TRIBUN-TIMUR.COM - Sulawesi Selatan masih mencatat inflasi.
Pada Agustus 2026, inflasi month to month (mtm) mencapai 0,14 persen.
Secara year on year (yoy), angkanya 2,86 persen.
Sementara inflasi tahun kalender mencapai 2,51 persen.
Angka itu sekilas tampak kecil.
Tetapi di balik 0,14 persen itu ada kebutuhan hidup yang terus bergerak.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang utama inflasi Agustus secara bulanan dengan andil 0,04 persen.
Komoditas yang paling menonjol adalah sewa rumah dengan andil 0,03 persen. Ini menarik.
Inflasi sering dibaca sebagai angka agregat.
Padahal masyarakat merasakannya melalui harga yang harus dibayar setiap hari, setiap bulan.
Salah satunya uang sewa rumah yang harus disediakan sebelum penghasilan sempat digunakan untuk kebutuhan lain.
Jika ditarik lebih jauh, tekanan harga juga terlihat dari inflasi tahunan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil 0,80 persen.
Minyak goreng menjadi salah satu penyumbang utama dengan andil 0,12 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,79 persen.
Emas perhiasan menyumbang 0,64 persen.
Transportasi ikut memberi tekanan dengan andil 0,36 persen.
Bensin menyumbang 0,15 persen.
Ada rumah. Ada minyak goreng. Ada bensin.
“Kelompok tersebut (sewa rumah) memberikan andil 0,03 persen,” kata Kepala BPS Sulsel, Aryanto, dalam konferensi pers disiarkan langsung melalui YouTube BPS Sulsel, Selasa (1/9/2026) siang.
Tiga kebutuhan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu persoalan: biaya hidup.
Karena itu, inflasi tidak cukup dibaca sebagai statistik yang diumumkan setiap awal bulan.
Angka-angka itu perlu diterjemahkan menjadi pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan warga.
Apakah pendapatan masyarakat tumbuh secepat harga kebutuhan?
Apakah pekerja mampu membayar sewa rumah sekaligus memenuhi kebutuhan pangan dan transportasi?
Apakah kenaikan harga masih dapat ditanggung kelompok berpendapatan rendah?
Di sinilah angka BPS memperoleh maknanya.
Inflasi 0,14 persen secara bulanan memang tidak besar.
Namun inflasi adalah akumulasi tekanan.
Harga yang naik sedikit demi sedikit tetap akan terasa ketika terjadi berulang.
Maka menjaga inflasi bukan hanya pekerjaan mengendalikan angka.
Ia adalah pekerjaan menjaga daya beli.
Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan semata apakah inflasi berada pada angka yang aman.
Ukurannya adalah apakah warga masih mampu menjalani kehidupan dengan penghasilan yang mereka miliki.
Sebab bagi statistik, inflasi adalah persentase.
Bagi warga, ia adalah harga yang harus dibayar.(*)