TRIBUNJATIM.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca kering masih akan mewarnai sejumlah wilayah Indonesia hingga awal September 2026.
Memasuki Dasarian III Agustus hingga Dasarian II September, curah hujan di banyak daerah diperkirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah.
Bahkan, hujan dengan intensitas kurang dari 50 milimeter per dasarian diprediksi masih mendominasi sejumlah wilayah.
Secara umum, curah hujan selama periode tersebut diperkirakan berada di kisaran 0 hingga 150 milimeter per dasarian.
BMKG menyebut kondisi ini tidak lepas dari pengaruh fenomena iklim global, yakni El Nino yang berada pada kategori sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang masih berlangsung.
Kedua fenomena tersebut dapat mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia.
Akibatnya, pembentukan awan hujan menjadi lebih terbatas sehingga kondisi kering berpotensi bertahan di sejumlah daerah.
Wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan rendah antara lain Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.
Baca juga: BMKG: 80 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, Suhu Tembus 36 Derajat dan Karhutla Mengintai
Baca juga: Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang 22-27 Agustus 2026, Cek Prediksi BMKG
BMKG memprakirakan potensi pertumbuhan awan hujan di Indonesia masih cenderung minim.
Meski demikian, pertumbuhan awan dengan kategori sedang hingga tinggi masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah.
Potensi tersebut terutama terdapat di sebagian Sumatera bagian utara, Sulawesi bagian barat, hingga Papua bagian utara.
Pada 31 Agustus-6 September 2026, Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif di beberapa wilayah, yakni:
Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuator diprakirakan aktif di pesisir timur Papua Selatan.
Baca juga: Kapan Hujan Turun? BMKG Jelaskan Alasan Kemarau Masih Berlangsung hingga September 2026
BMKG menyebut pembentukan awan hujan juga mendapat dukungan dari daerah konvergensi dan konfluensi yang terbentuk di sekitar Laut Andaman, Selat Malaka bagian utara, Laut Natuna Utara, Selat Makassar, Papua, hingga Samudra Pasifik di sekitar Papua.
Kondisi tersebut dapat memicu pengumpulan dan pengangkatan massa udara sehingga hujan lokal dengan intensitas yang bervariasi masih berpeluang terjadi di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Namun, kata BMKG, hujan di wilayah-wilayah tersebut diprakirakan cenderung bersifat sporadis dan berdurasi relatif singkat.
Kondisi ini terjadi di tengah dominasi cuaca kering yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com