Internet dan Ilusi Kecakapan Berbahas Inggris
Hari Susmayanti September 01, 2026 06:14 PM

Hermenegildus Agus Wibowo, S.S., M.Hum.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta

Di era digital saat ini, ruang kelas bukan lagi satu-satunya tempat bagi mahasiswa untuk mempelajari bahasa Inggris.

Kehadiran internet telah meruntuhkan tembok-tembok formalitas akademis.

Cukup dengan satu klik, mahasiswa dapat mengakses ratusan ribu podcast, video pendidikan di YouTube, hingga berinteraksi langsung dengan penutur asli (native speakers) di platform media sosial.

Namun, di tengah derasnya arus data ini, sebuah pertanyaan krusial muncul: apakah kemudahan akses internet berbanding lurus dengan peningkatan kecakapan bahasa Inggris mahasiswa kita?

Secara teoritis dan praktis, internet memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kemandirian belajar.

Pembelajaran bahasa tidak lagi terbatas pada tata bahasa (grammar) yang kaku di dalam buku teks, melainkan bergeser ke arah pemahaman konteks dunia nyata.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Journal of Innovative and Creativity (Mursyidah et al., 2026), pemanfaatan platform digital dan media pembelajaran berbasis internet terbukti secara efisien meningkatkan motivasi, fleksibilitas, dan hasil belajar bahasa Inggris pada tingkat perguruan tinggi.

Internet menghapus kecemasan berbahasa (language anxiety) yang sering dialami mahasiswa saat tampil di depan kelas, karena media digital menyediakan ruang latihan yang lebih privat dan personal.

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang cukup ironis.

Baca juga: Dies Natalis ke-32, Universitas Amikom Yogyakarta Perkuat Riset 

Melimpahnya materi di internet kerap menciptakan ilusi kecakapan (illusion of competence).

Banyak mahasiswa merasa telah "belajar" bahasa Inggris hanya karena menghabiskan waktu berjam-jam menonton konten hiburan berteks terjemahan (subtitle), tanpa melakukan refleksi atau praktik aktif (active recall).

Dampak dari ketimpangan ini terlihat jelas pada tingkat kecakapan nasional.

Laporan EF English Proficiency Index (EF EPI) menempatkan Indonesia di peringkat ke-80 dari 123 negara secara global (skor 471), yang tergolong dalam kategori kecakapan rendah (low proficiency). 

Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa keterampilan berbicara (speaking) tetap menjadi kelemahan terbesar.

Hal ini membuktikan bahwa akses internet yang melimpah belum sepenuhnya terkonversi menjadi kemampuan aktif jika penggunaannya hanya bersifat pasif. 

Internet sejatinya adalah alat netral; dampaknya sangat bergantung pada posisi mahasiswa dalam memanfaatkannya.

Internet akan menjadi akselerator yang luar biasa jika mahasiswa menggunakannya sebagai konsumen aktif—seperti menulis komentar, melakukan shadowing pengucapan, atau bergabung dalam komunitas diskusi internasional.

Sebaliknya, jika internet hanya dijadikan media konsumsi pasif, keberadaannya tidak akan mengubah banyak hal pada kualitas kecakapan berbahasa.

Sudah saatnya institusi perguruan tinggi tidak hanya mendorong mahasiswa untuk menggunakan internet, tetapi juga membekali mereka dengan literasi digital yang tepat.

Pembelajaran bahasa Inggris di era modern harus mampu menjembatani fleksibilitas media digital di luar kelas dengan kurikulum berbasis praktik di dalam kelas.

Tanpa strategi belajar yang terarah, kelimpahan informasi di internet hanya akan menjadi distraksi yang menjauhkan mahasiswa dari penguasaan bahasa target yang sesungguhnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.