembahkan saja,” jelas Mgr Didik.
Dalam pertemuan di Gading Serpong, Mgr Didik sempat melakukan video call dengan Rm Abdel Masih Fahim OFM di Ramla, Israel, yang mengundang rombongan untuk berziarah.
Mgr Didik menegaskan bahwa peristiwa penyerahan patung bukanlah kebetulan.
“Dalam iman Katolik, tidak ada peristiwa yang bersifat kebetulan. Semua sudah dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Dan saya seperti disadarkan tentang misteri patung Yusuf Arimatea ini,” ujarnya.
Ia juga menyebut St. Yusuf Arimatea sebagai simbol “Katolik Anonim”, yakni orang-orang yang diam-diam mendukung perjuangan Yesus tanpa terang-terangan mengaku sebagai pengikut.
Pertemuan antara Uskup Surabaya dan Sr Maria Dolorosa menjadi saksi hidup bahwa karya iman dapat mempertemukan banyak orang lintas negara.
Patung St. Yusuf Arimatea kini bukan hanya simbol seni, tetapi juga pengingat akan keberanian iman dan solidaritas lintas generasi.