TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat inflasi secara bulanan (month-to-month) sebesar 0,24 persen pada Agustus 2026.
Dengan perkembangan tersebut, tingkat inflasi tahun kalender secara kumulatif Kota Yogyakarta hingga bulan kedelapan tahun ini berada di angka 1,64 persen.
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menuturkan secara tahunan atau year-on-year, tren inflasi tercatat sebesar 3,29 persen.
Namun, ia menyampaikan bahwa capaian inflasi year-on-year tersebut masih tergolong terkendali karena berada di dalam rentang target nasional.
"Kalau year-on-year ini 3,29 persen. Masih dalam rentang target 1,5 sampai 3,5 persen, jadi masih aman," ujarnya, saat ditemui di Kantor BPS Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).
Baca juga: Ada Aksi Demonstrasi di Depan Gramedia, Begini Rekayasa Lalu Lintasnya
Joko pun memaparkan, pemicu utama inflasi di Kota Yogyakarta pada Agustus 2026 didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Pada kelompok tersebut, kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang paling mencolok memberikan sumbangan inflasi.
Selain daging ayam ras, beberapa komoditas hortikultura seperti kacang panjang dan semangka juga mencatat kenaikan harga yang cukup signifikan.
Tak hanya kelompok makanan, pendorong inflasi lainnya datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa, yang dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan.
"Untuk komoditas dominan di bulan Agustus yang menyebabkan inflasi sebesar 0,24 persen ini utama dari daging ayam ras, kacang panjang, semangka, serta emas perhiasan," bebernya.
Mengenai melonjaknya harga daging ayam ras, Joko menyebut kondisi tersebut tak lepas dari dinamika hukum demand and supply yang terjadi di pasar.
Ia tak menampik, ada kemungkinan kenaikan permintaan turut dipengaruhi oleh kembali aktifnya operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Apabila permintaan meningkat kemudian pasokannya kurang, harga biasanya naik. Kebutuhan MBG juga mungkin berpengaruh karena sudah aktif lagi," pungkasnya. (*)