Prabowo Panggil Kapolri, Panglima TNI Hingga Kapolda Metro Jaya ke Hambalang, Ada Apa?
Erik S September 02, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memanggil Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo ke kediaman Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (1/9/2026). 

Pertemuan ini digelar secara khusus untuk membahas perkembangan situasi nasional serta penanganan darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, agenda utama difokuskan pada penanggulangan karhutla yang saat ini tengah melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan. Prabowo memantau langsung situasi terkini dari para pemangku kepentingan terkait.

Terkait detail pembahasan di meja rapat, Seskab Teddy membeberkan bahwa Presiden mendengarkan langsung evaluasi taktis dari jajarannya.

"Dalam pertemuan tersebut, Presiden menerima laporan mengenai perkembangan kondisi di lapangan, termasuk langkah penanganan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan," ungkap Teddy dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Lebih lanjut, Teddy menegaskan instruksi Presiden Prabowo agar respons pemerintah pusat dan aparat di daerah berjalan selaras untuk memitigasi bencana lingkungan ini.

"Pemerintah terus memperkuat koordinasi untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terpadu, sekaligus mengantisipasi meluasnya titik kebakaran," tegasnya.

Baca juga: ​Kisah di Balik Hotspot Karhutla Turun, Pantauan Ketat Prabowo dan Ada Tagihan Harian Istana

Pertemuan ini turut melibatkan sejumlah menteri dan petinggi aparat penegak hukum. Dari jajaran kabinet, hadir Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Seskab Teddy Indra Wijaya.

Sementara dari jajaran petinggi TNI-Polri, pertemuan ini dihadiri oleh Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo, Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri, Kabaintelkam Komjen (Pol) Yuda Gustawan, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, Kabaloghan Marsdya TNI Yusuf Jauhari, serta Asisten Intelijen Panglima TNI Mayjen TNI Rio Firdianto.

Update Terbaru Karhutla: Hotspot Menurun, Penanganan Diperkuat

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah prioritas, terutama di Kalimantan dan Sumatera.

Meski jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) terpantau menurun, operasi pemadaman dan pencegahan tetap dilakukan secara intensif karena kebakaran masih ditangani di sejumlah lokasi serta asap memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di beberapa wilayah.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 21.02 WIB, kondisi hotspot high confidence tercatat sebanyak 946 hotspot terdeteksi secara nasional, turun 629 titik dibandingkan 29 Agustus 2026, dengan sebaran sebagai berikut Kalimantan Barat: 455 titik; Kalimantan Tengah: 308 titik; Sumatera Selatan: 36 titik.

Kemudian Kalimantan Selatan: 18 titik; Jambi: 1 titik; dan Riau: 0 titik. Data tersebut menunjukkan penurunan hotspot secara nasional, namun konsentrasi titik panas masih cukup tinggi terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Baca juga: Asap Karhutla Makin Berbahaya, Kalbar Paling Kritis, 50.891 Warga Kena ISPA

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi titik panas berdasarkan penginderaan satelit dan tidak selalu berarti kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga seluruh indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan.

Berdasarkan Laporan Ringkasan Operasi Dalkarhut per Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 93 laporan kejadian karhutla di 12 provinsi, dengan 33 lokasi dilaporkan telah padam dan 60 lokasi masih dalam proses pemadaman.

Pada skala provinsi, penanganan terbanyak dilakukan di Kalimantan Tengah sebanyak 21 lokasi, disusul Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi 9 lokasi, Riau 8 lokasi, dan Kalimantan Timur 7 lokasi.

Penanganan juga dilakukan di Sulawesi Tenggara sebanyak 3 lokasi, Sulawesi Selatan 2 lokasi, serta masing-masing satu lokasi di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tengah. Secara kumulatif sepanjang 2026, tercatat 4.801 kali operasi penanganan karhutla dengan luas areal yang ditangani sebesar 38.829,46 hektare.

Tim gabungan terus melakukan penanganan melalui pemadaman darat, water bombing, patroli udara, ground check, serta kegiatan pencegahan dan pengendalian di wilayah prioritas. Operasi melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan para pihak lainnya.

Dukungan operasi udara diperkuat dengan 30 helikopter di Kalimantan dan 22 helikopter di Sumatera untuk mendukung water bombing dan patroli udara. Selain operasi pemadaman, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk mendukung penanganan karhutla.

Kondisi udara di sejumlah wilayah terdampak juga masih menjadi perhatian. Laporan operasi menunjukkan kualitas udara pada sejumlah titik pemantauan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada dalam kondisi bervariasi dari Sedang hingga Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, bahkan Berbahaya.

Baca juga: 155 Titik Api Karhutla Kepung Indonesia, BNPB Tumpahkan 3,8 Juta Liter Air untuk Pemadaman

Dampak asap juga terlihat pada jarak pandang di beberapa bandara. Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin pagi, 31 Agustus 2026, Bandara Supadio, Pontianak, tercatat dalam kondisi berasap dengan jarak pandang 1,3 kilometer pada pukul 08.00 WIB. Di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, kondisi berasap tercatat dengan jarak pandang 1,5 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Di Sumatera, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, tercatat berasap dengan jarak pandang 4 kilometer pada pukul 07.30 WIB, sedangkan Bandara Sultan Thaha, Jambi, mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang 5 kilometer pada pukul 08.00 WIB. Sementara di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, BMKG mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang 3 kilometer pada pukul 09.00 WITA.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa penurunan jumlah hotspot belum berarti risiko karhutla telah berakhir. Pemantauan dan operasi lapangan tetap diperkuat, terutama di wilayah dengan kejadian kebakaran yang masih aktif serta wilayah yang mulai mengalami gangguan asap dan penurunan jarak pandang.

Masyarakat di wilayah terdampak asap diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG, menjaga kesehatan, serta mengurangi aktivitas di luar ruang apabila kondisi udara memburuk. (Tribunnews/Kemenhut)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.