Sleman Siaga Erupsi Merapi, Kebakaran Lereng Juga Diantisipasi
Joko Widiyarso September 01, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memberlakukan status Siaga Darurat Erupsi Gunung Api Merapi seiring adanya peningkatan aktivitas vulkanis dan status aktivitas gunung di perbatasan DIY-Jateng itu, ditetapkan pada Level 3 (Siaga). 

Surat Keputusan (SK) siaga Merapi ini, berlaku hingga 30 September dan akan terus diperpanjang secara berkala menyesuaikan perkembangan situasi di lapangan. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Sleman), Bambang Kuntoro mengungkapkan, pemberlakuan status siaga ini langsung diikuti dengan berbagai upaya kesiapsiagaan terpadu.

Satu di antara fokus utama yang mendapat perhatian, terutama di musim kemarau kering ini adalah antisipasi terhadap ancaman kebakaran vegetasi di lereng gunung.

"(Upaya yang kami lakukan) satu, ya jelas siaga kebakaran. Karena kemarin sempat kebakaran, dan habis vegetasi atas lereng Gunung Merapi," ujar Bambang, ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026). 

Selain karena cuaca kering, potensi kebakaran lereng ini dipicu oleh luncuran awan panas guguran (APG) yang membakar vegetasi disepanjang arah luncuran.

Menurut dia, titik kebakaran di lereng Gunung Merapi sebelumnya sempat terjadi di wilayah barat daya yang mengarah ke Jurangjero, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah. Tidak sampai ke wilayah Bumi Sembada.

Namun demikian, BPBD Sleman tetap meningkatkan antisipasi dan kewaspadaan penuh. Mengingat, sebagian wilayah Sleman memiliki jalur aliran sungai seperti Kali Krasak yang memiliki mata air penting bagi masyarakat. Sebab itu, langkah-langkah antisipasi kebakaran dan pengamanan jalur air disiagakan.

Selain ancaman kebakaran, BPBD Sleman menggenjot berbagai langkah mitigasi yang dibagi menjadi dua pendekatan, yakni struktural dan nonstruktural.

Mitigasi struktural mencakup pengecekan dan perbaikan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS), penguatan tebing sungai, talutisasi, pelebaran jalur evakuasi, hingga pembersihan barak pengungsian.

Bambang mengakui, penyiapan barak terkendala keterbatasan anggaran pemeliharaan yang tahun ini hanya dianggarkan sekitar Rp 4 juta rupiah.

Kondisi ini membuat perbaikan fisik besar seperti plafon jebol belum dapat ditangani. Pemeliharaan difokuskan pada hal yang mendesak seperti pintu serta memastikan ketersediaan jaringan air bersih dan kelistrikan.

Mitigasi nonstruktural

Sementara itu, mitigasi nonstruktural diwujudkan melalui edukasi masyarakat serta sosialisasi ke sekolah-sekolah terkait penerapan sister school dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) agar institusi pendidikan di bawah kawasan rawan siap siaga menghadapi evakuasi apabila sewaktu-waktu erupsi besar terjadi. 

Soal EWS, BPBD Sleman mencatat ada 37 unit EWS aktif. Di mana 34 terpasang di wilayah Merapi sedangkan 3 unit lainnya merupakan EWS longsor yang terpasang di wilayah Prambanan.

Perangkat deteksi dini ini beberapa macam. Ada yang mencakup pengeras suara, kamera CCTV, hingga pemantau lahar dingin.

Menurut Bambang, seluruh perangkat ini harus dicek berkala untuk memastikan sistemnya dalam kondisi baik.

Hal ini menyusul insiden korsleting listrik pada EWS di Kemiri Turi yang sempat berbunyi sendiri selama tiga menit dan langsung ditangani petugas jaga. 

"EWS kondisinya baik semua sih. Cuman, memang butuh pengecekan, karena ada EWS yang berpotensi korslet itu," kata dia.

Awan panas capai vegetasi

Terpisah, Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) T. Heri Wibowo menyampaikan, saat terjadi awan panas guguran (APG) dengan estimasi jarak luncur mencapai 2.000 meter yang mengarah barat daya atau hulu Kali Sat, pada Sabtu (29/8) lalu, luncuran APG sempat mencapai batas vegetasi dan menyebabkan terbakarnya vegetasi tersebut. 

Namun berdasarkan pantauan, api tidak sampai membesar dan segera padam. 

Meski demikian sebagai upaya mitigasi kebakaran hutan, pemantauan terus dilakukan baik secara visual, peninjauan langsung ke lapangan, maupun melalui SIPONGI untuk memantau keberadaan titik api.

Balai Taman Nasional Gunung Merapi juga mensiagakan pos koordinasi kebakaran hutan yang bertempat di Kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Srumbung, Magelang dan menugaskan personil. 

"(Perdonelnya dari) ASN, manggala agni, dan masyarakat mitra polhut atau masyarakat peduli api untuk berjaga atau standby," kata Heri. 

Pihaknya juga menyediakan layanan hotline melalui nomor call center 081555777002; Kepala Seksi PTN Wilayah I 0811-2909-512; Kepala Resort PTN Wilayah Srumbung 0822-2147-2817; dan Koordinator Polhut 0813-2692-6325.

Apabila menjumpai kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, masyarakat diimbau untuk menyampaikan informasi ke Posko Kebakaran Hutan maupun nomor telepon tersebut.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.