Tiga Pesan KH Suyuti Toha dari Banyuwangi: Ukhuwah, Kerakyatan, Etika Politik
Adrianus Adhi September 01, 2026 12:32 PM

SURYA.co.id, Banyuwangi - Tiga pesan penting disampaikan oleh KH Fathulloh Suyuti Toha, pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighotsah Jamaah Dzikir Nurul Wathon di Ponpes Mansyaul Huda, Dusun Tegal Dlimo, Desa Tegal Dlimo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).

Pesan tersebut menyoroti ukhuwah wathaniyah dan basyariyah, kerakyatan, serta etika politik sebagai pedoman moral bagi bangsa.

Dalam acara yang dihadiri TNI, Polri, habaib, masyarakat, dan perwakilan lintas iman, KH Suyuti Toha atau akrab disapa Mbah Yai, menegaskan pentingnya menjaga dua nilai utama Nurul Wathon: Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariyah.

“Ukhuwah Wathaniyah ini menurunkan tiga prinsip Nurul Wathon. Yang pertama terkait kebangsaan. Nurul Wathon konsisten dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud bela negara bagi bangsa Indonesia,” ujar Mbah Yai.

Ia menekankan bahwa setiap warga negara memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan bangsa.

Selain itu, Mbah Yai menyoroti nilai kerakyatan, yakni kesadaran akan hak dan kewajiban rakyat serta perlindungan terhadap mereka dari tindakan sewenang-wenang.

“Nurul Wathon konsisten dan proaktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak mana pun,” jelasnya.

Baca juga: Pertemuan Uskup Surabaya dengan Sr Maria Dolorosa Gara-Gara Patung Yusuf dari Arimatea

Pesan ketiga menyoroti etika politik, yang menurut Mbah Yai harus ditanamkan agar kehidupan politik di Indonesia tetap bermoral dan berakhlakul karimah.

“Etika politik harus ditanamkan agar kehidupan politik bermoral, berakhlakul karimah, tidak menghalalkan segala macam cara,” imbuhnya.

Nurul Wathon Tidak Berpolitik

Ketua Dewan Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathon, Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra, menegaskan bahwa Nurul Wathon tidak berpolitik praktis.

“Kita menganggap semua anggota masyarakat dan warga negara, apapun agamanya, sukunya, harus bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan. Para pahlawan yang sudah berjuang harus kita lanjutkan dengan menjaga dan mempertahankan NKRI,” ujarnya.

Herianto menambahkan bahwa Nurul Wathon berkomitmen membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan sosial dan spiritual.

“Apa yang bisa dilakukan oleh Nurul Wathon ke depan InsyaAllah bisa membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Spirit Persatuan Indonesia

Alumnus Lemhannas PPSA XXI sekaligus pegiat kebangsaan, AM Putut Prabantoro, turut hadir dan menyampaikan pandangannya tentang semangat persatuan yang diusung Nurul Wathon.

“Saya bukan tokoh agama, saya masyarakat biasa namun memiliki berbagai aktivitas yang melibatkan tokoh lintas iman,” ujar Putut, pendiri dan penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).

Putut menilai bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada sila ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia, yang mengikat keberagaman suku, agama, ras, dan budaya.

“Kalau mau menghancurkan Indonesia, sikat sila ketiga saja. Namun semua itu diikat oleh sesanti Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.

Ia juga mengutip pesan moral dari lagu karya Buya Hamka, yang menekankan pentingnya tiga hal: negara, bangsa, dan kemakmuran sebagai fondasi persatuan.

Acara Maulid Nabi dan Istighotsah di Banyuwangi menjadi momentum spiritual untuk memperkuat nilai kebangsaan, kerakyatan, dan moral politik. Pesan dari Mbah Yai dan para tokoh yang hadir menegaskan bahwa menjaga persatuan Indonesia adalah bentuk nyata dari cinta tanah air dan pengamalan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.